Mengenal Sosok Ganjar Pranowo

Penyuka wayang mahabharata
Tulisan dari Kresna Suwardi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suara rakyat adalah suara tuhan. Demikian pentingnya gema suara rakyat, Ganjar Pranowo – Gubernur petahana Jawa Tengah – terpanggil untuk melanjutkan satu periode lagi. Kali ini dia berpasangan dengan Taj Yasin.
Di pilgub Jawa Tengah 2018 ini, Ganjar Pranowo menghadapi penantang baru, Sudirman Said yang berpasangan dengan Ida Fauziyah. Ganjar Pranowo – Taj Yasin mendapat dukungan dari empat partai: PDIP, PPP, Nasdem, dan Demokrat.
Tulisan ini tidak hendak membincang alasan dia kembali mencalonkan diri. Melainkan meneropong dua hal secara singkat. Pertama, jejak rekam Ganjar Pranowo secara personal dari sejak sebelum dia menjadi pemimpin di Jawa Tengah. Meski sepintas, masa-masa ini penting untuk ditelusuri.
Kedua, jejak rekam Ganjar Pranowo saat menjadi pemimpin di Jawa Tengah. Sebagai tulisan yang ringkas, tentu kalian pembaca bakal disuguhkan uraian yang sepintas.
Jalan Menuju Matang
Ganjar Pranowo lahir di Karanganyar, Jawa Tengah, 28 Oktober 1968. Ayahnya bernama Parmuji Pramudi Wiryo. Ibunya bernama Suparmi. Pasangan suami-istri ini memiliki enam anak. Ganjar adalah anak kelima.
Ganjar kecil tumbuh dalam norma kehidupan yang diwariskan oleh sang ayah dan ibunya. Suparmi adalah seorang ibu rumah tangga yang selalu sabar menanamkan norma-norma kehidupan kepada anak-anaknya. Sementara Parmuji adalah seorang polisi yang disiplin. Praktis Ganjar kecil menyerap kedisiplinan dari sang ayah dan keluhuran budi pekerti dari sang ibu.
Ganjar kecil menempuh pendidikan di SD dan SMP Kutoarjo. Selanjutnya dia melanjutkan ke SMA BOPKRI, Yogyakarta. Pendidikan tingginya, dia tempuh di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ganjar meminati kuliah jurusan hukum. Jurusan ini kemudian membawa Ganjar menggeluti dunia hukum. Dia memulai karirnya di bidang hukum dengan membuka kantor hukum sendiri. Dia menjadi konsultan SDM di PT Prastawana Karya Samitra.
Semasa kuliah, Ganjar tercatat sebagai seorang mahasiswa yang tidak mau berdiam diri. Dia bukan tipe mahasiswa yang puas dengan mengikuti program kuliah saja. Dengan bahasa anak sekarang: kuliah – pulang – kuliah – pulang (kupu-kupu).
Dia melibatkan diri dalam gairah aktifitas organisasi kampus. Dia bergelut di dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Mapagama (Mahasiswa Pecinta Alam Gadjah Mada). Di dua organisasi itulah, Ganjar mengisi hari-harinya selama di kampus. Di kedua organisasi itu, jiwa kepemimpinan Ganjar terasah.
Dunia aktifismenya ini justru membawanya kian terasah di dalam organisasi. Dan nampaknya karena asahan kemampuan dan gairah pengalaman yang diperoleh dari aktifisme dunia kampus, Ganjar akhirnya memiliki kemudahan dan kecakapan dalam melibatkan diri di dunia politik. Dia masuk dalam partai politik yang memiliki kedekatan secara ideologis dengan GMNI (organisasi yang menempa ketajaman aktifismenya selama di kampus), yakni PDI Perjuangan.
Jalan politik Ganjar terus naik. Melalui PDI-P, dia terpilih sebagai anggota DPR 2009-2014. Dia aktif di Komisi II: komisi yang membidani persoalan hukum. Pada saat hak angket kasus Bank Century mengheboh, Ganjar adalah salah seorang anggota di dalamnya.
Pada tahun 2013, sebelum ia tuntas menjadi anggota DPR RI, panggilan politik untuk memimpin Jawa Tengah menghampiri dirinya. Ganjar Pranowo mengabulkan panggilan itu. Dia berpasangan dengan wakilnya, Heru Sudjatmoko. Ganjar mengalahkan petahana Bibit Waluyo.
Memimpin Dengan Tegas dan Berani
Sebuah hal penting dari karakter seorang pemimpin adalah keberanian dan ketegasannya untuk menunjukkan kebenaran. Dia tidak takut berhadapan dengan siapa pun. Sikap ‘lembek’ sebagai pemimpin adalah pertanda lemah.
Ganjar Pranowo jelas menghindari hal tersebut. Dia adalah sosok yang berani menunjukkan bagian-bagian mana yang keliru dan harus dibenahi. Sebuah cerita kami uraikan di sini, cerita yang patut diacungi jempol dari seorang Ganjar, Gubernur Jawa Tengah.
Suatu kali, Ganjar melalukan inspeksi mendadak ke jembatan timbang di Subang. Dia memergoki anak buahnya melakukan pungutan liar. Pungutan liar atau pungli, kita tau, jelas merupakan tindakan tak terpuji. Pungli adalah ‘aib’ dalam pemerintahan. Birokrasi yang baik tentu saja menghindari pungli. Sebab pungli bukan saja merupakan tindakan yang menyeleweng tapi juga merugikan bagi rakyat. Itu sebabnya, di sana, Ganjar naik pitam. Dia memberi isyarat tegas: say no to pungli.
Banyak contoh lain dari kepemimpinan Ganjar Pranowo yang menunjukkan ketegasan-ketegasan semacam ini.
Selama kepemimpinannya, Ganjar menorehkan banyak prestasi. Diantaranya: Jawa Tengah mendapat penghargaan dari Komite Anti Korupsi sebab dianggap sebagai paling konsisten di dalam melawan korupsi. Masih dalam rangka melawan korupsi, Ganjar Pranowo membuat komite integritas di masing-masing SKPD. Sejumlah pejabat dan pegawai negeri sipil diinstruksikannya untuk melaporkan kekayaan mereka ke KPK. Menurut Ganjar, ini adalah suatu cara mengendalikan tindak korupsi hingga ke tingkat bawah (wartakota.co).
Perhatian Ganjar Pranowo pada dunia pendidikan juga tidak diragukan. Pada juni 2014, pria nomor satu Jateng ini membuat banyak terobosan di bidang pendidikan. Salah satunya dia membuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jateng. SMK ini dibuat untuk mengakomodir pelajar dari keluarga miskin. Sehingga tidak ada pungutan biaya pendidikan. SMK ini hadir di tiga kota: Semarang, Pati dan Purbalingga (wartakota.co).
Inilah pengenalan sepintas dari Ganjar Pranowo.
