Konten dari Pengguna

Baru Semester 3 Udah Mau Cepet-Cepet Wisuda Gara-Gara di Kejar Tugas

Herlian Agustin

Herlian Agustin

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Herlian Agustin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambaran mahasiswa yang sudah wisuda, Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-berbaju-putih-dan-celana-hitam-duduk-di-dinding-beton-putih-6309168/
zoom-in-whitePerbesar
Gambaran mahasiswa yang sudah wisuda, Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-berbaju-putih-dan-celana-hitam-duduk-di-dinding-beton-putih-6309168/

Jujur ya, aku sendiri kadang-kadang bingung sama pikiranku sendiri. baru semester 3 tapi entah kenapa udah sering bayangkan rasanya memakai toga, berdiri di depan keluarga, lalu mendengar namaku dipanggil waktu wisuda. Padahal kalau dipikir-pikir, kuliahku saja masih panjang. Skripsi saja belum kelihatan batang hidungnya.

Namun, setelah mempertimbangkan kembali, mungkin sebab saya ingin wisuda cepat bukan karena saya terlalu ambisius; sebaliknya, saya hanya mulai lelah.

Tugas yang datang silih berganti, presentasi yang harus dipersiapkan, dan kerja kelompok yang terkadang lebih menguras tenaga daripada tugasnya sendiri membuatnya lelah.

Ada saat-saat ketika saya bertanya pada diri saya sendiri, "Aku baru semester 3, kenapa rasanya seperti mahasiswa semester akhir?"

Setiap kali dosen memberikan tugas baru, rasanya seperti mendapatkan notifikasi tagihan: selalu tepat waktu tetapi tidak pernah siap.

Aku mengantisipasi kehidupan mahasiswa yang menyenangkan saat masuk kuliah pada awalnya. Bisa belajar hal baru, bertemu dengan banyak teman, mengambil bagian dalam kegiatan kampus, nongkrong setelah kelas, dan punya waktu untuk diri sendiri.

Realitanya ternyata sedikit berbeda.

yang datang justru tugas.

Tugas datang seperti tamu yang tidak diundang, tetapi selalu punya tempat khusus di hidup kita.

Tugas Datang, Waktu Menghilang

Sebagai mahasiswa, salah satu hal yang paling sulit adalah mengatur waktu, bukan memahami materi kuliah.

Pagi kuliah.

Siang ada tugas.

Sore ada kegiatan.

Malam ingin beristirahat.

Saya tiba-tiba teringat bahwa ada tugas yang deadlinenya besok.

Waktu tidur akhirnya menjadi korban.

Salah satu kebiasaan yang cukup berbahaya adalah mengatakan, "Aku kerjain nanti." Karena "nanti" sering berubah menjadi pukul sebelas malam dan kemudian berubah lagi menjadi pukul satu pagi

Meskipun mata saya memiliki lima watt di depan laptop, pekerjaan masih belum selesai.

Pertanyaan muncul saat mengetik:

"Kenapa saya tidak bekerja dari kemarin?"

Seringkali, pertanyaan tidak memiliki jawaban.

Yang ada malah membuka TikTok untuk waktu yang singkat.

Dia hanya berbicara sebentar.

Sudah empat puluh menit.

Tugas masih berada di halaman pertama.

Baru Semester 3, Tapi Sudah Ingin Wisuda

Lucunya, aku baru semester 3.

Perjalanan menuju wisuda sebenarnya masih cukup panjang. Tapi setelah merasakan tugas yang datang silih berganti, rasanya ingin langsung melompat ke semester akhir.

Melihat kakak tingkat yang sudah selesai kuliah terkadang membuat iri.

Mereka sudah melewati tugas.

Sudah melewati presentasi.

Sudah melewati berbagai revisi.

Sudah sampai tahap skripsi.

Sementara aku masih berjuang menghadapi tugas makalah yang jumlah halamannya kadang lebih panjang daripada kesabaranku.

“Kapan ya aku bisa seperti mereka?”

