Meikarta Siap Berikan Solusi Hunian Bak Kota Baru, Strategi Marketing atau Realita?

Tulisan dari bayu fikri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa waktu terakhir ini, pemberitaan Meikarta sebagai mega proyek kota baru dengan rencana total luas pembangunannya yang mencapai 500 hektare seakan tidak ada habisnya. Pemberitaan dimedia cetak nasional, iklan besar-besaran di televisi, baliho, dan reklame di setiap jalan di Ibu Kota bahkan di beberapa mall milik Lippo Group terdapat konter penjualan kota Meikarta. Tidak ada media yang tidak memberitakannya, sehingga menjadi sorotan dan perhatian di mata publik.
Namun seperti pepatah yang berbunyi tidak ada asap jika tidak ada api. Muncul sebuah pertanyaan, apakah semua pemberitaan tentang mega proyek Meikarta yang digadang-gadang akan seperti sebuah kota baru di kawasan Cikarang benar adanya berdasarkan fakta? Atau memang hanya sekedar kuatnya strategi yang dimainkan oleh tim marketing dari pihak pengembang dalam mem-branding Meikarta agar terbentuknya news value kepada media sehingga mendapatkan banyak pemberitaan.
Dikutip dari pemberitaan online, menurut Hermawan Kertajaya, praktisi marketing yang saat ini menjabat sebagai CEO Markplus Inc mengatakan, cara Lippo Group mempromosikan Meikarta bisa dibilang gila-gilaan. Di tengah lesunya pasar properti nasional dan pengembang lain lebih memilih mengerem belanja iklannya, Meikarta justru sebaliknya. Pemasaran yang dilakukan oleh Meikarta tidak lazimnya seperti pemasaran properti lain di Indonesia. “Ini kasus khusus. Ini bukan konteks Indonesia lagi,” ujarnya menambahkan.
Selanjutnya ia menilai, perhatian masyarakat memang menjadi tujuan dari iklan-iklan Meikarta di berbagai media. Ia pun berpandangan bahwa pemasaran yang membabi buta yang dilakukan oleh pihak Meikarta saat ini setidaknya telah menghasilkan tiga hal kepada masyarakat. Pertama, munculnya awareness (perhatian); kedua, adanya appealing (ketertarikan); dan ketiga, yang sangat menentukan adalah munculnya asking (pertanyaan) mengenai iklan yang ditawarkan tersebut.
Setidaknya melalui strategi pemasaran tersebut, per tanggal 31 Agustus 2017, Meikarta telah membukukan pesenan sebanyak 117.797 unit apartemen. Kalaupun para pemesan tersebut hanya membayar booking fee sebesar Rp2 juta guna mengamankan unit apartemen yang mereka kehendaki, rupiah yang telah diperoleh Meikarta telah sebesar Rp235,59 miliar.
Dalam perspektif realita terkait mega proyek Meikarta itu sendiri yang terlepas dari semua pemberitaan maupun iklan yang mem-branding-nya sebagai kota baru. Dikutip dari berita online, mega proyek yang berada di wilayah Kabupaten Bekasi yakni Cikarang, Jawa Barat tersebut juga nantinya didukung dengan rencana pembangunan enam mega infrastruktur pemerintah. Di antaranya, kereta cepat Jakarta-Bandung, Deep Seaport Patimban, Bandara Internasional Kertajati, Light Train APM, jalan tol Jakarta-Cikampek beserta sistem monorail yang menghubungkan semua area industrialisasi. Kota satelit Cikarang sendiri mencakup 5.000 perusahaan lokal, internasional serta 6 taman industri modern. Kawasan ini juga merupakan daerah industri otomotif Indonesia, dengan hasil produksi tahunan sekitar 1 juta mobil dan 10 juta sepeda motor.
Seperti yang dikutip dari media online, seorang pengamat ekonomi yang disebut dekat dengan pemerintah mengungkap bahwa dengan arah pembangunan saat ini, Meikarta tidak hanya menjadi pusat bisnis yang berada di sebelah timur Jakarta, tetapi juga akan menjadi pusat aktifitas ekonomi Indonesia. Meikarta dan area sekitarnya akan menjadi “boomtown” yang berkedudukan sangat penting di Indonesia. Sebagai kota metropolitan baru di Indonesia dan pusat komersial masa depan di sebelah timur Jakarta, Meikarta akan hadir sebagai “gold collar” se-Asia Tenggara, serta lahan investasi menjanjikan bagi “white collar” dengan konsep dan rencana pembangunan paling terdepan, fasilitas penunjang yang paling lengkap, sehingga membawa kehidupan kota yang lebih modern dan praktis.
Dari semua pemaparan di atas kita dapat memiliki perspektif dan pemahaman tersendiri perihal mega proyek Meikarta sebagai kota baru. Apakah memang branding tersebut terbentuk atas dasar realita yang ada? Atau memang hanya sekedar sebatas tujuan marketing dari pihak pengembang saja? Tidak ada yang tahu sampai akhirnya mega proyek tersebut sudah benar-benar rampung.
