Konten dari Pengguna

Ujaran Negatif-Labeling "Dilarang" Secara Norma, Tapi Kok Dibudayakan?

Bayu Priyanto

Bayu Priyanto

cari tahu sebelum beritahu

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bayu Priyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata kasar yang tidak lagi dilarang (Foto: Succo)
zoom-in-whitePerbesar
Kata kasar yang tidak lagi dilarang (Foto: Succo)

Anjing lu ! Goblok ! Eh monyet ! Ujaran-ujaran yang sekarang menjadi kerap didengar oleh telinga kita sehari-hari.

Terlebih kata-kata ini banyak terlontar dikalangan remaja/anak muda yang kekinian atau yang menganggap dirinya sebagai generasi "millennials". Walaupun, banyak juga diucapkan oleh orang-orang tua.

Bahkan manusia-manusia Indonesia secara umum, dan yang tinggal di kota besar secara khusus, sudah mulai mempunyai sifat permissive (menoleransi) untuk hal tersebut.

Hal ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang katanya memiliki pendidikan rendah atau cenderung tidak berpendidikan saja dalam menggunakan ujaran-ujaran seperti itu. Jenis labelling negatif terhadap orang lain ini juga sudah menjalar ke kelompok orang-orang yang berpendidikan, tidak sedikit juga yang (bisa dikatakan) adalah role model bagi sebagian kalangan lainnya.

Sepertinya itu sudah menjadi "budaya" atau hal yang lumrah untuk diucapkan.

Padahal, jika saja kita mau berkaca dari sejarah kita masing-masing, ujaran negatif seperti itu adalah hal yang tabu untuk diucapkan.

Dalam dipergaulan sehari-hari dengan teman sepermainan, terlebih dilingkungan keluarga atau masyarakat secara umum ucapan negatif bukanlah hal yang wajar.

Dalam kajian sosiologis, hal ini masuk dalam ranah folkways yang memiliki sanksi sosial cukup berat ( bisa dimarahi atau bahkan dipukul ). Sekarang sepertinya ujaran negatif itu sudah turun menjadi ranah usage, yang hanya diperingatkan saja, atau bahkan cenderung diacuhkan.

Pendidikan-pendidikan sejenis budi pekerti atau norma adat dan sosial seperti dahulu yang pernah diberikan kepada orang-orang generasi 70 sampai 90an selayaknya harus dikembangkan lagi untuk meredam, bahkan menghilangkan pola kebudayaan yang tidak baik ini.

Mari kita mulai dari diri kita dan lingkungan terdekat kita. Jangan malah menjadikan kita sebagai "model" pembiaran dari membudayanya pengucapan ujaran-ujaran/labeling negatif ini.