Konten Media Partner

Pegambus Legendaris Gorontalo Tiga Tahun Menahan Sakit

banthayo.idverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 Pegambus tunanetra Risno Ahaya, yang  telah melestarikan seni bertutur itu lewat lebih dari 200 lagu karya ciptaannya. Risno Ahaya yang tinggal di Desa Buhu, Kecamatan Talaga jaya, Kabupaten Gorontalo, tersebut harus berhenti dari aktifitasnya, disebabkan sakit yang dideritanya. Sabtu, (27/7). Foto : Mirna Ahaya/banthayoid
zoom-in-whitePerbesar
Pegambus tunanetra Risno Ahaya, yang telah melestarikan seni bertutur itu lewat lebih dari 200 lagu karya ciptaannya. Risno Ahaya yang tinggal di Desa Buhu, Kecamatan Talaga jaya, Kabupaten Gorontalo, tersebut harus berhenti dari aktifitasnya, disebabkan sakit yang dideritanya. Sabtu, (27/7). Foto : Mirna Ahaya/banthayoid

BANTHAYO.ID,GORONTALO - Matahari begitu terik, saat saya menyusuri lorong di Dusun II, Desa Buhu, Kecamatan Talaga Jaya, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (27/7).

Butuh waktu satu menit saya menyusuri lorong itu. Tibalah saya di rumah berukuran 4 x 5 meter persegi. Rumah itu milik pegambus dan pantun legendaris di Gorontalo. Namanya Risno Ahaya (55).

embed from external kumparan

Tinggal di rumah sederhana, pelestari budaya itu dalam kondisi memprihatinkan. Badannya kurus. Ia duduk di ruang tamu saat saya menyambanginya. Sesekali ia menggumam tak jelas.

Di mata warga Gorontalo, suara dan reputasi lelaki yang tunanetra sejak usia dua tahun ini tak dapat disangkal. Kebolehan seniman alam berusia 35 tahun itu kerap mengisi berbagai acara resmi di tanah kelahirannya. (Foto : Mirna Ahaya/banthayoid)

Menurut istrinya, Astin Yunus (44), Risno sudah tiga tahun dalam kondisi sakit. Sakitnya bermula saat Risno pulang dari undangan warga yang ingin menyaksikan ia memainkan gambus dan pantun.

Astin sudah dua kali membawa Risno ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tombulilato. Hasilnya nihil. Tak ada perubahan yang dialami Risno.

"Dokter mengatakan tak ada penyakit, padahal Risno sering berontak dan teriak. Terpaksa kami harus mengikat tangannya," kata Astin.

Pantun yang didendangkan dia dalam bahasa lokal itu amat akrab dengan kehidupan masyarakat Gorontalo. (Foto : Mirna Ahaya/banthayoid)

Keluarganya juga sering memberikan obat penenang agar Risno tak berontak. Dalam sehari bisa dua kali. Belakangan pemberian obat sudah dihentikan karena kondisi Risno yang mulai diam. Namun kakinya membengkak.

Risno juga tidak lagi mengenal orang-orang di sekitarnya. Bahkan istrinya sendiri. Kini, tulang punggung keluarga itu tak mampu lagi mencari nafkah.

Dahulu, sebelum Risno sakit, ia bisa mencukupi kebutuhan keluarga dari memainkan gambus di pasar dan menghadiri undangan warga. Kini, tinggal istrinya yang harus banting tulang. Astin, sesekali mencuci pakaian tetangga. Upah itu yang dipakai untuk kebutuhan harian.

Sejak mengalami sakit, masyarakat tak bisa lagi menikmati Petikan alat musik gambus dan lantunan vokal berisi syair tentang kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari cinta, lelucon, kritik sosial, hingga dendang religius, yang di dendangkan Risno Ahaya. (Foto : Mirna Ahaya/banthayoid)

Rinso dan Astin memiliki empat orang anak. Tiga sudah menikah. Satu lagi masih duduk di bangku sekolah. Si bungsu terpaksa dititipkan kepada orang lain karena Astin tak sanggup lagi membiayai anaknya.

Sementara itu, Hasan (26) warga sekitar merasa prihatin dengan kondisi Risno.

"Kami ingin membantu. Kami juga berharap ada pemerintah yang ikut membantu," imbuhnya.

----

Reporter : Rahmat Ali, Mirna Ahaya

Editor : Febriandy Abidin