Konten Media Partner

Titik Nol Kilometer Gorontalo Terabaikan

banthayo.idverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Titik Kilometer Nol (KM 0) merupakan penanda geografis sebuah tempat. Senin, (20/1). Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)
zoom-in-whitePerbesar
Titik Kilometer Nol (KM 0) merupakan penanda geografis sebuah tempat. Senin, (20/1). Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

BANTHAYO.ID, GORONTALO - Titik Kilometer Nol (KM 0) merupakan penanda geografis sebuah tempat. Titik ini menjadi patokan jarak sebuah daerah dengan daerah lainnya. Di kota-kota besar, KM 0 yang menjadi pusat kota ditandai dengan membangun monumen atau tugu besar. Beberapa bahkan membuat taman mini. Sehingga menjadi landmark kota dan jadi tujuan wisata.

Untuk para pelancong, titik KM 0 menjadi sebuah tempat yang harus dikunjungi dan dijadikan tempat berfoto. Tentu, tujuannya untuk menandai dirinya pernah ke daerah tersebut. Namun di Kota Gorontalo, di manakah titik KM 0 ini?

Tidak seperti kota-kota besar lainnya, titik KM 0 Gorontalo ternyata tidak ditandai dengan tugu besar yang bisa dikenali oleh orang-orang yang melewatinya. Oleh karena itu, tidak banyak yang tahu titik ini karena letaknya tidak begitu kentara sebagai spot penting di pusat kota. Penandanya hanya setinggi setengah meter. Beton itu dicat kuning dan terletak di bibir trotoar di Jalan Ahmad Yani Kota Gorontalo.

Titik ini menjadi patokan jarak sebuah daerah dengan daerah lainnya. Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

Di patok beton ini tertulis GTO 0, yang merupakan nama daerah Gorontalo yang disingkat. Posisinya berada di 0 derajat lintang utara, dan 123 bujur timur. Patok beton ini tepat berada di sudut bangunan kantor polisi militer. Bangunan itu dahulunya dimiliki oleh petinggi Belanda yang bernama Kooper.

Di depan titik GTO 0 ini, terdapat sebuah rumah Dinas Gubernur Gorontalo. Sebuah bekas rumah Dinas Asisten Residen Pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan di sisi selatannya berdiri sebuah kantor Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Gorontalo kota. Di seberangnya lagi ada Lapangan Taruna Remaja. Di sana berdiri patung Nani Wartabone. Patung pahlawan Nasional ini berdiri gagah, tangannya menunjuk ke sebuah tempat, yang mengarah ke titik nol kilometer Gorontalo.

Walaupun begitu, posisi titik nol kilometer Gorontalo ini sebenarnya terletak di kawasan wisata sejarah. Karena titik ini berada di kawasan Kota Tua Gorontalo. Sebuah kota yang merupakan pusat pemerintahan di masa kolonial. Tidak heran, sejumlah bangunan tua terlihat di kawasan ini.

Beton itu dicat kuning dan terletak di bibir trotoar di Jalan Ahmad Yani Kota Gorontalo. Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

Kota tua sendiri telah dipetakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCP) pada 2017. Wilayahnya terbentang dari pusat Kota Gorontalo, di sekitar Lapangan Taruna Remaja, hingga Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Di sepanjang kawasan itu sebagian besar bangunan peninggalan zaman kolonial masih berdiri kokoh.

Tahun 1894, Gorontalo secara resmi menjadi ibu kota “afdeeling” oleh Hindia Belanda dan di sekitar wilayah titik nol kilometer ini, pusat kegiatan pemerintahan, pendidikan, permukiman dan perdagangan dilakukan. Afdeeling adalah sebutan untuk bagian dari suatu keresidenan dan merupakan wilayah administrasi pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Setingkat kabupaten dengan administratornya dipegang oleh seorang asisten residen. Asisten residen ini yang menempati bangunan yang saat ini dijadikan sebagai rumah Dinas Gubernur Gorontalo.

