Ketika Menyontek Menjadi Budaya: Krisis Kejujuran di Kalangan Mahasiswa

Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas katolik santo Thomas medan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Basri Naibaho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana ujian seharusnya menjadi momen bagi mahasiswa untuk menunjukkan hasil belajar yang telah mereka lakukan selama satu semester. Namun, realitas di sejumlah kampus justru menunjukkan hal yang berbeda. Masih banyak mahasiswa yang saling bertukar jawaban, membuka catatan secara diam-diam, atau memanfaatkan teknologi untuk memperoleh jawaban saat ujian. Lebih memprihatinkan lagi, tindakan tersebut sering dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan dipandang sebagai bentuk solidaritas antarteman. Ketika menyontek mulai dinormalisasi, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya nilai ujian, tetapi juga integritas dunia akademik.
Budaya menyontek tidak muncul begitu saja. Tekanan untuk memperoleh nilai tinggi, kebiasaan menunda belajar, lemahnya pengawasan, hingga anggapan bahwa "semua orang juga melakukannya" menjadi faktor yang membuat praktik ini terus bertahan. Akibatnya, mahasiswa lebih berfokus pada hasil akhir daripada proses belajar. Nilai menjadi tujuan utama, sedangkan kejujuran dianggap sebagai sesuatu yang dapat dikesampingkan.
Dalam lingkungan akademik, kejujuran merupakan salah satu nilai yang harus dijunjung tinggi. Menyontek memang bukan tindak pidana, tetapi merupakan pelanggaran etika akademik yang mencederai tujuan pendidikan. Kampus tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter yang jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas. Jika sejak bangku kuliah mahasiswa telah terbiasa memperoleh keberhasilan melalui cara yang tidak jujur, bukan tidak mungkin kebiasaan tersebut akan terbawa ke dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Fenomena ini seharusnya menjadi perhatian bersama. Perguruan tinggi perlu memperkuat pendidikan tentang integritas akademik, menerapkan sistem evaluasi yang mendorong pemahaman, serta memberikan sanksi yang adil terhadap setiap bentuk kecurangan. Di sisi lain, mahasiswa juga harus menyadari bahwa keberhasilan yang diperoleh melalui cara yang tidak jujur tidak akan pernah memberikan kepuasan maupun kebanggaan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, kualitas seorang mahasiswa tidak ditentukan semata-mata oleh angka yang tercantum pada transkrip nilai, melainkan oleh proses yang dijalani dengan kejujuran dan tanggung jawab. Kampus membutuhkan lebih banyak lulusan yang berintegritas daripada sekadar lulusan dengan nilai tinggi. Sebab, bangsa ini tidak hanya memerlukan orang-orang yang cerdas, tetapi juga pribadi yang dapat dipercaya untuk membawa perubahan di masa depan.
