Kolonialisme di Asia Tenggara: Kedatangan Bangsa Eropa dan Dampaknya

mahasiswa pendidikan sejarah universitas Jember
·waktu baca 12 menit
Tulisan dari BARIKLIA BERLIAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

1. Kedatangan Portugis Di Malaka Tahun 1511
Portugis merupakan negara Eropa yang mempelopori pencarian wilayah rempahrempah di Timur prosesnya diawali dengan ekspedisi laut yang berhasil kemudian penaklukan gerbang menuju pusat rempah yaitu Malaka. Dalam penaklukannya Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque membuka peluang bagi mereka untuk langsung mencapai Maluku dan Timor.
Pada 15 Agustus 1511, kekuasaan atas Malaka berpindah kepada Portugis. Selepas berhasil merebut Malaka, strategi politik Afonso de Albuquerque termasuk dalam usaha menjalin relasi baik dengan negara-negara tetangga. Ia mengirimkan duta ke Ayutthaya dan Pegu, sambil menerima hadiah-hadiah dari penguasa di Sumatra dan Jawa sebagai lambang kerukunan. Namun, Albuquerque masih menghadapi kesulitan dalam membina perdamaian dengan Arakan dan Aceh. Kerjasama dengan Tiongkok juga dipertahankan sejak kunjungan perdana ke Malaka oleh de Sequeira, yang menunjukkan keramahan mereka terhadap Portugal.
Dalam penaklukannya Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque membuka peluang bagi mereka untuk langsung mencapai Maluku dan Timor. Setelah melakukan menaklukkan Malaka di tahun 1511 kemudian 3 kapal dikirim ke Maluku Tahun 1511 berakhir dengan Albuquerque Di Malaka, Albuquerque menyusun struktur pemerintahan dengan menempatkan Ruy de Araujo sebagai alcaide-mor dan feitor, juga Ruy de Brito sebagai komandan benteng yang bertanggung jawab atas 300 prajurit. Fernando Perez de Andrade juga diangkat sebagai komandan angkatan laut dengan tugas menjaga keamanan Malaka dari ancaman baik di laut maupun di darat. Pengiriman kapal Portugis ke wilayah timur Nusantara juga singa di Timor dan mendirikan beberapa perdagangan kayu cendana yang sangat kuat kedatangan Portugis di Timur dimulai pada abad ke-16. Menurut Hans (2012), ekspedisi Portugis ke Timor pada awalnya diprakarsai oleh Antonio Pigafetta (seorang navigator dari Italia) dan Francisco Albo (asal Spanyol) (Pramuditya, Astaeka Febriani & Budiman, 2013). Pigafetta terlibat dalam pelayaran bersama armada Magelhaens, namun pada tahun 1521, Magelhaens tewas di Cebu, Filipina. Dalam pelayaran selanjutnya, komando diambil alih oleh Juan Sebastian de Elcano yang berhasil membawa Portugal ke pulau Pantar dan Alor pada 26 Januari 1523. Penaklukan berikutnya memungkinkan Portugal untuk menduduki pulau Cutubaba dan Tiber yang kini dikenal sebagai Timor Leste (Pramuditya, Astaeka Febriani & Budiman, 2013).
Pada mulanya kapal dagang Portugis secara teratur mengunjungi Timor untuk membeli kayu cendana sehingga membuat penduduk Timor bersemangat dan menyambut kedatangan pedagang asing yang meliputi pedagang dari Jawa, Melayu dan Cina diikuti dengan kapal-kapal lain dari Portugis dan juga Belanda namun raja tirai di Timor tidak mengizinkan para pedagang asing untuk mendirikan pemukiman permanen di pantai timur mereka hanya diizinkan untuk berlabuh di lokasi tertentu dalam rangka untuk menukar barang yang mereka bawa dengan kayu cendana sebagai pemimpin kerajaan lokal di timur kemudian mengambil alih kendali perdagangan kayu cendana di pelabuhan, kesulitan dalam mendapatkan kebijakandi timur dan pentingnya memiliki wilayah sebagai Basir perdagangan untuk komoditas mendorong Portugis untuk mencari pangkalan wilayah untuk mengumpulkan hasil perdagangannya dan membangun basis perdagangan di Nusa Tenggara Timur, dalam eksplorasi pulau-pulau di sekitarnya Portugis membuka banyak rute baru di perairan Nusa tenggara Timur dan juga menemukan berbagai pulau termasuk Flores, Adonara, Solo, dan Lembata titik bangsa Portugis pertama kali mendarat di Kepulauan solor karena perairannya cukup senang dan terdapat pelabuhan umum yang memudahkan mereka untuk berlabuh orang Portugis menyebut kawasan pantai utara cabo dan flora yang berarti banyak ditumbuhi bunga istilah cabo dan flora kemudian menjadi nama Flores.
