Konten dari Pengguna

Mahasiswa KKN 143 UNS 2026 Sulap Eceng Gondok Jadi Pupuk Organik Cair

Bayu Rizkyawan

Bayu Rizkyawan

Mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian UNS

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bayu Rizkyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKN 143 UNS bersama Kelompok Wanita Tani Melati Jaya Desa Jangglengan (10/01/2026). (Sumber: Dok. KKN 143 UNS)
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa KKN 143 UNS bersama Kelompok Wanita Tani Melati Jaya Desa Jangglengan (10/01/2026). (Sumber: Dok. KKN 143 UNS)

Nguter- Kelompok KKN 143 Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) sukses menginisiasi program keberlanjutan pangan di Desa Jangglengan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Melalui sinergi dua program kerja yang berkesinambungan, mahasiswa mengajak warga mengolah limbah eceng gondok menjadi Pupuk Organik Cair (POC) sekaligus mengoptimalkan pekarangan rumah dengan media galon bekas.

Tim mahasiswa KKN 143 dipimpin oleh Fadlyn Rizky Ardityawan bersama Andrian Jasir Fauzan, Ardelia Desyanti Roymuna, Azka Chanif Haqqani, Bagas Abrar Dio Pradana, Bayu Rizkyawan, Fadhilah Ma'rifah Ilmaningrum, Jullia Rachma Dhewi, Nada Madya Asmara, dan Radha Haunaa Anka Saputra, di bawah bimbingan Bowo Winarno, S.Si., M.Kom.

Rangkaian program ini diawali pada Sabtu (10/01/2026) dengan pelatihan pembuatan POC yang diikuti oleh 30 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati Jaya. Program kemudian berlanjut pada Senin (26/01/2026), tepat setelah dua minggu masa fermentasi pupuk selesai, dilanjutkan dengan pengaplikasian hasil pupuk tersebut pada tanaman sayur yang menggunakan galon bekas sebagai wadah media tanam.

Tahap I: Mengolah Gulma Menjadi Berkah

Proses pembuatan POC dari eceng gondok oleh Kelompok Wanita Tani Melati Jaya (10/01/2026). (Sumber: Dok. KKN 143 UNS)

Eceng gondok, tanaman yang selama ini dianggap gulma di wilayah perairan desa ternyata memiliki kandungan unsur hara tinggi untuk meningkatkan kualitas tanah. Tanaman ini dapat diolah menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.

Pada pertemuan pertama, warga diajarkan teknik pencacahan hingga proses fermentasi eceng gondok agar dapat digunakan menjadi pupuk.

Antusiasme warga langsung terlihat sejak awal pertemuan pembuatan POC. Bu Juwariyah, salah satu anggota KWT, tampak bersemangat untuk mempraktikkannya secara mandiri di rumah.

"Mas, aku meh nyobo gawe dewe, tulung dituliske resep gawene ya!" (Mas, saya mau nyoba buat sendiri, minta tolong tuliskan resep pembuatannya ya!) pintanya.

Fadlyn, selaku Ketua Pelaksana Program POC, merespons dengan sigap. "Nggih, Bu, mangke kulo print-ke tata caranipun. Niku sebenere gampil kok Bu, namung nyacah eceng gondok, ditambah toya, EM4, kalih molase perbandingan 20 : 2 : 1," jelas Fadlyn sembari merinci komposisi bahan kepada para peserta.

Hasil cacahan eceng gondok yang akan dicampur EM4 dan molase (10/01/2026). (Sumber: Dok. KKN 143 UNS)

Tahap II: Aplikasi POC dan Inovasi Galon Bekas

Dua minggu berselang, mahasiswa kembali berkumpul bersama KWT Melati Jaya untuk tahap pengaplikasian. Menariknya, Bu Juwariyah datang membawa cerita hasil eksperimen mandirinya.

"Mas, aku wes nyoba iso gae dewe tapi kok ambune kurang asem, kuwi berhasil po ra mas?" (Mas, saya sudah coba buat sendiri tapi kok baunya kurang asam, itu berhasil tidak mas?) tanyanya.

Fadlyn menjelaskan bahwa hal tersebut berkaitan dengan keseimbangan mikroorganisme. "Niku perbandingan molase dan EM4 kurang banyak dibandingkan eceng gondok dan airnya, Bu. Tapi pupuk itu tetap bisa digunakan meskipun komposisinya kurang maksimal," terangnya meyakinkan.

Sebelum pengaplikasian pupuk, anggota KWT diajak untuk membuat tempat media tanam alternatif menggunakan galon bekas. Ibu-ibu diajak untuk berkreasi dengan melukis pada galon yang akan digunakan sebagai tempat media tanam. Ibu-ibu KWT tampak kreatif mencari cara agar seluruh bagian limbah plastik terpakai. "Mbak, sisa galon yang atas bisa buat pot apa ngga?" tanya Bu Suparmi.

Ardelia, Ketua Pelaksana Program Optimalisasi Pekarangan, langsung menunjukkan contoh modifikasi. "Bisa, Bu. Buat pot gantung bisa," jawab Ardelia sembari memperlihatkan gambar potongan bagian atas galon yang disulap menjadi pot gantung estetik.

Penanaman sayur dan pengaplikasian POC dari eceng gondok oleh KWT Melati Jaya (26/01/2026). (Sumber: Dok. KKN 143 UNS)

Menuju Desa Mandiri Pangan

Interaksi aktif ini menandakan bahwa warga Desa Jangglengan sangat tertarik menerapkan sistem pertanian sirkular yang berkelanjutan. Dengan memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitar, mulai dari eceng gondok hingga sampah galon, warga kini memiliki akses terhadap sayur sehat yang bisa dipanen langsung dari teras rumah secara organik.

Foto bersama kegiatan pengaplikasian POC dari eceng gondok dan pot galon bekas oleh KWT Melati Jaya (26/01/2026). (Sumber: Dok. KKN 143 UNS)

Melalui program ini, KKN 143 UNS berharap Desa Jangglengan dapat menjadi pionir desa mandiri pangan yang ramah lingkungan dan mampu mengelola potensi limbah menjadi aset yang bernilai ekonomis.