Konten dari Pengguna

Mitigasi Penanggulangan Risiko Bencana di Taman Wisata Alam Gunung Papandayan

Bashar Sutanto
Mahasiswa Manajemen Bisnis Pariwisata di Universitas Indonesia
1 April 2025 14:23 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Bashar Sutanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Area Taman Wisata Alam Gunung Papandayan. Sumber: Foto Pribadi Penulis. (2018)
zoom-in-whitePerbesar
Area Taman Wisata Alam Gunung Papandayan. Sumber: Foto Pribadi Penulis. (2018)
ADVERTISEMENT
Meskipun banyak di Indonesia destinasi wisata berbasis area gunung yang menyandang status sebagai taman nasional, seperti Taman Nasional Kerinci Seblat di Sumatra Barat, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, dan Taman Nasional Lorentz di Papua Tengah. Lain halnya dengan destinasi wisata ini yang berlokasi di area pegunungan juga, tetapi tidak termasuk ke dalam kategori sebuah taman nasional, yaitu Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Secara administratif berlokasi hingga dua kabupaten sekaligus di Jawa Barat, yakni Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung mencatatkan luas area kawasan wisata ini mencapai 225,27 Hektare. Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan juga merupakan bagian dari kawasan Cagar Alam Gunung Papandayan, dimana TWA menjadi bagian kecil dari kawasan hutan di Gunung Papandayan yang dilindungi oleh BBKSDA dengan status Cagar Alam.

Potensi Bencana yang Ada di Taman Wisata Alam Gunung Papandayan Sebagai Gunung Api Aktif

Sebagai salah satu gunung api Stratovolcano aktif di Pulau Jawa yang sedang “tertidur” hingga saat ini, Gunung Papandayan tentu saja memiliki potensi bencana alam berupa erupsi bahkan letusan besar. Hal ini seperti yang telah terjadi pada tahun 1772, 1923, 1942, dan 2002. 1772 merupakan tahun dimana letusan terbesarnya pernah terjadi, hingga menghancurkan sekitar 40 perkampungan dan daerah longsorannya mengubur hingga 50km², serta memangkas tinggi badan gunung tersebut dari 2.885 MDPL (Meter di Atas Permukaan Laut) hingga sekarang hanya berkisar 2.665 MDPL.
Kawasan Hutan Mati Bekas Erupsi Gunung Papandayan. Sumber: Foto Pribadi Penulis. (2018)
Meskipun aktivitas kawah cenderung normal dan stabil, tak bisa dipungkiri bahwasannya gunung api ini sedang “tertidur” dalam status aktif di level: Normal. Namun di masa yang akan datang, tentu berpotensi secara mendadak terjadi erupsi besar seperti yang pernah terjadi sebelumnya dapat terulang. Hal ini menimbulkan konsiderasi risiko serius, antara status aktifnya Gunung Papandayan dengan menjadikannya sebagai sebuah Taman Wisata Alam yang menjadi perhatian utama dalam dampaknya.
ADVERTISEMENT
Namun, mitigasi bencana yang telah dilakukan dengan pengawasan yang sangat intensif dari pihak PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) bekerja sama dengan pihak pengelola wisata terhadap Gunung Papandayan untuk senantiasa memerhatikan stabilitas aktifitas vulkanik disana. Selain itu, pembuatan jalur evakuasi yang memadai bagi para pejalan kaki dengan susunan batu membentuk tangga, serta tersedianya penyewaan ojek untuk mengevakuasi wisatawan oleh pengelola, tersedia untuk membantu proses evakuasi dan menangani kecelakaan lainnya.
Jalur Evakuasi dan Pendakian TWA Gunung Papandayan. Sumber: Foto Pribadi Penulis. (2018)

Risiko Tersesat di Luasnya Area Kawasan

Sebagai salah satu destinasi alam yang cukup luas, tersesat menjadi salah satu ancaman yang ada. Akan tetapi, wisatawan tidak perlu mengkhawatirkan hal ini, di TWA Gunung Papandayan sudah banyak sekali guide atau penunjuk arah untuk menandai kawasan-kawasan yang ada disana, jadi wisatawan cukup dipermudah dengan sebaran banyaknya penunjuk arah.
ADVERTISEMENT
Contoh Papan Penunjuk Arah di Kawasan TWA Gunung Papandayan. Foto: [Wisnu Widiarta]/Wisnuwidiarta.com
Wisatawan tinggal mengikuti legenda atau penunjuk arah yang ada, apabila masih bingung-pun sudah banyak sekali petugas keamanan, staf pengelola yang stand by di penjang area TWA atau jalur pendakian. Menjadi poin plus, warung-warung yang tersedia di area tersebut. Wisatawan dapat menanyakan mengenai arah tujuan kepada orang-orang yang ada disana tanpa khawatir kebingungan arah, di beberapa area TWA-pun masih terdapat sinyal dari smartphone, sehingga wisatawan masih dapat menggunakan layanan peta digital seperti Google Maps.

Kesimpulan

Sebagai destinasi wisata yang berlokasi di area gunung api aktif, Taman Wisata Alam Gunung Papandayan pastinya tidak terlepas dari berbagai risiko yang ada. Namun, dengan riset, pengawasan, dan pengelolaan yang telah diterapkan dari berbagai pihak yang terlibat pada sebuah destinasi secara efektif dan konsisten, disertai para stakeholder yang bekerja sama dengan baik, manajemen risiko yang ada di TWA Gunung Papandayan dapat diimplementasikan dengan baik. Juga, meminimalisir potensi-potensi bencana yang terdapat di dalam area TWA, serta diharapkan mampu menjaga konsistensinya dalam perencanaan dan mitigasi penanggulangan dari risiko bencana.
ADVERTISEMENT

Referensi