Harapan Bagi Pemerintah

Kota tua sendiri telah dipetakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCP) pada 2017. Foto: Dok istimewa

Tidak sulit menemukan titik nol kilometer Gorontalo. Dengan aplikasi peta daring, cukup dengan mengetikan kata kunci “KM. 0 Gorontalo”, tempatnya akan langsung ketemu. Atau dengan memosisikan aplikasi peta di wilayah Taruna Remaja, akan ada petunjuk lokasi ini.

Marwan Mohammad adalah salah satu masyarakat yang menambahkan titik ini di google maps. Selain itu, ia juga membuatkan grup Facebook yang dinamai “Kilometer Nol Indonesia”.

“Ya, minimal kita tahu bahwa memang ada titik nol kilometer di Kota Gorontalo ini. Karena itu adalah titik penting untuk diketahui masyarakat,” ungkapnya, Senin (20/1).

Marwan merasa bahwa titik ini seharusnya diperhatikan. Karena setiap wisatawan yang datang pasti akan mencarinya. Ia pun mengungkapkan bahwa untuk memperindah itu tidak harus membangun bangunan besar kalau memang tidak ada anggaran untuk itu.

Di sepanjang kawasan itu sebagian besar bangunan peninggalan zaman kolonial masih berdiri kokoh. Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

“Ya, cukup saja dicat dan diperindah saja. Karena kondisi penandanya kan lihat saja. Sudah tidak enak dilihat begitu,” pungkasnya.

Arif Wahyu, pelancong asal Yogyakarta yang sudah lima hari di Gorontalo mengungkapkan kekecewaannya ketika melihat kenyataan titik nol kilometer di Gorontalo. Pasalnya ia memang suka mengoleksi foto-foto berada di spot nol kilometer setiap kota. Baginya, itu menjadi semacam keasyikan sendiri. Ia mengunggah foto-foto spot nol kilometer di setiap kota yang ia datangi di sosial medianya. Sehingga, saat nol kilometernya Gorontalo hanya berupa patok kecil, maka ia akan mempertimbangkan untuk diunggah dalam sosial medianya.

“Saya suka, di setiap kota titik nol kilometer itu ditandai dengan bangunan unik. Saya suka berfoto di tempat-tempat semacam itu. Tapi di sini (Gorontalo), kayaknya saya harus memilih tempat lain untuk menandai saya pernah ke daerah ini,” ungkapnya.

Ia menuturkan bahwa tidak ada orang-orang yang bisa menjelaskan kepadanya tentang sejarah penempatan titik kilometer nol. Beberapa orang yang ia tanya malah tidak tahu letaknya titik ini.

Afdeeling adalah sebutan untuk bagian dari suatu keresidenan dan merupakan wilayah administrasi pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

“Saya kemarin tanya-tanya ke orang soal titik ini. Dan ternyata mereka tidak tahu loh. Saya baru kasih tahu kalau posisinya kira-kira sekitar Lapangan Taruna Remaja. Dan mereka malah kaget. Saya pun kaget karena mereka kaget,” ungkapnya sambil tertawa.

Arif mengatakan bahwa memang titik semacam ini luput dari perhatian masyarakat. Padahal kalau mau diseriusi, tentu akan jadi salah satu spot bagus. Apalagi untuk para pelancong yang datang, pasti yang dicari tempat-tempat bersejarah seperti itu. Sehingga jika memang bisa, ia berharap pemerintah mau membenahi titik kilometer Gorontalo ini.

Asisten residen ini yang menempati bangunan yang saat ini dijadikan sebagai rumah Dinas Gubernur Gorontalo. Foto: Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)

“Ya diapakan ke. Bikinkan tugu yang sedikit lebih besar ke. Ditulis lalu dicat. Supaya kita itu tahu bahwa tempat-tempat kecil semacam ini juga sangat disukai oleh para pelancong,” harapnya.

----

Reporter: Wawan Akuba