Di Kepulauan Solor, Portugis mulai mencari produk utama setelah menemukan posisi strategisnya. Mereka menemukan kayu cendana dengan aroma unik yang berbeda dari yang ditemukan di Kupang, serta belerang bernilai tinggi di pasar Eropa. Pulau Solor menjadi pusat perdagangan cendana, penyebaran agama, dan ekspansi kekuasaan. Pada tahun 1596, Portugis mendirikan pangkalan pertahanan di Ende Flores, sebagai upaya melawan pengaruh Muslim dari Jawa (Murtadlo, 2015). Larantuka, karena keamanan teluknya dan lokasinya yang strategis, dipilih untuk perdagangan dan pertahanan. Portugis juga memperluas kekuasaannya ke Sumba, mendirikan benteng di Tidahu, Sumba Timur, sebagai pusat perdagangan cendana. Kekurangan tenaga kerja di wilayah jajahan Nusa Tenggara Timur mendorong Alfonso de Albuquerque menganjurkan perkawinan campuran antara pemuda Portugis dan wanita lokal, menghasilkan keturunan campuran yang dikenal sebagai mestizo atau Larantuqairos/Kase Metan (Pradjoko, 2017).
Pada tahun 1613, VOC merebut benteng di Solor dari Portugis dan mendirikan benteng Fort Hendricus. Pelabuhan Solor digunakan VOC untuk bersaing dalam perdagangan kayu cendana dengan Portugis dan sebagai tempat persinggahan menuju Maluku. Persaingan tersebut berakhir setelah gempa besar melanda Solor pada tahun 1648, menghancurkan wilayah tersebut dan membuat Belanda meninggalkannya selama hampir 200 tahun. Dominikan kemudian membangun kembali permukiman dan gereja di Solor (Sumerata, 2018). Jatuhnya Melaka pada tahun 1511 berdampak signifikan. Salah satu hasilnya adalah pembagian wilayah Kerajaan Melayu Melaka. Awalnya, wilayah tersebut mencakup Semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Riau, Pesisir Timur Sumatera Bagian Tengah, Brunei, Sarawak, Tanjungpura (Kalimantan Barat), Indragiri, Palembang, Pulau Jemaja, Tambelan, Siantan, dan Bunguran. Namun, setelah jatuhnya Melaka, wilayahnya hanya terbatas pada Johor, Pahang, Riau, Lingga, dan beberapa daerah di Sumatera. Pusat pemerintahan juga dipindahkan ke Johor dan Bintan (Riau).
Pertimbangan Sultan Mahmud Syah dalam memilih Johor dan Riau adalah karena pusat kegiatan orang laut, kekuatan angkatan laut Melayu, berada di sekitar daerah tersebut, seperti Johor, Pulau Bintan, Karimun, dan Lingga. Selain itu, diperlukan lokasi strategis sebagai pangkalan untuk menyerang Portugis di Melaka, serta untuk pertahanan diri dan pelarian saat musuh menyerang. Seiring dengan itu, nama Kerajaan Melayu Melaka berubah menjadi Kerajaan Johor Riau, sesuai dengan lokasi pusat pemerintahannya. Setelah jatuhnya Melaka, kehidupan sosio-ekonomi, politik, dan budaya masyarakat di seluruh wilayah kekuasaan mengalami kemunduran karena fokus utama pada perlawanan terhadap Portugis. Situasi ini berlangsung selama masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah I (1518-1521), Sultan Alauddin Riayat Syah II (1521-1539),Sultan Muzaffar Syah (1539-1557), dan Sultan Abdul Jalil Ri’ayat Syah (1557-1591).
