Pentas Janger Dharma Yasa dari Patoman Miniatur Bali di Banyuwangi

membacalah walau sebentar
Tulisan dari BANYUWANGI CONNECT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pementasan seni pertujukan Janger Dharma Yasa dari Patoman Tengah digelar di Balai Gong , Banjar Patoman tengah (19/8/2019 ) dengan lakon Tumurune Cangkok Wijaya Kusuma, suatu ceritra yang syarat dengan nilai-nilai luhur tentang falsafah hidup.
Desa Patoman dikenal dengan Miniatur Bali di Banyuwangi. Sebagian masyarakat desa ini beragama Hindu dan memiliki kesamaan, seni, budaya, tradisi dan adat istiadat seperti masyarakat Pulau Dewata.
Namun, Toleransi sangat dijunjung tinggi oleh penganut berbagai agama di Desa Patoman. Sikap saling menghormati ditunjukkan antar pemeluk agama dengan melakukan perilaku saling tolong menolong.
Desa Patoman memiliki kesenian tradisional yang sampai saat ini dilestarikan salah satunya kesenian Janger. Kesenian janger ikut memeriahkan memperingati HUT RI yang ke-74. Hadir dalam acara tersebut Kepala Desa Patoman, Budayawan , PPWK (Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan), FPK, Hidora, Purnama, Lintas Agama dan Suku, Tokoh masyarakat Desa Patoman, Turis dari mancanegara dan masyarakat sekitar Desa Patoman Blimbingsari.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Putu Ota “Mengucapkan terima kasih karena semua bersatu dengan jiwa dan semangat yang baru pemuda dan pemudi kita dalam melaksanakan kegiatan dan memberikan apresiasi atas semua kerjasamanya yang terlibat dalam acara. Tujuan dari kegiatan ini adalah memperingati dan sekaligus mewariskan dan melestarikan budaya serta mengembangkan budaya . karena dengan seni dan budaya dapat mempersatukan bangsa,” ungkap Ketua panitia dalam laporannya.
Menurut Kadus Patoman Tengah Made Hardano, “Kesenian janger Dharma yasa sebagai sarana untuk menjalin persatuan dan kesatuan. Dalam memperingati HUT RI ke-74 , kita diingatkan untuk terus melestarikan budaya, ” ucapnya Hardano.
Hardano juga menambahkan bahwa peringatan HUT ke-74, “Semoga kita semua dalam keadaan damai dan melalui budaya dapat mempersatukan seluruh rakyat walau berbeda agama dan berbeda suku. Harapan untuk pemuda harus mempunyai sifat dan sadar membangun, “tambah Made Hardano.
Sementara Kepala Desa patoman, Drs. Suwito, menyampaikan selamat HUT RI ke-74. dalam sambutan yang sangat singkat, Suwito menghimbau karena desa Patoman akan menyelenggarakan pemilihan Kepala Desa, tetaplah dan menjaga kebersamaan, kerukunan, persatuan, aman dan tetap kondusif, yang utama jangan sampai kita beda pilihan justru terpecah belah, pungkas Suwito.
Keunikan dalam kesenian janger terjadi persilangan budaya yang tidak terelakkan. Silang budaya yang terdapat dalam Janger Banyuwangi terungkap lewat bahasa yang digunakan percampuean bahasa Jawa dan Osing.
Musik sebagai instrumen utama pengiring ceritera juga merupakan perpaduan antara musik tradisional Bali dan Osing. Sedangkan busana yang digunakan merupakan paduan antara busana Bali dan busana Jawa. Sedangkan unsur koreografi tari sebagai bagian yang tidak terpisahkan sebagai pemanis dalam lakon juga mengalami persilangan, meskipun unsur etnis Bali memberikan gaya yang dominan. Sedangkan unsur cerita dalam Janger Banyuwangi unsur Jawa lebih dominan, karena biasanya lakon-lakon yang dibawakan merupakan lakon-lakon legenda khas tanah Jawa.
Penggunaan berbagai budaya yang berasal dari berbagai etnis tersebut khususnya Bali, Osing dan Jawa pada dasarnya merupakan suatu bentuk kerja kreatif, upaya untuk mempertahankan tradisi, serta pencarian estetika baru dalam seni pertunjukan Janger. Persilangan budaya dalam seni teatrikal Janger Banyuwangi ini tidak lepas pula dari pengaruh geografis Banyuwangi yang terletak di persilangan Budaya Bali, Osing , Jawa dan Madura.
Menurut Adi Brewok Sugianto, tamu undangan dari DKB, pementasan janger dengan lakon Tumurune Wahyu Cangkok Wijaya Kusuma ini sangat santun dan penuh dengan cerita tentang falsafah hidup, tidak ada penampilan yang seperti pada janger yang baru-baru ini marak.... Sastra dalam dialog serta alurnya digelar dengan baik. Pemainnya rata-rata masih anak-anak, bocah dan remaja muda, Cantik dan ganteng-ganteng masih muda-mudi ini baru pas jika di jadikan rujukan janger yang sebenarnya, jlentreh Adi Brewok. (KRT.H.Ilham BTD/Miskawi).
