“DANDANG DUMPIL” Karnaval & Pawai Budaya Pelajar Rogojampi Banyuwangi
Tulisan dari BANYUWANGI CONNECT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karnaval pelajar yang dikemas dalam Pawai Budaya dalam rangka memperingati HUT RI Ke-74 Tahun 2019 diikuti sekolah-sekolah tingkat SMP, SMA dan SMK Negeri- swasta Se Kecamatan Rogojampi Banyuwangi, Selasa (20/8/2019).
Ratusan peserta Pawai budaya mampu menghiptonis ribuan penoton disepanjang jalan dengan start di depan kantor desa Lemahbang Dewo dan finish di jalur jalan Propinsi depan Toko Sinar Fresh, bermacam macam kreasi seni, tradisi dan budaya di tampilkan.
Salah satu barisan siswa – siswi se Kecamatan Rogojampi dalam mengikuti acara pawai budaya memeriahkan HUT RI Ke 74 tahun 2019 adalah SMPN 2 Rogojampi, dengan membawa tema SDM Unggul Indonesia maju dan sub tema mengangkat kearifan lokal desa Karangbendo tempat domisili SMPN 2 Rogojampi , yaitu : Ider Bumi ' Dandang Dumpil '
Dalam pawai budaya ini 150 murid SMPN 2 Rogojampi menampilkan beragam kreasi seni budaya, seperti Gandrung, Seblang dan BEC, Lancing-Prawan Dandang Dumpil, dibelakang juga ada barisan para petani yang mengarak tumpek raksasa berisi bermacam-macam hasil pertaniannya.
Yang menarik begitu delapan putri dandang dumpil performa di depan panggung kehormatan Rogojampi dan tamu undangan lainnya. Mereka yang tampil didepan panggung kehormatan adalah para penari dan pemusik yang akan berlomba mewakili Banyuwangi di Surabaya minggu depan. Fragmen tari ini mampu mengundang decak kagum tamu undangan dan ratusan mata pengunjung yang berjajar didepan jalan utama depan kecamatan Rogojampi.
Adapun sekilas sejarah DANDANG DUMPIL.
( sinopsis pawai budaya SMPN 2 Rogojampi )
Dandang Dumpil, kegiatan 'nguri-uri' ritual adat budaya leluhur desa Karangbendo Kecamatan Rogojampi
Asal – muasal yang nguri-uri budaya dandang dumpil adalah Mbah Madiran, konon waktu penjajahan Jepang rakyat Karangsari nama desa sebelum berubah menjadi Karangbendo kekurangan sandang dan pangan karena rakyat bekerja keras di lahan-lahan pertanian dan perkebunan tapi ketika panen penjajah Jepang lah yang merampas hasil panennya, sehingga rakyat amat menderita hidup serba kekurangan. Tanpa sepengetahuan Jepang, Mbah Madiran membagikan bahan pokok makanan sehari-hari dengan berkeliling kampung Karangbendo dengan istilah ‘ dum-dum masio sak opil ‘ , sebagai maksud berbagi meskipun sedikit kepada sesama warga yang memang hidup dibawah tekanan penjajah Jepang dan rakyat hidup serba kekurangan, yang menjadi prioritas adalah rumah-rumah warga yang dandang nya 'mengkureb’ (menghadap kebawah) sebagai pertanda bahwa memang kehidupan warga kurang makmur.
Kegiatan ini dikemas dengan semacam kirab budaya dengan hasil pertanian warga Karangbendo yang mayoritas diletakkan di dalam dandang-dandang tembaga yang dibawa para muda-mudi yang berpakaian adat beraneka ragam budaya tradisional dan modern.
Kepala Sekolah SMPN 2 Rogojampi, Handono Tri Widodo , mengatakan untuk tahun ini 150 siswa-siswi dilibatkan dalam pawai budaya memeriahkan HUT RI Ke 74. Handono juga berharap dengan kegiatan ini sebagai wujud untuk mendukung kreasi siswa dan untuk mencetak SDM Unggul Indonsia Maju, Selain itu juga untuk memberikan motifasi kepada siswa untuk terus berkreasi dalam meraih prestasi.
“SMPN 2 Rogojampi juga telah meraih beberapa kejuaraan dalam rangka HUT RI ke 74 tingkat kecamatan Rogojampi seperti lari gembira, catur, gerak jalan, MTQ dan berhasil mengawinkan dua gelar Kreatifitas Tari dan Musik Tradisi dalam even FLS2N se Kabupaten Banyuwangi dan akhir bulan 26-27 Agustus 2019 nanti akan berkompetisi ditingkat Propinsi Jawa Timur di Surabaya, tambah Handono. SMPN 2 Rogojampi masih diperhitungkan menjadi yang unggul dari lima penyaji terbaik tingkat SMP, penyaji terbaik lainnya adalah SMPN 1 Rogojampi, SMPN 3 Rogojampi , Mts NU Rogojampi dan Mts N Cangkring Rogojampi. Sedangkan untuk tingkat SMA / SMK adalah lima penyaji terbaiknya adalah SMA N 1 Rogojampi, SMK PGRI Rogojampi, SMK NU Rogojampi , SMK Muhammadiyah Rogojampi dan MA Rogojampi.(KRTH.ILHAM/BTD)

