Konten dari Pengguna

Bahasa Dosen dan Tekanan Psikologis yang Dialami Mahasiswa

Basri Naibaho

Basri Naibaho

Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas katolik santo Thomas medan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Basri Naibaho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di lingkungan perguruan tinggi, proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui penyampaian materi dan penilaian akademik, tetapi juga melalui bahasa yang digunakan dalam setiap interaksi. Bahasa dosen memiliki posisi yang sangat menentukan, karena dosen bukan sekadar pengajar, melainkan figur otoritas akademik yang ucapannya kerap dianggap sebagai kebenaran. Oleh sebab itu, cara dosen bertutur dapat membentuk iklim belajar yang mendukung pertumbuhan mahasiswa, atau sebaliknya, menciptakan tekanan psikologis yang perlahan menggerus mental.

Dalam praktik perkuliahan, kritik merupakan bagian penting dari proses belajar. Mahasiswa memang perlu diarahkan, ditegur, dan dievaluasi agar berkembang secara intelektual. Namun, persoalan muncul ketika kritik disampaikan dengan bahasa yang merendahkan, bernada sarkastik, atau mempermalukan mahasiswa di ruang publik. Kalimat seperti “masa mahasiswa tidak bisa berpikir sejauh ini” atau “kalau begini, untuk apa kuliah” sering kali dilontarkan tanpa mempertimbangkan dampak psikologisnya. Bahasa semacam ini tidak lagi berfungsi sebagai alat pendidikan, melainkan berubah menjadi sumber tekanan dan rasa tidak berharga.

Posisi dosen yang memiliki kuasa membuat mahasiswa sulit melawan atau menyampaikan ketidaknyamanan. Banyak mahasiswa memilih diam, memendam rasa kecewa, dan menerima perlakuan tersebut sebagai konsekuensi menjadi mahasiswa. Lama-kelamaan, sikap ini membentuk budaya takut salah dan takut berbicara. Mahasiswa enggan bertanya, ragu menyampaikan pendapat, dan lebih memilih aman daripada kritis. Proses pembelajaran yang seharusnya dialogis pun berubah menjadi pasif dan kaku.

Dampak bahasa yang menekan tidak selalu terlihat secara langsung. Sebagian mahasiswa mungkin tetap hadir di kelas dan menyelesaikan tugas, tetapi secara mental merasa lelah, cemas, dan kehilangan kepercayaan diri. Rasa takut dinilai bodoh atau tidak kompeten dapat memicu kecemasan akademik yang berlebihan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan motivasi belajar, menghambat perkembangan intelektual, bahkan berdampak pada kesehatan mental mahasiswa.

Sering kali, bahasa keras dibenarkan atas nama disiplin, pembentukan karakter, atau standar akademik yang tinggi. Padahal, ketegasan dan kekerasan verbal adalah dua hal yang berbeda. Ketegasan bertujuan membimbing dan memperjelas batas, sementara bahasa yang melukai justru menciptakan jarak emosional. Pendidikan yang sehat menuntut adanya empati, tanpa harus mengorbankan kualitas dan integritas akademik.

Kampus sebagai ruang intelektual seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar dari kesalahan. Kesalahan bukan aib, melainkan bagian dari proses berpikir dan berkembang. Ketika bahasa dosen memberi ruang untuk salah dan memperbaiki, mahasiswa akan tumbuh menjadi pribadi yang berani, reflektif, dan kritis. Sebaliknya, ketika bahasa digunakan untuk menghakimi, yang tumbuh bukanlah keberanian intelektual, melainkan kepatuhan dan ketakutan.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik atau reputasi institusi, tetapi juga dari bagaimana manusia di dalamnya diperlakukan. Bahasa dosen adalah cermin nilai-nilai pendidikan itu sendiri. Dosen yang mampu mengkritik dengan tegas namun manusiawi akan melahirkan mahasiswa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat secara mental dan emosional.

Pendidikan yang bermakna adalah pendidikan yang membangun, bukan menjatuhkan. Karena di balik setiap mahasiswa yang duduk di ruang kuliah, ada individu yang sedang belajar bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang kepercayaan diri, harga diri, dan makna menjadi manusia terdidik.

https://chatgpt.com/s/m_6963d76b17c481919715c35656ba03e8

Tekanan psikologis yang dialami mahasiswa akibat bahasa dosen sering kali dianggap sepele karena tidak meninggalkan luka fisik. Padahal, luka verbal justru lebih sulit disembuhkan. Mahasiswa yang berulang kali menerima komentar menjatuhkan dapat mulai meragukan kapasitas dirinya sendiri. Mereka merasa tidak cukup pintar, tidak layak berada di bangku kuliah, atau selalu salah dalam berpikir. Rasa ini perlahan membentuk mental yang rapuh dan penuh kecemasan.

Situasi menjadi semakin berat ketika tidak tersedia ruang aman untuk menyampaikan keluhan. Budaya hierarkis di kampus membuat mahasiswa enggan berbicara, takut dicap lemah, tidak siap mental, atau bahkan dianggap tidak menghormati dosen. Akhirnya, banyak mahasiswa memilih memendam tekanan tersebut sendirian. Diam menjadi bentuk pertahanan diri, meski berdampak buruk bagi kesehatan mental dan perkembangan akademik

Bahasa dosen yang menekan juga berdampak pada kualitas diskusi akademik. Mahasiswa yang takut disalahkan cenderung pasif dan hanya mengulang apa yang dianggap “aman”. Daya kritis yang seharusnya menjadi ciri utama mahasiswa justru terhambat. Kampus kehilangan fungsinya sebagai ruang dialog dan pertukaran gagasan, bergeser menjadi ruang instruksi satu arah.

Penting disadari bahwa menghargai mental mahasiswa tidak berarti menurunkan standar akademik. Tegas, disiplin, dan kritis tetap bisa dilakukan tanpa merendahkan. Bahasa yang jelas, adil, dan berempati justru akan mendorong mahasiswa bertanggung jawab atas kesalahannya dan berani memperbaiki diri. Pendidikan yang sehat menuntut keseimbangan antara tuntutan intelektual dan kemanusiaan.

Pada akhirnya, dosen dan mahasiswa berada dalam satu ekosistem pendidikan yang sama. Bahasa yang digunakan dosen akan membentuk karakter akademik mahasiswa di masa depan. Jika hari ini mahasiswa tumbuh dalam tekanan dan ketakutan, esok mereka bisa mengulang pola yang sama ketika berada di posisi berkuasa.

https://chatgpt.com/c/6963d52e-4ce8-8320-81aa-a56ee0e623db

Bahasa dosen memiliki pengaruh besar terhadap mental mahasiswa. Ucapan yang merendahkan atau mempermalukan dapat menurunkan kepercayaan diri dan membuat mahasiswa takut berpikir serta berbicara. Padahal, kritik yang disampaikan dengan empati justru membangun keberanian dan kualitas akademik.