kumparan
9 Feb 2018 21:06 WIB

Tidak Ada "Selamat Hari Pers Nasional" untuk Kita

Ilustrasi Kekerasan terhadap Perempuan (Foto: Pexels)
Mer, sama sekali tak ingin kubuihkan ucapan “Selamat Hari Pers Nasional” di mukamu yang mengerling manis itu. Kamu 'kan tahu kalau Hari Pers Nasional yang jatuh hari ini diresmikan atas kreasi akal sang presiden yang 32 tahun menjabat itu--ah, aku tahu kamu pembaca sejarah yang lebih ulung ketimbang aku.
ADVERTISEMENT
Sebab idealisme kita tak berkawan intim dengan serba-serbi Orde Baru, apalagi zaman itu meninggalkan catatan merah buat para perempuan, jadi marilah tak merayakan hari ini dengan apa pun, Mer.
Serta-merta kutulis story ini hanya untuk membingkai sedikit hal tentangmu, Mer. Isi kepalaku mengapung pada namamu seketika kala kulihat euforia di media sosial riuh dengan ucapan Hari Pers Nasional. Deretan selebrasi dibumbung ke jagat media: “kepada para wartawan, selamat hari pers nasional!"
Dan membaca kata ‘wartawan’ segera mengundang sosok perempuan di kepalaku; perempuan yang kepadanya aku rela menukar tubuhku agar bisa berdiri di kakinya. Kamu, Mer, perempuan tangguh dengan segudang mimpi yang tak usai diperjuangkan.
Kamu tak pernah asal-asalan bikin mimpi. Kamu paham betul tujuan dan apa-apa yang harus dikerahkan untuk menggapainya.
ADVERTISEMENT
Suatu sore, kamu ceritakan mimpimu jadi seorang wartawan, seraya kamu bawa jua gelora api yang tak pernah kandas dari semasa kita satu kampus dahulu.
“Pers kita belum sepenuhnya aman buat perempuan. Dan aku peduli sama isu-isu perempuan,” katamu waktu itu.
Kemudian kamu menghamburkan gagasan tentang apa yang perlu disuarakan lebih luas kepada khalayak: kekerasan domestik itu nyata, namun kita terlalu sibuk mengurusi ranjang muda-mudi dewasa; pernikahan dini melegitimasi pria untuk mengeksploitasi perempuan semena-mena; catcalling dan pujian adalah dua hal yang berbeda; consent adalah hal utama yang mengindikasikan pelecehan; yadda yadda yadda.
Sungguh perjuangan yang tak mudah ketika pers itu sendiri masih melegitimasi nilai-nilai patriarki.

Wartawan punya kuasa untuk bersuara dan didengar. Because I have such power, makanya aku ingin mendengungkan isu perempuan ke khalayak ramai.

- --

ADVERTISEMENT
Dari obrolan kita sore itu, kita paham: tak ada "selamat hari pers nasional" hari ini, sebab perempuan belum betul-betul selamat di hadapan pers.
Hal ini bukan tanpa alasan. Media massa masih abai untuk memanusiakan perempuan serta tak jemu merendahkannya sebagai gender kelas dua.
Konstruksi sosial yang patriarkis semakin diamini oleh media massa. Misalnya, pemilihan angle berita yang bias gender, pengungkapan identitas korban pemerkosaan, penulisan kasus pelecehan perempuan yang vulgar seperti seakan sebuah hiburan, dan penempatan perempuan sebagai pihak yang selalu turut andil dalam terjadinya pemerkosaan hingga akhirnya berujung victim blaming. Tidak usah jauh-jauh, pemilihan kosakata dalam penulisan berita pun begitu mengobjektifikasi perempuan: "cantik", "bertubuh molek”, "menggaggahi".
Jadi, ada peran media di balik mereka yang berkata, "Dia pake baju seksi, sih" kepada korban pemerkosaan.
ADVERTISEMENT
Isu-isu yang berhubungan dengan perempuan pun sekadar menjadi isu alternatif yang "kurang sensual" untuk diangkat jadi berita, terutama bagi media yang menghamba pada traffic--oops, oke, yang ini tak boleh kulanjutkan ya, Mer!
Namun, sebagai wartawan, kamu punya otoritas lebih untuk membuat isu menyeruak ke permukaan, apalagi jika tulisanmu kelak mendapat perhatian khalayak lebih luas. We have power to voice the voiceless, katamu.
Misalnya, ceritamu soal kasus peremasan payudara di salah satu kota suburban di Jawa Barat (you know where). Laporan korban baru ditanggapi kepolisian ketika media ramai menyuarakan berita tersebut. Meskipun polisi menganggap bahwa kasus ini hanya dibesar-besarkan, yang tak ayal sebagai aksi bercanda saja (sejak kapan pelecehan seksual itu bercanda ya, Mer?).
ADVERTISEMENT
Memang, pemerhati kesetaraan gender sepertimu muskil berjuang di jalan yang lurus. Melindungi hak kaum perempuan adalah perjuangan bawah tanah yang sunyi di tengah masyarakat patriarkis. Romantis kedengarannya, tapi sampai kapan?
Ah, simpel saja; selama media massa masih mengkomodifikasi kecantikan perempuan, misalnya, dengan menaruh judul "Polisi Cantik" atau "Hakim Cantik", selama itulah pers belum sepenuhnya mampu memanusiakan perempuan.
Eh, aku jadi teringat salah satu wartawan berpengalaman (yang tak perlu kusebut namanya) dengan entengnya pernah berkata: “Ini industri, bukan kampus. Yang namanya industri, ya apa boleh buat, traffic-lah tujuannya. Gak bisa pakai idealisme ala anak kampus macam itu."
Nah, Mer. Kita ucapkan saja "selamat hari pers nasional" buat wartawan macam itu ya!
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan