Konten dari Pengguna

Bahasa Digital Mahasiswa dan Memudarnya Makna “Maaf” dan “Terima Kasih

Basri Naibaho

Basri Naibaho

Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas katolik santo Thomas medan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Basri Naibaho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa sering disebut sebagai kelompok terdidik yang kritis dan rasional. Namun, dalam praktik komunikasi sehari-hari—terutama di ruang digital—bahasa yang digunakan mahasiswa justru kerap kehilangan nilai kesantunan dasar. Kata “maaf” dan “terima kasih”, yang seharusnya menjadi fondasi etika berbahasa di dunia akademik, semakin jarang digunakan secara tulus.

Dalam lingkungan kampus, komunikasi digital menjadi kebutuhan utama. Grup kelas, pesan dosen, koordinasi organisasi, hingga urusan akademik lainnya hampir seluruhnya dilakukan melalui aplikasi pesan instan. Sayangnya, kemudahan ini sering membuat mahasiswa abai pada etika bertutur. Pesan kepada dosen atau teman kerap dikirim tanpa sapaan, tanpa “maaf” saat mengganggu waktu, dan tanpa “terima kasih” setelah mendapatkan bantuan

Banyak mahasiswa menganggap bahasa singkat sebagai hal wajar dan efisien. Balasan seperti “iya”, “ok”, atau bahkan hanya emoji dianggap cukup. Padahal, dalam konteks akademik, pilihan kata mencerminkan sikap dan kedewasaan intelektual. Ketika “terima kasih” dihilangkan, komunikasi terasa dingin dan transaksional, seolah bantuan dan waktu orang lain adalah hal yang otomatis diterima

Kata “maaf” pun mengalami pergeseran makna. Dalam diskusi kelompok atau kerja tim, kesalahan sering kali dibiarkan tanpa klarifikasi. Alih-alih meminta maaf atas keterlambatan atau kelalaian, sebagian mahasiswa memilih diam atau mencari pembenaran. Padahal, keberanian mengucapkan “maaf” justru menunjukkan tanggung jawab dan integritas pribadi—nilai yang sangat dijunjung dalam dunia akademik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah bahasa digital di kalangan mahasiswa bukan sekadar soal kebiasaan, tetapi soal empati dan kesadaran etis. Kampus seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter, termasuk dalam cara berkomunikasi. Bahasa santun bukan berarti kaku atau berjarak, melainkan mencerminkan mencerminkan rasa hormat terhadap sesama sivitas akademika.

https://chatgpt.com/s/m_6963d35b6d0081919da29c80f54fac6b

Mahasiswa sebagai calon intelektual dan pemimpin masa depan semestinya mampu menjaga makna kata-kata sederhana. Menghidupkan kembali “maaf” dan “terima kasih” dalam komunikasi digital adalah langkah kecil, tetapi berdampak besar dalam menciptakan budaya akademik yang saling menghargai dan beradab.

Pada akhirnya, kecerdasan mahasiswa tidak hanya diukur dari IPK atau kemampuan berargumentasi, tetapi juga dari cara bertutur. Sebab dari bahasa itulah, nilai-nilai intelektual dan kemanusiaan diuji.