Bintan Minta Kebijakan G to G dengan Singapura, Wisatawan Tak Perlu Karantina

Konten Media Partner
15 Oktober 2021 10:57 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Sejumlah wisatawan domestik bersantai di sebuah resort kawasan Bintan, Kepri. (Foto: ist/batamnews)
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah wisatawan domestik bersantai di sebuah resort kawasan Bintan, Kepri. (Foto: ist/batamnews)
ADVERTISEMENT
Bintan, Batamnews - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Bintan, Kepulauan Riau (Kepri), berharap Pemerintah Indonesia sesegera mungkin melaksanakan kebijakan Government to Government (G to G) dengan Singapura.
ADVERTISEMENT
Kepala Disparbud Bintan, Wan Rudi Iskandar mengatakan, Kawasan Pariwisata Lagoi sudah siap menerima wisman dari Singapura. Sebab segala fasilitas yang dibutuhkan dimasa pandemi COVID-19 sudah tersedia dengan lengkap.
Kemudian pihak pengelola Kawasan Pariwisata Lagoi sudah berkali-kali melakukan simulasi prokes, vaksin dan lainnya mulai dari Terminal Ferry Bandar Bentan Telani (BBT) sampai ke hotel-hotel.
"Tim dari Bali saja kemarin studi ke Bintan untuk mempelajari penerapan protokol kesehatan (prokes) di Lagoi," ujar Wan Rudi, kemarin.
Pemerintah Indonesia diminta segera mengupayakan untuk melakukan kerjasama G to G dengan Singapura agar wajib karantina ditiadakan bagi wisman dari Singapura yang berkunjung ke Lagoi.
ADVERTISEMENT
Sebab, wisatawan dari Singapura itu tidak lama jika berada di Lagoi (short term tourism). Jadi mereka tidak tepat atau tidak cocok diberlakukan karantina apalagi sampai isolasi selama 3-5 hari.
"Singapura itu short term tourism, jadi gak cocok pakai karantina. Seperti Korea dan Jepang juga yang karantina 5 hari di Bali. Jadi kita berharap agar wisman yang masuk dari Singapura ke Lagoi masuk dalam perjanjian dengan negara kita tidak pakai karantina lagi," jelasnya.
Namun untuk syarat lainnya harus dipenuhi seperti dalam skema Vaccinated Travel Lane (VTL). Bagi wisman yang masuk ke Lagoi hanya orang yang sudah divaksin 2 kali. Lalu mereka harus masuk pakai PCR 3X24 jam dan tentunya mentaati protokol kesehatan (prokes).
ADVERTISEMENT
Di Lagoi juga punya alat PCR sendiri sehingga semua urusan penanganan COVID-19 akan cepat. Kemudian harus pakai blue pass traving. Itu untuk tracking tamu agar meninggalkan lokasi Lagoi dengan kondisi yang baik dan juga dapat dilacak dengan siapa saja wisman itu berkontak jika terpapar COVID-19.
"Secara tindakan jika ada wisman yang positif di Lagoi maka diisolasi di ruang isolasi yang sudah disiapkan di sana. Kemudian baru dirujuk ke RSUP RAT Batu 8. Kemudian jika wisman ingin dirawat di Singapura tersedia angkutan speed yang siap mengantar ke Singapura langsung," katanya.
Soal tanggungan asuransi kesehatan sebesar USD 100 ribu itu belum diketahui seperti apa bentuknya. Sebab petunjuk teknisnya (juknis) juga belum ada. Apakah wisman dari Singapura yang sudah punya asuransi seperti Prodensial, AIA, AIG dan lainnya boleh masuk atau dalam bentuk jaminan uang langsung.
ADVERTISEMENT
Wan Rudi berharap semuanya dapat dijalankan sesuai pembahasan yang dahulu bersama lintas kementrian terkait travel bubble agar Singapura di masukkan dengan Kepri.
"Mudah-mudahan wisata kita akan lebih bangkit lagi hotel bisa operasional lagi dan karyawan bisa bekerja lagi," ucapnya.
(ary)
Baca berita lainnya di www.batamnews.co.id
Berita ini pertama kali terbit di