Melacak Sang Minakjinggo Part 4 [HABIS]

membacalah walau sebentar
Tulisan dari BANYUWANGI CONNECT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
MEMBERONTAK KEPADA MAJAPAHIT
![Melacak Sang Minakjinggo Part 4 [HABIS]](https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,f_auto,q_auto:best,w_640/v1506276850/Serat_damarwulanpng_Page187_n5arth.png)
Ilustrasi di buku serat Damarwulan
Saat ini kita tidak melanjutkan pembahasan tentang putera Hayam Wuruk yaitu Kebo Mancuet atau yang nama lengkapnya Bhre Wirabhumi (kedua) Aji Rajanatha Dyah Kebo Mercuet itu, namun yang sedang kita lacak adalah siapa yang memberontak kepada Majapahit.
Raden Gajah Narapati alias Menak Jinggo, dialah yang mengobarkan perang Banger tahun 1433 karena lamarannya terhadap Kenconowungu ditolak.Saat itu Majapahit menggelar sayembara (kedua) dan tampillah Damarwulan mengalahkan Menak Jinggo.
Damarwulan adalah putera dari Prabu Wikramawardhana Dyah Gagak Sali dengan selirnya Dyah Aniswari (puteri dari Bhre Wirabhumi Aji Rajanatha Dyah Kebo Mercuet). Setelah mengalahkan Menak Jinggo dia tidak menikah dengan Kenconowungu yang merupakan kakak tiri (beda ibu) dengannya itu. Dia diangkat menjadi raja di Palembang.Sejarah mencatatnya sebagai Arya Damar atau Arya Dilah.
Semangat perjuangan Menak Jinggo itulah yang kemudian oleh masyarakat Banger/Probolinggo diabadikan sebagai nama supporter bola mereka. The Lasminggo (Laskar Menak Jinggo) pendukung Persipro (Persatuan Sepakbola Probolinggo).
Menak Jinggo tidak pernah disebut dalam fakta sejarah berdasarkan Prasasti, yang ada justru Sang Muggwing Jinggan yang artinya ‘penguasa di Jinggan’ yaitu sebuah daerah di wilayah Keling/Kediri.Sang Muggwing Jinggan ini adalah gelar dari Pangeran Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya yang memberontak pada pemerintahan Prabu Singhawikramawardhana Dyah Suraprabhawa di Majapahit tahun 1478.Jadi sebutan bahwa Penguasa Jinggan adalah pemberontak itu lebih tepat disematkan pada tokoh Dyah Samarawijaya ini.
DIKAITKAN DENGAN BLAMBANGAN
Dari ketiga sumber diatas, baik Bhre Wirabhumi (kedua) Aji Rajanatha Dyah Kebo Mercuet,dan Bhre Wirabhumi (ketiga)Jaka Umbaran/Raden Gajah Narapati/Menak Jinggo, maupun Dyah Samarawijaya (Sang Muggwing Jinggan), jelas bahwa ketiganya tidak ada yang berkuasa di Ujung Timur Jawa. Lalu bagaimana bisa Menak Jinggo kemudian dianggap sebagai Raja Blambangan?
Untuk memutus mata rantai sejarah yang akan diwariskan pada generasi yang akan datang, kompeni memang sengaja memerintahkan tangan-tangan lokal-nya untuk menulis ulang dan menyebarkan sejarah Blambangan yang baru versi mereka. Maka dari itu muncullah kisah-kisah kontroversial tentang Blambangan, dimana ciri khasnya adalah menjadikan Blambangan selalu pada posisi sebagai objek dan cenderung antagonis dalam sejarah daerah-daerah lain yang hanya dibahas secara sekilas.
Pada saat Kompeni memerintahkan penulisan legenda Damarwulan vs Menak Jinggo ini, menjadi Serat Kanda atau Serat Damarwulan, yang berkuasa di Blambangan saat itu adalah Pangeran Mas Sepuh alias Pangeran Jingga Danuningrat (1736-1764). Semua mafhum bahwa selama ini kompeni selalu menerapkan politik devidet et impera kepada lawan-lawannya, termasuk kedua tulisan itu juga digunakan untuk mengadudomba antara Jawa dengan Blambangan. Antara orang-orang Mataraman dengan orang-orang Blambangan.Karena itu kemudian kompeni mendeskreditkan penguasa Blambangan dengan tuduhan dan hinaan sebagai seorang raja raksasa tak bermoral berkepala Anjing, kakinya pincang, bicaranya cadel, dan buruk rupa.Pangeran Jingga Danuningrat dituduh sebagai keturunan Bali yang tak berhak berkuasa di ujung timur Jawa.Pangeran Jingga Danuningrat dituduh keturunan dari pemberontak.Dan Pangeran Jingga Danuningrat dituduh dengan berbagai macam tuduhan yang sangat tidak manusiawi. Kemudian namanya dikait-kaitkan dengan istilah Jinggan dan Jinggo untuk menguatkan kesan kebenaran cerita dalam Serat Kandha atau Serat Damarwulan, bahwa Pangeran Mas Sepuh alias Pangeran Jingga Danuningerat Raja Blambangan yang sedang berkuasa saat mitos ini ditulis adalah sama dengan tokoh Menak Jingga.
BeredarnyaSerat Damarwulantentu semakin menyudutkan penduduk dan para pejuang Blambangan dalam Perang Bayu 1771-1772 agar kian terpinggir dan dibenci sekaligus ditakuti karena dianggap bukan keturunan manusia.
