Konten dari Pengguna

SEPENGGAL CERITA DESA SUMBER URIP KALIREJO GLENMORE

BANYUWANGI CONNECT

BANYUWANGI CONNECTverified-green

membacalah walau sebentar

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari BANYUWANGI CONNECT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SEPENGGAL CERITA DESA SUMBER URIP  KALIREJO GLENMORE
zoom-in-whitePerbesar

Masa penjajahan di negri ini sudah pasti tidak akan lepas dari yang namanya penderitaan,tangis dari siksa mereka yang murka,rintih kelaparan sampai berujung kematian,sungguh hal pilu ketika kita mengingat bagaimana bangsa kita dulu menderita,dan dari situlah alasan saya mencintai tanah Glenmore & Kalibaru,dua kecamatan yang penuh menyimpan banyak cerita dari banyak sejarah di banyak kecamatan/daerah di Banyuwangi ini.

Saya sempat menjumpai seorang pria paruh baya di sebuah desa kecil di kecamatan Glenmore,pria ini adalah Bapak Ponari,ia adalah salah satu dari banyak petugas keamanan di perkebunan Kalirejo,sempat keluar sebuah cerita dari pria yang di panggil NARI ini oleh warga tentang keberadaan sebuah sumber air yang di masa penjajahan tempo dulu sering di gunakan untuk keperluan para Menir untuk melakukan aktifitas sehari hari,di bangun sedemikian rupa dan di jaga.

SEPENGGAL CERITA DESA SUMBER URIP  KALIREJO GLENMORE (1)
zoom-in-whitePerbesar

Pak Ponari menuturkan cerita yang dulu ia dengar dari sang kakek,bahwa sumber air yang kini telah tertimbun kayu karet bekas tebangan perbaruan ini ternyata adalah asal muasal nama sebuah desa,yakni desa Sumber Urip yang tidak jauh juga dari lokasi sumber berada. Sumber Urip sendiri adalah nama yang di ambil dari sumber air itu,di namakan Sumber Urip karena menurut warga,air sumber yang ada di tempat tersebut tidak pernah mati alirannya,maka lahirlah sebuah nama Sumber Urip di desa tersebut.

Berahir di sekitar tahun 1979 jalur kereta kecil angkut LORI ini masih menyimpan banyak cerita,salah satunya tentang gerbong kayu dan tangki berukuran 1500 Liter yang saya pikir di tarik oleh mesin,ternyata manusialah yang mendorong gerbong tersebut. Bangunan tua ini sudah di penuhi ranting tanaman yang lebat,menurut cerita dari salah seorang warga yang juga mantan seorang mandor di tempat ini,dua atau tiga orang lah yang mendorong pergerbong jika panen tiba.

SEPENGGAL CERITA DESA SUMBER URIP  KALIREJO GLENMORE (2)
zoom-in-whitePerbesar

Berjalan terus ke selatan tibalah saya ke sebuah pabrik tua pengolahan karet yang juga dulunya adalah milik belanda,lokasi pabrik ini ada di desa Kalirejo,desa selanjutnya setelah Sumber Urip. Pabrik pengolahan karet ini mempunyai dua type ornamen bangunan yang berbeda,jika melihat dengan kasat mata,perbedaan itu terlihat dari warna tembok dan struktur tembok antara tebal dan tipis,dan ternyata betul juga tebakan saya,struktur tembok yang tebal adalah bangunan pabrik yang di bangun pada masa penjajahan,dan yang tipis terkategori baru karena kita sendiri yang membangun.

Di lokasi pabrik terlihat sebuah tangki raksasa yang masih kokoh berdiri,sempat saya bertanya pada penduduk tentang apa saja yang ada di dalam sebelum masuk ke lokasi area pabrik,dan mereka mengatakan,tangki tersebut dulu pernah hampir di beli oleh orang berwarga negara Australia,namun usaha itu gagal karena pihak perkebunan tidak mengizinkan untuk tidak menjualnya.

SEPENGGAL CERITA DESA SUMBER URIP  KALIREJO GLENMORE (3)
zoom-in-whitePerbesar

Alasan warga australia ini cukup simpel kenapa ia sampai ingin membelinya, menurutnya, sekalipun itu benda,tapi nilai sejarah yang ada dulu sangatlah kental,membranikan diri untuk mendekat dan melihat tangki yang dulu pernah di gunakan untuk penyimpanan BBM ini sangatlah menguji andrenaline,kesan angker dari cerita warga,dan suasana yang dulu pernah ada seperti tervisualkan kembali di ingatan,terlebih terdapat rel bekas lori yang dulu di tarik oleh 2 sampai 4 orang,sungguh membuat saya tercengang.

Semoga pemerintah dan masyarakat semua akan mampu terus menjaga semua ini,kita tidak harus mengingat,namun setidaknya kita harus tahu,darah dan nyawa adalah harga mahal dari kemerdekaan yang kita bisa nikmati sampai saat ini.[Wendy]