2. Kedatangan Spanyol Di Filipina Tahun 1565
Dengan misi Gold, Gospel, dan Glory (3G), otoritas Spanyol yang diwakili oleh Ferdinand Magellan mendarat di Filipina pada tahun 1521 untuk memulai era kolonialisme Spanyol. Wilayah utara Filipina dengan mudah mereka kuasai, sedangkan bagian selatan dijaga ketat oleh suku Moro. Spanyol menghabiskan banyak sumber daya untuk merebut Sulu dan Mindanao.
Motivasi kedatangan Spanyol di Filipina tidak sepenuhnya bersifat komersial meskipun pada awalnya Filipina dianggap oleh Spanyol sebagai batu loncatan untuk mengeksploitasi kekayaan Hindia Timur (Kepulauan Rempah-Rempah/Maluku), mereka tetap mempertahankan kehadiran mereka di Filipina setelah peluang itu ditutup oleh Portugis dan Belanda. Ferdinand Magellan, seorang navigator dan penjelajah asal Portugis, memimpin kedatangan pertama Spanyol di Filipina dengan membawa kapal Spanyol pertama yang mendarat di Cebu pada Maret 1521. Namun, tak lama kemudian, Magellan tewas mendadak di pulau Mactan. Setelah itu, Raja Philip II, dari mana nama Filipina berasal, mengirim tiga ekspedisi kapal lagi yang berakhir dengan bencana. Miguel López de Legazpi kemudian diutus oleh Raja Philip II dan mendirikan pemukiman Spanyol permanen pertama di Cebu pada tahun 1565. Kota Spanyol di Manila didirikan pada tahun 1571, dan pada akhir abad ke16, sebagian besar wilayah pesisir serta dataran rendah dari Luzon hingga Mindanao utara telah berada di bawah kendali Spanyol. Para biarawan, bersama tentara, segera menyelesaikan konversi nominal penduduk lokal ke Katolik Roma di bawah pemerintahan Spanyol. Namun, orang-orang Muslim di Mindanao dan Sulu, yang oleh Spanyol disebut Moro, tidak pernah sepenuhnya ditaklukkan.
Dalam 100 tahun pertama Spanyol di Filipina menerapkan sistem pajak pertanian yang disebut dengan enkomindo yang diimpor dari Amerika. sistem encommenderos melibatkan pemungut upeti yang sering bertindak kasar, mengabaikan ajaran agama serta mengurangi pendapatan. Akibat dari hal ini pada abad ke-17 Spanyol meninggalkan sistem enkominda. Raja Spanyol kemudian menuju gubernur jenderal yang bertugas mengangkat gubernur sipil untuk wilayah-wilayah lokal dan mengendalikan militer secara langsung. Pemerintahan pusat di Manila mempertahankan struktur seperti ini pada abad pertengahan ke-19 dengan kekuasaan gubernur jenderal yang sangat besar sering disamakan dengan raja. Gubernur jenderal mendominasi pengadilan tinggi menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata, dan memiliki hak istimewa dan terlibat langsung dalam perdagangan untuk keuntungan pribadinya.
Pemerintah pusat di Manila mempertahankan struktur seperti di Abad Pertengahan hingga Abad ke-19 dengan Gubernur Jenderal yang memiliki kekuasaan besar dan sering dianggap setara dengan Raja. Gubernur Jenderal mendominasi pengadilan tinggi, menjadi Panglima tertinggi angkatan bersenjata, dan memiliki hak istimewa dalam perdagangan untuk keuntungan pribadi.
Manila, sebagai ibu kota politik dan pusat perdagangan, mendominasi pulaupulau lain di Filipina. Perdagangan sutra Cina dengan perak Meksiko membuat Spanyol cepat mencari keuntungan dan menarik banyak komunitas Cina, yang meskipun sering menjadi korban pembantaian, tetap mendominasi perdagangan. Selain sebagai ibu kota pemerintahan dan perdagangan, Manila juga menjadi ibukota gerejawi Filipina. Gubernur Jenderal sebagai kepala sipil gereja bersaing dengan Uskup Agung untuk supremasi politik, di mana Uskup Agung sering menang pada akhir abad ke-17 dan ke-18. Perintah agama, rumah sakit, dan sekolah Katolik Roma, serta para Uskup, mengumpulkan kekayaan besar terutama melalui kepemilikan tanah dari hibah kerajaan dan ekspansi sewenang-wenang.
