Banyak Membaca untuk Sukses, Sedikit Membaca untuk Memahami Sesama

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak orang mengukur kecerdasan dari jumlah buku yang berhasil dibaca setiap tahun. Bacaannya berat, muali dari buku bisnis, kepemimpinan, investasi, produktivitas, dan pengembangan diri. Rak bukunya penuh. Semua bacaannya bermanfaat karena membantu dirinya untuk memahami cara mencapai tujuan dan meningkatkan kemampuan diri. Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan: mengapa sebagian orang yang sangat rajin membaca buku tetap kesulitan memahami perasaan, pergulatan, dan sudut pandang manusia lain? Di sinilah letak kekosongan yang sering tidak disadari pembaca buku.
Salah satu penyebabnya adalah karena banyak bacaan yang berfokus pada egoisme, orientasinya hanya hasil, strategi, dan pencapaian. Tapi tidak cukup mengajak pembacanya masuk ke dalam kehidupan manusia yang penuh konflik, kelemahan, kehilangan, dan harapan. Berbeda dengan buku-buku sastra. Novel, cerpen, dan karya sastra selalu mengajak kita hidup sejenak dalam pikiran orang lain. Kita belajar memahami tokoh yang gagal, terluka, miskin, kesepian, atau bahkan membuat kesalahan. Sastra melatih empati, yaitu kemampuan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda dari diri kita sendiri.
Contoh nyata dapat dilihat di lingkungan kerja. Seorang manajer mungkin telah membaca banyak buku kepemimpinan dan manajemen. Ia memahami teori motivasi, target kinerja, dan strategi bisnis. Namun ketika ada karyawan yang performanya menurun karena masalah keluarga, ia langsung menilainya sebagai pegawai yang tidak profesional. Sebaliknya, pemimpin yang memiliki empati akan berusaha memahami latar belakang masalah orang lain sebelum mengambil keputusan. Pengetahuan membantu mengelola pekerjaan, tetapi pemahaman terhadap manusia membantu mengelola hubungan.
Seseorang yang gemar membaca buku finansial mungkin sangat terampil mengatur uang dan berinvestasi. Namun ketika melihat tetangganya yang masih kesulitan ekonomi, ia mudah menghakimi dengan mengatakan bahwa orang tersebut malas atau tidak memiliki perencanaan. Padahal kenyataannya bisa jauh lebih kompleks: ada yang harus merawat orang tua sakit, membiayai pendidikan saudara, atau menghadapi musibah yang tidak terlihat dari luar. Di situlah bedanya, buku sastra justru mengajarkan bahwa setiap manusia membawa cerita yang tidak selalu tampak di permukaan.
Karena itu, membaca seharusnya tidak hanya membuat kita lebih pintar. Tapi juga lebih manusiawi. Buku-buku pengetahuan mengajarkan cara memahami dunia, sedangkan sastra mengajarkan cara memahami manusia yang hidup di dalam dunia tersebut. Ketika keduanya berjalan seimbang, seseorang tidak hanya memiliki wawasan yang luas, tetapi juga hati yang mampu menghargai perbedaan, memahami kelemahan orang lain, dan melihat kehidupan dengan lebih bijaksana. Sebab tujuan tertinggi membaca bukan hanya menambah isi kepala, melainkan juga memperluas ruang di dalam hati.
Hari ini, bisa jadi banyak orang rajin baca buku. Tapi tetap sulit memahami dan menghargai orang lain? Banyak orang bangga karena membaca puluhan buku. Namun ada satu rak yang sengaja dihindari yaitu sastra. Akhirnya, saat sastra ditinggalkan, pengetahuan bertambah tapi kedewasaan emosional sering kali tertinggal. Kita sering lupa, membaca juga untuk menghargai orang lain.
Membaca buku, bukan hanya untuk pintar. Tapi mampu menjadi manusia yang punya hati. Salam literasi!
