Konten dari Pengguna

Gedung Bioskop Banyuwangi Era Kolonial Belanda

BANYUWANGI CONNECT

BANYUWANGI CONNECTverified-green

membacalah walau sebentar

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari BANYUWANGI CONNECT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gedung bioskop masa kolonial Belanda di Banyuwangi kala itu ada dua, yaitu:

- Societeit de Club Bioscoop di Kepatihan, milik orang Eropa W.C.H Toewater.

- Srikandi Bioscoop yang terletak di selatan Masjid Jami’ Baiturrohman milik warga pribumi M.A Edris

Foto Societeit de Club Bioscoop

Societeit de Club termasuk bioskop elit yang penontonya adalah golongan orang-orang Belanda dan ras kulit putih murni yang datang dari Eropa. Dalam struktur pengelompokan ala kolonial, mereka disebut warga kelas satu. Film yang di putar adalah film Jerman dan Hollywood dengan terjemahan teks Bahasa Belanda. Gedung Society yang terletak di utara Taman Blambangan, di samping sebagai bioskop juga berfungsi sebagai tempat bersosialisasi dengan menampilkan berbagai hiburan dan permainan. Di antaranya adalah permainan billiard (bola sodok). Di jaman Belanda juga digunakan untuk penyambutan tamu-tamu penting, rombongan Mangkoenegoro dijamu di Gedung societeit ini. masyarakat menyebut dengan nama Kamar Bola atau Gedung Juang 45 saat ini.

Foto Srikandi Bioscoop

Bioskop Srikandi terletak di selatan Masjid Jami’ Baiturrohman. Di sana sering memutar film Melayu dan Mandarin dengan terjemahan Bahasa Melayu dan Mandarin (kuo yu). Film ini disukai oleh masyarakat Tionghoa peranakan dan masyarakat pribumi. Film melayu yang sangat disukai kala itu adalah Terang Boelan (1937), Alang alang, Gagak Hitam (1939), Dasima, Kris Mataram, dan Melati Van Agam(1940).