Keadaan Penduduk Blambangan Pada Tahun 1800an

membacalah walau sebentar
Tulisan dari BANYUWANGI CONNECT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Laporan Dr.F.EPP Tentang Banyuwangi Tahun 1849
Pada jaman dahulu penduduk Blambangan lebih banyak, diperkirakan sekitar 60.000 jiwa, Banyak yang meninggal dalam peperangan dengan kompeni. Sekarang jumlah penduduknya sekitar 28.000 jiwa. Tetapi tiap tahun penduduknya terus bertambah.
Orang orang Blambangan adalah penduduk asli yang paling banyak Jumlahnya dan tergolong Rajin Mengarap sawahnya, Mereka berhati Baik, Manusia Manusia Alam yang belum rusak, Sangat tabah dalam menjalani kehidupan dan mereka masih sangat percaya pada Tahayul.
Perawakan mereka sangat baik,tidak terlalu hitam warna kulitnya dan sangat jarang mengalami cacat oleh penyakit. Diantara 100 wanita, lebih banyak ditemukan yang cantik daripada yang Jelek. Terbalik dengan daerah pedesaanya, Masih ada yang terkena penyakit yang menyerang penduduk pedesaan. Penyakit yang banyak menyerang adalah Sakit Perut ada juga penyakit Lepra tapi sangat Jarang. Penyakit Spilis disini tidak ada dan tidak dikenal, Secara Garis Besar Keadaanya cukup Baik dan Sehat.
Orang berprasangka Orang Jawa bersifat Malas,Tetapi penduduk Blambangan Sangat jauh berbeda, mereka giat bekerja dengan membangun Jalan jalan, menanam di kebun kopi dan mengolah tanah pertaniah dengan baik. Banyak yang heran dengan semangat kerja mereka dimana sangat jarang ditemukan bangsa bangsa yang melebihi mereka. Nafsu untuk memiliki kekayaan tidak tertanam dalam diri mereka. Tidak lebih hanya yang mereka butuhkan yang mereka ambil, panen mereka di bawa ke pasar untuk di tukarkan dengan barang keperluanya. Kelebihan mereka belikan perhisan emas, lemari kaca untuk bersolek untuk kepuasan mereka.
Penghasiln mereka mengandalkan dari sawah pertanian, Tapi ada juga yang agak malas untuk mengarapnya sawahnya dengan bekerja mencari akar akar pohon liar dan sagu di hutan, daripada menanam padi di sawahnya.
Kampung kampunyanya disini sangat bersih di tananami dengan teratur dan baik. Rumah mereka terbuat dari bambu dengan atap terbuat dari rumput kering atau atap dari bambu yang di belah dua atau dari batang batangnya pohon pinang, kebanyakan rumahnya di kelilingi dengan pagar dan setiap rumahnya di lengkapi dengan lumbung. Penataanya rumah mereka terdiri dari alat2 pertanian, Pakaian dan hiasan hiasan mereka sama dengan orang jawa lainya, begitu pula dengan kesenian penduduknya. Alat musiknya sangat sederhana, perangkat gamelan yang besar tidak terlihat disini.
Sejak Banyuwangi Batasnya tidak sampai kalitikus, tetapi sampai Bajulmati, maka jumlah orang Madura tinggal sedikit, sebagai pendatang mereka kurang di sukai karena sering berbuat onar, sifat saling balas dendam, pembunuhan, perampokan antar mereka setiap hari ada. Penduduk banyuwangi sangat cinta damai dan bahkan orang bali disini berlaku baik sebagai petani, Dahulu orang Madura sangat di sukai disini.
ORANG BALI.
Orang bali di banyuwangi menempati sebuah kampung kecil yang kotor, mereka di bawah pimpinan seorang Gusti. Mereka adalah seorang pelarian dari bali yang tinggal di banyuwangi, Agama mereka dan kebiasaan mereka menjadikan mereka kurang berkumpul dengan orang jawa,di depan rumah mereka terdapat sebuah rumah dewa, dimana mereka setiap harinya meletakan sajen di situ, Sekarang sedang di bangun sebuah candi di kampung ini, mereka pengemar pakaian warna warni yang cerah dan juga suka adu ayam, mereka sangat miskin.
ORANG MADURA
Rumah orang Madura susunanya sangat berbeda dengan rumah orang jawa disini, Rumahnya luas, dikerjakan dengan jendela jendela dengan pintu yang sempit berbentuk kerucut dan rumahnya berdiri di atas tiang yang tinggi di atas tanah,
ORANG MANDAR
Orang mandar tidak suka bertani melainkan menjadi Nelayan, mereka kadang malas untuk bekerja, Suka bermain judi dan mempunyai sifat balas Dendam, Orang Mandar Berasal dari Sulawesi [Celebes] beragama Islam, Pimpinan mereka memakai Titel Nama Kapitein
ORANG CINA
Orang Cina Menempati di ibukotanya, Satu kampung yang paling tidak terlihat di sepanjang pantai, dikelilingi oleh rawa rawa, rumah mereka kecil dan pengap, terbuat dari batu ,kayu dan bambu. Mereka bekerja menjadi Nelayan dan Pedagang kecil, mereka terlihat dalam kelompok kecil. Kelenteng mereka dan patung di dalamnya adalah yang tertua di jawa, bahkan tercatat dalam jaman sebelum kedatangan bangsa Eropa dan dapat dinamakan seperti lentera di Roma. Pimpinan mereka memakai Titel Nama Kapitein Cina
ORANG ARAB
Orang arab Atau Moor, disini dalam jumlah sedikit begitu juga keturunanya dari bangsa Eropa. Bagi para wanita mungkin tidak ada harapan untuk menikah, Karena lelaki Muda sangat Kekurangan, Keluarga yang sedikit itu Bekerja sebagai Juru Tulis.
Untuk Menambah penduduk, Telah berkali kali di datangkan dari orang orang bali, Tapi dari pengalaman sebelumnya mereka sering pulang lagi ke bali [wers-BTD] Sumber@buku koleksi Btd -Tulisan tangan dari Bpk.Pitoyo
Video Slide Show Sisa Sisa Reruntuhan Kerajaan Macan Putih