Adipati Mangkunegara IV, Raden Mas Sudira, yang berkuasa tahun 1853-1881 diperintahkan untuk membuat sendratari dengan lakon Damarwulan Menak Jinggo. Setelah Adipati Mangkunegara IV mangkat tahun 1881, Belanda menempatkan salah satu puteranya yg bernama Harya Suganda menjadi Bupati Banyuwangi keenam (1881-1888) agar proses penyebaran cerita MENAK JINGGO itu lebih maksimal.
Babad-babad tersebut kemudian sengaja banyak diedarkan pada abad 18 dan 19.Cerita-cerita tutur dibuat dan disebarkan melalui para pendongeng keliling yang dibiayai oleh pihak kompeni.Setelah Generasi saksi mata banyak yang meninggal, maka muncullah generasi-generasi yang hanya mendengar cerita dari pendongeng keliling yang sengaja disebar kompeni tersebut. Akibatnya muncul banyak versi tentang satu kejadian yang sama dalam Sejarah Blambangan yang di masa kemudian membingungkan generasi anak-cucu. Sejarah Blambangan kini tertutupi oleh mitos dan kental dengan adu domba.
Memang sengaja ada upaya dari pihak Belanda dalam membuat jurang pemisah atas dasarperbedaan etnis dan agama; serta menumbuhkan perpecahan di masyarakat dengan adudomba atas nama Agama, Suku, dan Daerah. Padahal jika kita melihat dalam sejarah Blambangan secara lengkap, sebenarnya Blambangan itu tidak asing dengan budaya pluralisme-nya.
Maka Menak Jinggo yang sekarang kita pahami di Banyuwangi ini telah tumpang tindih. Kita harus jeli agar bisa melihat dan membedakan keempat tokoh berikut:
1. Yang merupakanputera Hayam Wuruk adalah Bhre Wirabhumi (kedua) yaitu Aji Rajanatha Dyah Kebo Mercuet.
2. Yang melamar Suhita/Kenconowungu adalah Bhre Wirabhumi (ketiga) yaitu Jaka Umbaran alias Raden Gajah Narapati alias Menak Jinggo.
3. Yang berkuasa di Jinggandan memberontak pada Majapahit adalah Sang Muggwing Jinggan, Pangeran Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya.
4. Dan yang merupakanraja Blambangan adalah Pangeran Mas Sepuh/Pangeran Jingga Danuningrat.
Empat tokoh beda masa dan beda kronologis sejarahnya itu telah dicampur aduk menjadi satu tokoh benama MENAK JINGGO dengan segala kebejatan dan keburukan moralnya lalu disematkan sebagai Raja Blambangan oleh Lawan Politiknya.
PENUTUP
Selama ini kita anggap Bhre Wirabhumi putera Hayam Wuruk itu adalah Menak Jinggo.Padahal Menak Jinggo yang selama ini kita bela itu sebenarnya lebih tepat disebut Jaka Umbaran alias Raden Gajah Narapati.Menak Jinggo adalah raja Ywangga atau Banger alias Probolinggo.
Mungkin kalau sebagai Ikon Banyuwangi tidak wajar dan sangat tidak logis, karena berdasarkan sejarah atau cerita rakyat dan letak geografis Menak Jinggo berasal dan meninggal di Probolinggo bukan di Banyuwangi.Disamping itu masyarakat Probolinggo juga membuktikan kecintaan pada rajanya ini dengan mengabadikannya sebagai julukan untuk suporter Persipro yaitu “The Lasminggo” Laskar Menak Jinggo.
Kita yang di Banyuwangi, jika tidak jeli akan pemalsuan sejarah oleh Belanda ini kemudian membela habis-habisan sosok Menak Jinggo, raja Wirabhumi (ketiga) yang bertahta di Probolinggo ini. Kita membantah Menak Jinggo yang digambarkan; raksasa, kejam, cadel, buruk rupa (berkepala anjing), pincang, bengis, licik, dengan segala keburukan lainnya, dan membelanya dengan mengatakan bahwa Menak Jinggo adalah sosok yang tampan, gagah perkasa, pemberani, dan setia sehingga layak kita agungkan dan kita bangun patungnya di seantero wilayah untuk membuktikan bahwa Menak Jinggo tidak seperti yang diceritakan selama ini. Tapi sayangnya yang kita bela dan kita sanjung-sanjung itu ternyata bukan raja Blambangan…
Sudah seharusnya kita mempelajari sejarah kita lebih dalam lagi, bukan hanya bermodal katanya dan katanya, tapi berdasarkan sumber yang benar, yang tentu bukan karangan Belanda.Agar kita dapat mengenali siapa saja raja-raja Blambangan itu dan adakah dalam silsilah raja-raja Blambangan itu sosok bernama Menak Jinggo?
Sinisme antara Jawa/Mataraman dengan Blambangan harus diakhiri. Adudomba warisan Belanda itu harus disudahi. Bagaimanapun akan sangat lucu, karena Belanda yang mengadudomba telah pulang ke negaranya, namun kita dengan setia dan tulus ikhlastetap melestarikan adudomba nya itu.
Adudomba adudomba mengadu domba...
Ketika kedua belah pihak sama2 saling membenci dan mencurigai, maka persatuan di Banyuwangi tidak akan terjadi. Dan jika persatuan tidak terjadi, maka Penjajahan gaya baru akan terus abadi...
[Mas Aji Wirabhumi - www.blambangankingdomxplorer.blogspot.co.id ] T A M A T
