Konten dari Pengguna

Unik ..Pesta Perkawinan Adat Osing-Banyuwangi di Sawah Pedesaan

BANYUWANGI CONNECT

BANYUWANGI CONNECTverified-green

membacalah walau sebentar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari BANYUWANGI CONNECT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pesta Perkawinan Warga Jerman dengan Warga Indonesia dengan View Persawahan
zoom-in-whitePerbesar
Pesta Perkawinan Warga Jerman dengan Warga Indonesia dengan View Persawahan

Di suatu desa, dengan penduduk asli Osing Banyuwangi, desa Tamansuruh Kecamatan Glagah Banyuwangi, dikejutkan oleh sebuah acara tradisi Pesta Perkawinan Adat Osing yang unik, berada di Sawah pedesaan. Tepatnya, di Waroeng Kemarang, sebuah waroeng destinasi kuliner Banyuwangi yang menyajikan menu makanan tradisional Banyuwangi dengan konsep Makan Ditepi Sawah serta mengangkat kearifan lokal budaya Osing Banyuwangi.

David, seorang warga negara Eropa yang telah lama menjalin kasih dengan Mimin yang adalah asli lare Osing Banyuwangi, Lebih 21 tahun tinggal di Jerman, sepakat pada sore hari tadi, Sabtu 5 Oktober 2019 telah melaksanakan Pesta Perkawinan mereka secara Adat Osing di lingkungan persawahaan pedesaan milik Waroeng Kemarang.

Pesta diawali dengan acara “Arak-arakan”, dimana pasangan pengantin dan seluruh keluarga pengiring yang telah dirias memakai pakaian adat Osing, berjalan beriringan atau pawai melalui jalan pedesaan. Barong Osing dan Pitik-pitikan serta pemain gamelan (panjak) berada pada barisan paling depan, disusul dengan barisan keluarga, kemudian kedua mempelai berada dibelakang dengan naik kereta kuda.

Begitu terdengar suara iringan musik tradisional Barong, Masyarakat Osing Dukuh Lemarang Desa Tamansuruh pada berdatangan, ramai-ramai ikut menyaksikan dan ikut berjalan bersama dibelakang kereta kuda mempelai. Mereka takjub, senang dan heran karena ada arak-arakan pengantin dan keluarganya yang adalah warga negara asing (bule) memakai pakaian adat Osing.

Setiba didepan Rumah Adat Osing Waroeng Kemarang, semua yang ikut arak-arakan: Pitik-pitikan, Barong, panjak, keluarga pengiring, pengantin, masyarakat, serta tamu undangan berkumpul di halaman, menyaksikan atraksi joget barong dan pitik-pitikan dan kemudian dilanjutkan dengan acara “Sembur Uthik-uthik”, yaitu melemparkan atau menyebarkan beras kuning dan uang koin kepada kerumunan. Sembur Uthik-uthik adalah merupakan simbul ucapan syukur dan berbagi berkat dari keluarga besar mempelai kepada sesamanya. Semua yang berkerumun bersorak soarai berebutan memungut uang koin yang telah disebarkan. “Isun olih enem ewau....” kata mbok Indah penggoreng kue kucur Waroeng Kemarang dengan logat kental bahasa Osingnya, seusai acara sembur uthik-uthik.

Setelah acara Sembur Uthik-uthik, acara pengantin adat Osing dilanjutkan menuju pelaminan yang terletak ditepi sawah. Disebelah pelaminan yang dihias dekorasi nuansa “green” persawahan sudah siap gamelan gandrung dengan alunan instrumentasi gending giro Banyuwangian, mengiringi acara “Nyadokaken”, yaitu mempertemukan kedua mempelai yang akan menduduki pelaninan.

Para undangan disuguhi Makanan & Kue Khas Banyuwangi

Sebelum pengantin didudukkan di pelaminan, pengantin Osing “disadokaken”, yaitu tangannya dijabatkan dan jari jempolnya dipertemukan, serta di doakan bersama. Pengatin pria menginjak sapu korek, dan pengantin wanita menaburkan “pitung tawar” di kaki pengantin pria, adalah simbol kesetiaan istri kepada suami dan kasih sayang suami kepada istri serta sanggup menjaga dan bertanggung jawab kepada keluarga.

Setelah menabur pitung tawar, pengantin pria mengangkat tangan pengantin wanita untuk berdiri lalu membawa duduk bersama di pelaminan.

Acara sengaja dikemas dengan nuansa “green”, tradisional dan penuh khidmad, di lingkungan persawahan, agar kedua mempelai dan keluarga modern yang sangat mencintai Budaya Osing ini berkesan dalam membina keluarga barunya, demikian kata Aekanu yang menjadi Wedding Organiser Pesta Perkawinan di Sawah ini.

View Persawahan waroeng Kemarang

Bu Ririt Meirianto, sebagai Owner Waroeng Kemarang mengatakan bahwa, sebagai destinasi kuliner yang masih belum 2 tahun di Banyuwangi, Waroeng Kemarang merasa sangat terhormat telah dipilih menjadi tempat Pesta Perkawinan Adat Osing olih warga negara asing ini. Walaupun hal ini adalah masih baru pertama kali Waroeng Kemarang menyelenggarakan Pesta Pernikahan Adat Osing, namun kami merasa sangat puas, berhasil menyediakan tempat yg bernuansa agraris dan udara yang segar, menu makanan dan minuman tradisional yang disukai semua tamu, serta menampilkan dekorasi dan penyajian makanan dan minuman khas ethnik Osing Banyuwangi. (GUSWOK/WER)