Kekuatan gereja juga berasal dari penguasaan bahasa lokal oleh imam dan biarawan, yang jarang dimiliki oleh orang Spanyol awam, membuat mereka menjadi sumber informasi penting bagi pemerintah kolonial. Pendeta Spanyol bertujuan untuk Kristenisasi penuh dan Hispanisasi Filipina. Selama dekade pertama misi, agama-agama lokal ditekan dengan keras. Namun, ketika jumlah umat Kristen awam meningkat dan semangat klerus menurun, semakin sulit mencegah pelestarian kepercayaan dan kebiasaan lama. Akibatnya, budaya pra-Spanyol Filipina tidak sepenuhnya dihancurkan bahkan dalam bidang agama.
Di bawah pengaruh Spanyol, institusi ekonomi dan politik juga mengalami perubahan, meskipun mungkin kurang mendetail dibandingkan dengan perubahan di bidang agama. Para rohaniwan berusaha memindahkan seluruh komunitas atau jemaat ke pueblos atau desa-desa yang mengelilingi gereja-gereja batu besar. Namun, pola demografis barangay lama yang tersebar sebagian besar tetap ada. Selain itu, posisi-posisi yang dulu diwariskan kini berada di bawah penunjukan pemerintah lokal Spanyol.Teknologi pertanian berubah sangat lambat hingga akhir abad ke-18, dengan perladangan berpindah secara bertahap digantikan oleh pertanian menetap yang lebih intensif, sebagian di bawah bimbingan para biarawan. Dampak sosial ekonomi dari kebijakan Spanyol yang menyertai perubahan ini memperkuat perbedaan kelas. Datus dan anggota lain dari kelas bangsawan lama mengambil keuntungan dari konsep Barat tentang kepemilikan tanah mutlak untuk mengklaim lahan sebagai milik mereka sendiri yang diolah oleh para pengikut mereka, meskipun hak tanah tradisional terbatas pada hasil produksi. Ahli waris bangsawan pra-Spanyol ini dikenal memainkan peran penting dalam pemerintahan lokal yang didominasi oleh para biarawan.
Di akhir abad ke-18, transformasi politik dan ekonomi di Eropa mulai berpengaruh pada Spanyol dan juga memengaruhi Filipina. Monopoli perdagangan galleon ke Acapulco mulai dihapus, dengan galleon terakhir tiba di Manila pada tahun 1815. Di pertengahan 1830-an, Manila dibuka hampir tanpa pembatas bagi pedagang asing. Permintaan gula Filipina dan abaca berkembang pesat, terutama setelah pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869. Pertumbuhan pertanian komersial menghasilkan kelas baru, termasuk pemilik hacienda kopi, rami, dan gula, sering kali merupakan keturunan mestizo China-Filipina yang berdedikasi. Pendidikan publik mulai dibuka pada tahun 1863, meskipun gereja yang mengontrol kurikulum. Sekitar 20% dari murid bisa membaca dan menulis dalam bahasa Spanyol, sementara pendidikan tinggi diawasi oleh kependetaan. Pada tahun 1880-an, banyak anak-anak dari kalangan kaya dikirim ke Eropa untuk belajar, dan dari sana muncul Gerakan Propaganda, yang dipimpin oleh tokoh seperti José Rizal. Rizal pulang ke Filipina pada tahun 1892 dan membentuk Liga Filipina, tetapi segera ditangkap oleh Spanyol dan diasingkan. Hal ini memicu pembentukan Katipunan, gerakan yang bertujuan untuk mengusir Spanyol dari Filipina, dipimpin oleh Andres Bonifacio
Selama 300 tahun (1565-1865), suku Moro melancarkan perlawanan untuk mempertahankan wilayah mereka, sehingga Spanyol menyebut mereka sebagai 'bajak laut', 'pengkhianat', dan 'orang-orang tidak beradab' guna menggalang dukungan dan memecah belah masyarakat setempat. Untuk memaksa masyarakat Moro masuk Kristen dan mendukung kebijakan kolonial, Spanyol melakukan berbagai bentuk penindasan dan pemaksaan.
