Konten Media Partner

Video: Kisah Mualaf Hidup Mengembara di Telaga Puncak, Gorontalo

banthayo.idverified-green

ยทwaktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fransisco Yakob Natari, petani gula aren di Desa Dulamayo Selatan, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Selasa, (4/10). Foto: Dok banthayo
zoom-in-whitePerbesar
Fransisco Yakob Natari, petani gula aren di Desa Dulamayo Selatan, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Selasa, (4/10). Foto: Dok banthayo

Gorontalo- Fransisco Yakob Natari, adalah petani gula aren yang menempati sebuah rumah kecil yang dibangun dari kayu dan bambu. Fransisco yang biasa disapa Ungke ini adalah seorang Mualaf.

Pria asal Minahasa Utara itu setiap hari mengembara mencari gula aren. Foto: Dok banthayo
zoom-in-whitePerbesar
Pria asal Minahasa Utara itu setiap hari mengembara mencari gula aren. Foto: Dok banthayo

Pria asal Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara memilki istri bernama Lilan Hasan. Pasutri yang hidup sederhana di Desa Dulamayo Selatan, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo tersebut, juga telah dikaruniai dua orang putri.

Fransisco saat ditemui Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Gorontalo, Haris Suparto Tome (tengah) di tempat ia membuat gula aren. Foto: Dok banthayo

Ungke yang memiliki darah Sangir, memeluk Agama Islam saat mempersunting istrinya beberapa tahun silam. Perjuangan menjadi seorang Mualaf tidaklah mudah. Ditambah himpitan ekonomi yang terus menggerogoti.

Fransisco yang murah senyum itu sering dipanggil Ungke. Foto: Dok banthayo

Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, Ungke bangkit dan terus berjuang demi menafkahi keluarga tercintanya.

Simak kisah selengkapnya di video berikut:

embed from external kumparan