Strategi Bisnis Butuh SDM yang Tepat: Belajar dari Gojek

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prodi Manajemen, Universitas Pamulang.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Bayu Putra Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, perusahaan dituntut untuk terus beradaptasi agar mampu bertahan dan bersaing. Perubahan bisnis tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi atau pengembangan produk, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Sebuah perusahaan mungkin memiliki strategi bisnis yang bagus, tetapi strategi tersebut tidak akan berjalan maksimal apabila tidak didukung oleh tenaga kerja yang tepat. Oleh karena itu, perencanaan SDM dan perencanaan bisnis harus berjalan beriringan.

Salah satu perusahaan yang menarik untuk dibahas dalam hal ini adalah PT Gojek Indonesia. Sebagai perusahaan berbasis teknologi yang menyediakan layanan transportasi, pesan-antar makanan, pembayaran, dan berbagai layanan digital lainnya, Gojek membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengikuti perkembangan bisnis digital.
Mengapa Perencanaan SDM Harus Sejalan dengan Bisnis?
Perencanaan SDM merupakan proses memperkirakan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan jumlah, kualitas, keterampilan, dan kompetensi yang diperlukan perusahaan. Sementara itu, perencanaan bisnis berhubungan dengan tujuan, strategi, dan langkah perusahaan untuk mencapai target yang telah ditentukan.
Keduanya memiliki hubungan yang erat. Ketika perusahaan ingin mengembangkan layanan baru, memperluas pasar, atau menggunakan teknologi yang lebih modern, perusahaan juga harus memikirkan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menjalankan rencana tersebut.
Sebagai contoh, perusahaan yang ingin memperkuat layanan digital tentu membutuhkan karyawan dengan kemampuan teknologi, pengolahan data, pemasaran digital, dan pengembangan produk.
Menurut Endari (2009), pengintegrasian perencanaan SDM dengan perencanaan strategis dapat membantu perusahaan membangun keunggulan bersaing. Artinya, SDM bukan hanya bagian yang mengurus administrasi karyawan, melainkan salah satu faktor penting dalam keberhasilan strategi perusahaan.
Mengenali Kebutuhan dan Kemampuan Karyawan
Sebelum menentukan apakah perusahaan perlu menambah tenaga kerja atau mengembangkan karyawan yang sudah ada, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengetahui kondisi SDM saat ini.
Salah satu caranya melalui audit SDM. Audit ini dilakukan dengan melihat jumlah karyawan, kemampuan, kompetensi, hasil kerja, serta kesesuaian antara posisi pekerjaan dan keterampilan yang dimiliki.
Hasil pemeriksaan tersebut kemudian dibandingkan dengan kebutuhan perusahaan. Dari sini, perusahaan dapat mengetahui apakah terdapat kesenjangan kompetensi atau skill gap.
Misalnya, sebuah perusahaan membutuhkan karyawan yang mampu mengoperasikan teknologi digital, tetapi sebagian karyawan masih belum memiliki kemampuan tersebut. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi yang tersedia dan kompetensi yang dibutuhkan.
Dengan mengetahui kesenjangan tersebut, perusahaan dapat menentukan langkah yang tepat, seperti memberikan pelatihan, melakukan pendampingan, memindahkan karyawan ke posisi yang lebih sesuai, atau merekrut tenaga kerja baru.
Tantangan Gojek dalam Menghadapi Perubahan Bisnis Digital
Perkembangan bisnis digital membuat kebutuhan kompetensi tenaga kerja semakin beragam. Hal ini dapat dilihat melalui studi kasus PT Gojek Indonesia.
Sebagai perusahaan yang menyediakan berbagai layanan berbasis teknologi, Gojek membutuhkan dukungan SDM yang tidak hanya memahami kegiatan operasional, tetapi juga memiliki kemampuan di bidang teknologi, analisis data, pemasaran digital, dan pengembangan produk.
Tantangan yang dapat dianalisis dari kondisi tersebut adalah bagaimana perusahaan menyesuaikan kemampuan karyawan dengan perkembangan layanan digital.
