Di Tengah Gemerlap Kemerdekaan, Jangan Lupakan Saudara Kita di Flores

Fungsional Perencana Ahli Muda dengan Latar Belakang Kesehatan Masyarakat
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bayu Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada rasa sedih yang sulit untuk diungkapkan ketika melihat kabar tentang musibah gempa bumi yang melanda Flores, Nusa Tenggara Timur. Di tengah upaya masyarakat untuk bertahan dari bencana, kehilangan, dan ketidakpastian, kita menyaksikan pula pemandangan yang begitu mengharukan: warga bahu-membahu mengumpulkan bantuan, berbagi makanan, mengirim kebutuhan dasar, dan memberikan apa yang mereka mampu untuk saudara-saudaranya yang sedang tertimpa musibah.
Mungkin bantuan itu tidak selalu besar. Tidak semuanya memiliki kemampuan untuk menyumbang dalam jumlah banyak. Tetapi justru di situlah letak keindahannya. Ada yang memberikan uang, ada yang memberikan makanan, pakaian, obat-obatan, tenaga, bahkan sekadar doa. Mereka mungkin tidak mengenal satu sama lain secara langsung, tetapi penderitaan telah mengingatkan bahwa kita adalah satu bangsa dan satu keluarga besar Indonesia.
Namun, di sisi lain negeri ini, suasananya mungkin sangat berbeda.
Di saat sebagian saudara kita di Flores sedang berjuang menghadapi dampak bencana, ada daerah-daerah lain yang sedang merayakan Hari Kemerdekaan dengan berbagai kemeriahan. Tentu, merayakan kemerdekaan bukanlah sesuatu yang salah. Kemerdekaan adalah anugerah yang patut disyukuri. Tetapi dalam situasi seperti sekarang, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: seperti apa seharusnya kita merayakan kemerdekaan ketika sebagian saudara sebangsa sedang berduka?
Bukankah kemerdekaan juga berarti memiliki rasa kepedulian terhadap sesama?
Bukankah merah putih bukan sekadar warna yang kita kibarkan, tetapi juga simbol persatuan dan kepedulian sebagai sebuah bangsa?
Tidak ada yang melarang masyarakat bergembira. Tidak ada yang mengatakan bahwa perayaan kemerdekaan harus dihentikan. Tetapi barangkali, kemeriahan tidak selalu harus diwujudkan dengan menghamburkan anggaran. Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang, perayaan sederhana justru mungkin jauh lebih bermakna.
Bayangkan jika sebagian anggaran untuk pesta, perlombaan yang berlebihan, panggung hiburan, atau kegiatan seremonial yang tidak terlalu penting dialihkan untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan.
Mungkin nilainya tidak seberapa dibandingkan kebutuhan seluruh korban bencana. Tetapi pesan kemanusiaannya akan sangat besar.
Kita bisa merayakan kemerdekaan dengan mengibarkan bendera, mengadakan doa bersama, kerja bakti, kegiatan sederhana di lingkungan, sekaligus menggalang bantuan untuk korban bencana. Dengan begitu, perayaan kemerdekaan tidak kehilangan makna, tetapi justru menemukan makna yang lebih dalam.
Kemerdekaan seharusnya tidak hanya dirayakan dengan kegembiraan, tetapi juga dengan kepedulian.
Saya terharu melihat masyarakat yang dengan segala keterbatasannya masih mau menyisihkan apa yang mereka punya untuk membantu saudara-saudaranya di Flores. Di tengah keterbatasan, mereka menunjukkan bahwa empati tidak membutuhkan kekayaan. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang masih peka terhadap penderitaan orang lain.
Karena pada akhirnya, ukuran kemerdekaan sebuah bangsa bukan hanya seberapa meriah rakyatnya dapat berpesta, tetapi juga seberapa kuat rakyatnya saling menopang ketika sebagian dari mereka sedang jatuh.
Hari ini saudara kita di Flores yang membutuhkan uluran tangan. Esok, bisa jadi kita atau keluarga kita yang berada dalam keadaan serupa.
Mari tetap merayakan kemerdekaan.
Tetapi mari merayakannya dengan cara yang lebih sederhana, lebih bijaksana, dan lebih manusiawi.
Jika ada uang yang bisa dihemat dari kemeriahan, mungkin sebagian dapat menjadi bantuan.
Jika ada makanan yang berlebih, mungkin dapat dibagikan.
Jika ada tenaga yang bisa diberikan, mari kita berikan.
Dan jika tidak ada yang bisa kita berikan selain doa, maka jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah doa.
Sebab kemerdekaan yang sesungguhnya bukanlah ketika kita bisa bergembira sendirian.
Kemerdekaan adalah ketika kita masih mampu merasakan kesedihan saudara kita sebagai kesedihan kita sendiri.
Untuk saudara-saudara kita di Flores dan Nusa Tenggara Timur, semoga diberi kekuatan, ketabahan, keselamatan, dan pertolongan. Semoga bantuan terus berdatangan dan pemulihan segera terwujud.
Dirgahayu Indonesia. Mari merdeka dengan empati.
