Konten dari Pengguna

SASAK PEROT BANYUWANGI RIWAYATMU DULU.

BANYUWANGI CONNECT

BANYUWANGI CONNECTverified-green

membacalah walau sebentar

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari BANYUWANGI CONNECT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SASAK PEROT BANYUWANGI RIWAYATMU DULU.
zoom-in-whitePerbesar

SASAK PEROT sudah tidak seperot sebelum perang kemerdekaan tahun 1945. Dahuluya sasak perot, benar-benar perot, pagar jembatan sebelah utara menjorok ketimur, sehingga tampak perot. Sekitar sasak (jembatan) perot merupakan tempat wingit (angker). Sebelah selatan jembatan menuju dukuh Karangasem, merupakan pekuburan kuno, sangat rindang dengan tumbuhan pohon Kamboja.

Arah barat menuju kecamatan Glagah, kanan kiri jalan ditumbuhi pohon asam yang rindang, tempat bersarangnya burung “kuntul” (bangau) yang kotorannya memutihkan jalan. Perkampungan masih sangat sedikit. Jurusan Karangasem masih merupakan jalan setapak, untuk menuju desa Bakungan harus melewati dusun Gaplek yang sangat rindang dengan berbagai jenis pepohonan.

Transportasi yang dipergunakan, hanya dokar milik orang desa Mojopanggung, Loji dan orang Gunungsari. Perkampungan mulai tampak berkembang sekitar tahun 1945, ketika sebagian orang kota NGILI ke pinggiran desa, yaitu mengungsi sekitar desa Boyolangu, Loji, Watubuncul, Gunungsari, Banjarsari, Gaplek, Tembakon dan Pancoran.

Malah jalan menuju desa Sawahberan, Kemiren, Ulih-ulihan, dan desa Glagah mulai ramai pada tahun-tahun berikutnya. Sambil berdagang di pasar Senen masyarakat pengungsian atau ngili, didalam kota sering memperoleh serangan dari penjajah Balanda. Belum lagi provokasi dengan melempar bom api dari pesawat udara atau melemparkan dari kapal perang yang bercokol diselat Bali.

Sasak perot mulai berkembang sebagai permukiman dan perkampungan. Sasak perot mengalami renovasi, sehingga tidak lagi Seperot tahun perjuangan 1945. Sasak perot telah menjadi konsentrasi kendaraan bermotor menuju Kalibendo dan pasar Senen Glagah. Kini Sasak Perot sudah berganti wajah, bukan cuma sebuah perkampungan desa, tetapi merupakan permukiman yang punya prospek masa depan kota Banyuwangi, semacam Bratang di Surabaya. Sebab empat kelurahan disekitarnya merupakan penyanggah kota di masa depan, yaitu kelurahan Boyolangu, Mojopanggung, Bakungan dan Kelurahan Banjarsari. Sebab terminal yang dibuat seadanya itu, punya potensi cukup luas untuk perkembangannya.

Sasak perot tidak lagi seperti tahun 1945 sebab perkembangan sekitarnya sudah merupakan perkembangan Kota Satelit. Sejumlah toko, warung dan perumahan telah berjajaran disekelilingnya, juga berdiri sekolah pembangunan yang sangat megah [Btd@Hasnan Singodimayan]