Perbedaan kemampuan teknologi antarkaryawan juga dapat menjadi kendala. Tidak semua karyawan memiliki tingkat pemahaman dan keterampilan digital yang sama. Jika kondisi ini tidak diperhatikan, perusahaan dapat mengalami kesulitan dalam menjalankan strategi bisnisnya.
Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan pemetaan kompetensi secara berkala agar dapat mengetahui kemampuan yang sudah dimiliki karyawan dan keterampilan apa saja yang masih perlu dikembangkan.
Lebih Baik Melatih Karyawan atau Merekrut Karyawan Baru?
Salah satu keputusan penting dalam perencanaan SDM adalah menentukan apakah kebutuhan tenaga kerja dapat dipenuhi melalui pelatihan karyawan lama atau harus melakukan rekrutmen baru.
Keduanya memiliki kelebihan dan perlu disesuaikan dengan kondisi perusahaan.
Pelatihan menjadi pilihan apabila karyawan yang sudah ada memiliki dasar kemampuan yang cukup dan masih memungkinkan untuk dikembangkan. Melalui pelatihan, pendampingan, dan pembelajaran berkelanjutan, perusahaan dapat meningkatkan keterampilan karyawan tanpa harus selalu mencari tenaga kerja baru.
Namun, apabila perusahaan membutuhkan keahlian khusus dalam waktu singkat dan kemampuan tersebut belum tersedia di lingkungan internal, rekrutmen karyawan baru dapat menjadi pilihan yang lebih tepat.
Sebagai contoh, jika Gojek membutuhkan tenaga ahli di bidang pengembangan teknologi tertentu, perusahaan dapat mempertimbangkan perekrutan tenaga kerja yang memiliki keahlian tersebut. Sementara itu, karyawan yang sudah bekerja dapat diberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan digitalnya.
Dengan demikian, pelatihan dan rekrutmen bukanlah dua pilihan yang harus dipertentangkan. Perusahaan dapat menggunakan keduanya secara bersamaan sesuai kebutuhan masing-masing bidang.
Evaluasi SDM Menentukan Keberhasilan Strategi Perusahaan
Perencanaan SDM tidak berhenti setelah karyawan direkrut atau program pelatihan dilaksanakan. Perusahaan juga perlu melakukan evaluasi untuk mengetahui apakah langkah yang diambil sudah memberikan hasil sesuai harapan.
Evaluasi dapat dilakukan dengan melihat peningkatan keterampilan karyawan, hasil pelatihan, kinerja, kesesuaian penempatan kerja, serta kontribusi SDM terhadap pencapaian target perusahaan.
Apabila hasil evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan karyawan belum sesuai dengan kebutuhan bisnis, perusahaan perlu memperbaiki program pengembangan atau menyesuaikan kembali strategi pemenuhan tenaga kerja.
Dengan evaluasi yang dilakukan secara berkala, perusahaan dapat mengetahui kekurangan yang masih perlu diperbaiki sekaligus mempersiapkan kebutuhan tenaga kerja untuk menghadapi perubahan di masa mendatang.
Kesimpulan
Perencanaan SDM dan perencanaan bisnis merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Strategi perusahaan yang baik membutuhkan tenaga kerja yang memiliki jumlah, kemampuan, dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Melalui studi kasus Gojek, dapat dipahami bahwa perkembangan bisnis digital menuntut perusahaan untuk terus menyesuaikan kemampuan tenaga kerjanya. Pemetaan kompetensi, audit SDM, pelatihan, rekrutmen, dan evaluasi menjadi langkah penting dalam menghadapi perubahan tersebut.
Pada akhirnya, keberhasilan perusahaan bukan hanya ditentukan oleh seberapa baik strategi bisnis yang dibuat, tetapi juga oleh kesiapan orang-orang yang menjalankannya. Sebab, teknologi dapat membantu perusahaan berkembang, tetapi sumber daya manusia tetap menjadi bagian penting dalam mewujudkan tujuan bisnis.
Penulis: Kelompok 5
1. Alea Salsabila P.
2. Azizah Rahmawati
3. Bayu Putra S.
4. Lutfiah Apriyani
5. Ira Iryasa
6. Syahrul Gunawan
Universitas Pamulang
