Konten dari Pengguna

JH. BEHRNS MULTATULI DARI BUMI BLAMBANGAN YANG IKUT MERINTIS KEMERDEKAAN RI.

BANYUWANGI CONNECT

BANYUWANGI CONNECTverified-green

membacalah walau sebentar

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari BANYUWANGI CONNECT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

JH. BEHRNS MULTATULI DARI BUMI BLAMBANGAN YANG IKUT MERINTIS KEMERDEKAAN RI.
zoom-in-whitePerbesar

Joanes Henricus Behrns (1863-1944)

MISTER Joanes Henricus Behrns (JH Behrns) yang lahir di Franeker Belanda pada tanggal 23 Agustus 1863, merupakan salah seorang perintis kemerdekaan Indonesia yang berjuang di Blambangan. Sejumlah tokoh perintis kemerdekaan dari Jakarta sering berhubungan dengan Mister JH Behrns yang bertempat tinggal di Desa Penataban, yang sekarang dipergunakan untuk STM PGRI.

Tokoh-tokoh perintis kemerdekaan yang pernah berkunjung ke rumahnya antara lain Sutarjo Kartohadikusuma (anggota Volks- raad; semacam parlemen yang diangkat Pemerintah Hindia Belanda sebagai wakil rakyat pribumi). Sutarjo Kartohadikusuma ter kenal namanya dengan Mosi Soetardjo, yang menuntut Indonesia merdeka di tahun 1940. Tetapi mosi itu ditolak oleh kerajaan Belanda.

Perintis kemnerdekaan yang lain, yang pernah berkunjung ke rumah Mister JH Behrns adalah Profesor Iwa Kusuma Sumantri, R Soenardjo, Marjun Wirahadikusuma, Mister Kusuma Atmaja, M Husni Thamrin (anggota Volksraad dari Betawi), P Panji Soeroso, Dr Subroto dan Dr Soetomo dari Surabaya.

Sebagai seorang yang berpandangan revolusioner dan menilai setiap orang punya hak yang sama, maka Mister JH Behrns yang berkedudukan sebagai pengusaha perkebunan membutuhkan seorang pegawai yang bisa membaca dan menulis, yang ketika itu sangat langka. Terutama di kalangan penduduk Banyuwangi yang masih sangat curiga dengan Belanda. Maka seorang pemuda dari Sangihe Talaut bernama Herman Pasandaran memanfaatkan kesempatan emas itu.

JH. BEHRNS MULTATULI DARI BUMI BLAMBANGAN YANG IKUT MERINTIS KEMERDEKAAN RI. (1)
zoom-in-whitePerbesar

Istri JH.Behrns Bernama Halimah yang berasal dari Malang

Sudah menjadi kebiasaan di jaman itu, pendatang yang bertempat dan bekerja di suatu wilayah selalu mengawini perempuan pribumi sebagai istrinya. Mister JH Behrns beristri dengan Halimah yang berasal dari Malang, sedang Herman Pasandaran dikawinkan dengan Asmiati yang konon asli wong Using.

Berhubung kegiatan Mister JH Behrns lebih menonjol pada perjuangan dengan se jumlah kawan seperjuanganya dari penjuru Nusantara, maka pemerintah Hindia Belanda berusaha menyingkirkan Mister JH Behrns dari kegiatan usaha.

Kedudukannya sebagai pengusaha perkebunan digantikan oleh David Bernie, baik di perkebunan yang berada di Sawojajar, Glenmore maupun yang di Krikilan. Sedang JH Behrns masih tetap berada di Penataban bersama dengan istri dan anak- anak angkatnya yang bernama Serat, paino dan Saelah. Meskipun Mister JH Behrns tidak lagi sebagai pengusaha perkebunan, tetapi perjuangannya sebagai perintis kemerdekaan terus berlanjut dengan mendirikan semacam yayasan dengan nama Blambangan Fonds.

Yayasan itu bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada para pemuda pribumi menikmati pendidikan di Perguruan Tinggi di Hindia Belanda dengan memberikan tunjangan beasiswa, baik putra maupun putri dengan pertimbangan mereka memiliki kemampuan dan kemauan. Tentang yayasan itu, tidak banyak orang yang tahu, sebab keburu terjadi perang kedua. Bala tentara Jepang menduduki Indonesia dan Mister JH Behrns ditangkap Jepang dan dibawa ke Malang yang akhimya meninggal di Se marang pada tahun 1944.

Sebagai seorang perintis kemerdekaan, JH Behrns banyak membantu perjuangan bangsa Indonesia. Antara lain membantu per¬juangan Drs Soetomo mendirikan gedung Nasional di J1 Bubutan Surabaya. Ikut membantu melobi pemerintah Hindia Be- landa di Banyuwangi untuk menyerahkan sebidang tanah di Desa Penataban untuk di- jadikan tendon air dari get door (saat ini dikenal dengan nama sumber mata air Gedor, red.) untuk pendistribusian air minum di kota Banyuwangi.

Maka lengkaplah perjuangan rakyat Blambangan, sejak perang Bayu pada tanggal 18 Desember 1771 sampai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, melahirkan seorang tokoh pejuang yang sama dengan Dr Eduard Douwes Dekker di Kabupaten Lebak yang kemudian dikenal dengan nama Multatuli, yang telah menulis Max Havelar. (*Hasnan S@btd*)