3. Kolonisasi Belanda Di Indonesia Mulai Abad 17
Ketika Belanda tiba di Indonesia pada abad ke-17 Kerajaan Islam di kepulauan Indonesia mengalami perubahan yang sangat signifikan berbeda ketika sebelum kedatangan Belanda di Indonesia yang terdiri dari berbagai kerajaan dengan budaya dan agama yang berbeda-beda termasuk kerajaan-kerajaan Islam. Meskipun bervariasi terdapat dalam sistem pemerintahan di masing-masing kerajaan banyak yang mengambil model yang dipengaruhi oleh prinsip-prinsip Islam. Kedatangan Belanda menimbulkan dampak yang signifikan pada Kerajaan Islam Belanda berupaya mengkontrol perdagangan rempah-rempah dan membangun monopoli ekonomi di daerah tersebut mereka menggunakan teknik pemecah belah dengan mempergunakan perbedaan diantara suku dan agama untuk melemahkan kesatuan lokal. Banyak kerajaan Islam merasakan tekanan dalam bidang politik, ekonomi, dan militer dari pihak Belanda.
Beberapa kerajaan Islam berperang melawan dominasi Belanda, seperti yang terjadi dalam Perang Jawa pada abad ke-19. Namun, ketidakseimbangan kekuatan dan teknologi antara pasukan kerajaan lokal dan Belanda membuat upaya perlawanan tersebut sulit berhasil. Seiring waktu berjalan, banyak kerajaan Islam di Indonesia dipaksa tunduk di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Sistem pemerintahan tradisional diubah, dan otonomi lokal mengalami penurunan yang signifikan. Pemimpin kerajaan seringkali diangkat atau dihapus oleh Belanda sesuai dengan kepentingan kolonial mereka. Dengan demikian, kedatangan Belanda di Indonesia tidak hanya mengubah struktur politik, tetapi juga mempengaruhi keseimbangan kekuasaan, ekonomi, dan sosial di antara kerajaan-kerajaan Islam. Ini merupakan awal dari masa kolonial Belanda yang berlangsung lama di Indonesia.
Pada mulanya bangsa Belanda sampai di nusantara untuk untuk misi perdagangan namun melihat sumber daya alam yang melimpah tujuan mereka berubah menjadi menguasai wilayah dan meningkatkan pengaruh di sana titik mereka menerapkan konsep 3G yaitu Glory (kemenangan dan kekuasaan), Gold (kekayaan) dan Gospel (penyebaran agama kristen), salah satu tindakan yang diambil adalah dengan mendirikan sekolah-sekolah Kristen seperti di Ambon dan Batavia yang juga dibuka untuk masyarakat umum dengan biaya yang terjangkau melalui pendirian sekolah ini Belanda menyebarkan pengaruh mereka di wilayah yang dikuasai, kesempatan yang luas bagi masyarakat umum dalam mengejar pendidikan di sekolah-sekolah Belanda menjadi tantangan bagi komunitas Islam karena hal tersebut dijalankan secara modern dalam aspek kelembagaan, kurikulum, dan fasilitas. Hal ini mendorong perkembangan gagasan di kalangan cendekiawan muslim untuk meningkatkan pendidikan Islam dengan memberikan madrasah atau sekolah sebagai tanggapan atas tantangan tersebut.
Referensi
D. Hardjowidjono, “Kisah Runtuhnya Malaka (1511) Menurut Sumber-Sumber Portugis. Humaniora, (1).,” n.d.
Anastasia Wiwik Swastiwi, “Inventarisasi Praktek Tradisional Masyarakat Sebagai Metode Konservasi Cagar Budaya Berbasis Kearifan Tradisional Di Kepulauan Riau,” Borobudur XVI, no. 1 (2022): 51–67.
B A B Ii, “Filipina Dari Era Kolonial Hingga,” 2019, 17–44.
F. E. Nugroho, R., & Wahyudi, “Keterlibatan Indonesia Dalam Penyelesaian Konflik Muslim Moro Di Filipina Tahun 1990-2013/41/HI/2022,” 2022.
Muhammad Basri et al., “Kerajaan-Kerajaan Islam Zaman Penjajahan Belanda,” Jurnal Salome:Multidisipliner Keilmuan 2, no. 1 (2024): 96–103.
H. Hasnida, “Sejarah Perkembangan Dan Pendidikan Islam Di Indonesia Pada Masa Penjajahan Dan Masa Penjajahan (Belanda, Jepang, Sekutu).,” \, 2017, 237–56.