Mungkin inilah salah satu alasan mengapa mahasiswa Gen Z sering merasa ingin cepat menyelesaikan kuliah. Bukan hanya karena ingin segera mendapatkan gelar, tetapi juga karena ingin segera terbebas dari rutinitas tugas yang tidak ada habisnya.

Ternyata Kuliah Juga Butuh Manajemen Waktu

Dari semua tugas yang datang, aku akhirnya sadar bahwa masalahnya bukan hanya banyaknya tugas.

Kadang masalahnya adalah "cara mengatur waktu".

Ketika semua tugas dikerjakan mendekati deadline, tugas yang sebenarnya mudah bisa terasa sangat berat.

Sebaliknya, ketika waktu diatur dengan baik, pekerjaan yang menumpuk bisa terasa lebih ringan.

Mulai dari membuat daftar tugas, menentukan prioritas, membagi waktu belajar dan istirahat, sampai mengurangi kebiasaan menunda pekerjaan ternyata sangat membantu.

Walaupun dalam praktiknya tetap saja ada momen ketika jadwal sudah dibuat dengan rapi, tetapi realitanya:

“Hari ini aku mau produktif.”

Lima menit kemudian:

“Kayaknya rebahan dulu deh.”

Inilah tantangan sebenarnya.

Antara Produktif dan Ingin Rebahan

Sebagai Gen Z, kita sering mendengar istilah produktif. Bangun pagi, olahraga, belajar, mengerjakan tugas, mengikuti organisasi, membaca buku, dan masih banyak lagi.

Melihat konten produktivitas di media sosial kadang membuat kita berpikir bahwa setiap hari harus menghasilkan sesuatu.

Padahal manusia juga butuh istirahat.

Tidak selamanya waktu yang digunakan untuk tidur atau bersantai berarti membuang waktu. Justru istirahat diperlukan supaya tubuh dan pikiran bisa kembali siap menjalani aktivitas.

Jadi, mengatur waktu bukan berarti membuat setiap menit harus diisi dengan kegiatan.

Manajemen waktu juga berarti tahu kapan harus bekerja dan kapan harus berhenti.

Wisuda Memang Tujuan, Tapi Perjalanan Juga Penting

Pada akhirnya, aku memang ingin cepat wisuda.

Siapa yang tidak ingin?

Bisa memakai toga, foto bersama keluarga, mendapatkan ijazah, dan akhirnya mengatakan,

“Alhamdulillah, selesai juga.”

Namun, semakin dijalani, aku mulai sadar bahwa kuliah bukan hanya tentang seberapa cepat mendapatkan gelar.

Ada banyak hal yang terjadi selama prosesnya.

Bertemu teman baru.

Belajar bekerja sama.

Belajar menghadapi dosen.

Belajar presentasi walaupun tangan gemetar.

Belajar mengerjakan tugas walaupun mood sedang tidak ada.

Dan yang paling penting, belajar bertanggung jawab terhadap pilihan yang sudah diambil.

Mungkin sekarang aku masih semester 3 dan masih sering mengeluh karena tugas.

Mungkin beberapa bulan ke depan aku akan kembali mengeluh.

Bahkan mungkin semester depan keluhannya akan semakin panjang.

Tapi tidak apa-apa.

Karena ternyata menjadi mahasiswa memang seperti itu.

Kadang semangat.

Kadang malas.

Kadang produktif.

Kadang tugas sudah dibuka, tetapi malah bengong selama 30 menit.

Yang penting tetap berjalan.

Karena pada akhirnya, wisuda bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai.

Untuk sekarang, aku masih akan menjalani semester 3 ini sambil berusaha mengatur waktu sebaik mungkin.

Dan tentu saja, sambil tetap memiliki satu harapan:

Semoga tugasnya berkurang, semoga deadline-nya tidak mendadak, dan semoga aku bisa cepat wisuda.

Karena kalau tugas terus datang seperti ini...

Aku takut sebelum wisuda, yang lulus duluan justru kesabaranku.