Konten dari Pengguna

Abdullah Nashih Ulwan : Pola Asuh Orang Tua

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bayu Susena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto https://www.pexels.com/id-id/foto/pengajaran-islam-tradisional-di-jakarta-36468117/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto https://www.pexels.com/id-id/foto/pengajaran-islam-tradisional-di-jakarta-36468117/

Kitab klasik berbahasa Arab berjudul Tarbiyah al-Aulād fī al-Islām, karya seorang ulama pendidikan bernama Abdullah Nashih Ulwan. Judulnya sederhana yaitu Pola Asuh Orang Tua dalam Kitab Tarbiyah al-Aulād fī al-Islām. Kitab berumur puluhan tahun tetapi gagasannya masih relevan dengan persoalan pengasuhan anak hari ini, termasuk di Indonesia.

Siapa sebenarnya Abdullah Nashih Ulwan? Dalam kitabnya, Ulwan menyusun gagasannya secara runtut ke dalam tiga bagian besar. Bagian pertama membahas pernikahan ideal dan kaitannya dengan pendidikan anak, sisi psikologis anak, hukum-hukum seputar bayi yang baru lahir, hingga sebab-sebab kenakalan anak dan cara menanganinya. Bagian kedua, yang menjadi inti dan paling tebal, membahas tujuh tanggung jawab pendidik terhadap anak yaitu pendidikan iman, pendidikan moral atau akhlak, pendidikan fisik, pendidikan intelektual, pendidikan psikologis, pendidikan sosial, dan pendidikan seksual. Bagian ketiga menutup dengan faktor-faktor yang memengaruhi pendidikan anak, dasar-dasar fundamental dalam mendidik, serta saran-saran pedagogis bagi orang tua.

Dari struktur itu terlihat bahwa Ulwan tidak memandang pengasuhan sebagai urusan sepotong-sepotong. Ia meletakkan tujuh dimensi tadi sebagai satu kesatuan yang saling menopang. Anak yang kuat imannya tapi lemah kesehatan fisiknya, menurut kerangka ini, sama tidak lengkapnya dengan anak yang cerdas secara akal namun rapuh secara psikologis.

Jika dilihat dari sudut pandang psikologi anak, memang benar-benar mencakup ketujuh aspek tersebut sekaligus yaitu keimanan, akhlak, fisik, psikologi, akal, sosial, dan seksual. Jarang ada rujukan pendidikan anak yang berani memasukkan pendidikan seksual sebagai bagian resmi dari tanggung jawab orang tua, sesuatu yang di banyak keluarga justru masih dianggap tabu untuk dibicarakan.

Teori pola asuh yang lebih umum, yang dipakai para ahli seperti Syaiful Bahri Djamarah. Djamarah sendiri mengenal setidaknya lima belas gaya pengasuhan, mulai dari gaya otoriter yang serba memaksa dan menutup ruang diskusi, gaya fathernalistik yang menempatkan ayah sebagai pusat segalanya, gaya karismatik yang bertumpu pada wibawa batin orang tua, hingga gaya melebur diri yang menonjolkan kedekatan emosional. Dari belasan gaya itu, dua di antaranya paling menonjol ketika dicocokkan dengan isi kitab Ulwan, yaitu gaya demokratis dan gaya pelopor.

Gaya demokratis adalah pola asuh yang meletakkan anak sebagai manusia mulia yang kepentingannya perlu diselaraskan, bukan didikte. Orang tua dengan gaya ini bersedia menerima saran dari anak, memaafkan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, dan lebih memilih memberi arahan serta nasihat daripada menghukum secara sepihak. Ciri utamanya adalah adanya ruang dialog, anak boleh berpendapat, kreativitas dan inisiatifnya tidak dipangkas hanya demi menuruti keinginan orang tua.

Sementara gaya pelopor menonjolkan sisi lain, yaitu keteladanan. Dalam pola ini orang tua memosisikan diri sebagai role model, sebagai sosok yang lebih dulu melakukan kebaikan sebelum memintanya dari sang anak. Prinsipnya sederhana namun berat dijalankan. Jangan menyuruh anak melakukan sesuatu yang orang tua sendiri belum pernah melakukannya. Gaya pelopor ini, cocok diterapkan pada anak di semua jenjang usia, karena keteladanan tidak mengenal batas umur untuk ditiru.

Pola asuh dalam kitab Tarbiyah al-Aulād fī al-Islām pada dasarnya adalah pola asuh yang demokratis sekaligus berbasis keteladanan. Pola atau desain pengasuhan yang digagas Ulwan adalah cara orang tua merawat, menjaga, dan mendidik anak dengan metode-metode yang efektif, yakni keteladanan, pembiasaan, nasihat, perhatian atau pengawasan, dan hukuman yang bersifat mendidik.

Metode ini disusun secara berjenjang, mulai dari yang paling lembut, yaitu memberi contoh langsung, sampai yang paling keras, yaitu hukuman, yang hanya digunakan sebagai jalan terakhir dan tetap harus bermuatan edukatif, bukan sekadar pelampiasan emosi orang tua. Tujuan akhirnya adalah mempersiapkan anak yang memiliki kematangan mental, moral, spiritual, intelektual, sekaligus etos sosial, satu paket yang tidak bisa dipisah-pisah.

Kitab Ulwan sebagai karya yang lengkap dan komprehensif karena setiap pembahasannya selalu disandarkan pada dalil, baik dari Al-Qur'an, hadis, maupun pendapat ulama. Rujukan itu hanya dipakai secukupnya untuk memperkuat argumen keislaman, bukan untuk menggantikannya.

Kitab Ulwan tidak membahas secara spesifik fase-fase perkembangan anak. Nasihat yang diberikan cenderung bersifat umum, tanpa penekanan berbeda untuk anak balita, anak sekolah dasar, atau remaja, padahal kebutuhan psikologis mereka jelas berbeda. Metode Ulwan terbatas pada kerangka keislaman semata, sesuatu yang bisa dimaklumi mengingat latar belakang budaya dan keilmuan Ulwan yang memang berakar kuat pada tradisi Islam.

Pola asuh bukan sekadar cara orang tua mengasuh secara naluriah, melainkan pola atau desain yang sengaja dibangun untuk merawat, menjaga, dan mendidik anak. Sementara orang tua didefinisikan bukan hanya sebagai pihak yang melahirkan atau membesarkan secara biologis, melainkan sebagai pendidik yang mengajarkan ilmu agama maupun umum, melatih keterampilan fisik anak, menjaga kesehatan jasmani dan rohaninya, serta membimbing akhlak dan budi pekertinya sesuai tahapan usia. Peran orang tua, dari sekadar "yang penting anak diberi makan dan disekolahkan" menjadi tanggung jawab yang jauh lebih menyeluruh dan disengaja.

Kewajiban orang tua untuk memelihara dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya sejalan dengan gagasan Ulwan tentang mengembangkan potensi dan bakat anak sekaligus memahami sisi psikologisnya agar komunikasi keluarga berjalan baik. Dalam kitab Ulwan, mulai dari keimanan sampai seksualitas, ditemukan selaras dengan semangat mengembangkan potensi peserta didik secara utuh. Peran pendidik dalam mengembangkan potensi anak didik secara menyeluruh, mulai dari sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, hingga keterampilan. Pengasuh memiliki keikhlasan, ilmu, ketakwaan, kesabaran, dan rasa tanggung jawab,

Orang tua atau pengasuh agar tidak berhenti pada tataran mengetahui atau mengajarkan nilai-nilai pengasuhan, tetapi benar-benar mempraktikkannya dalam keseharian, sebab menurut logika pola pelopor yang dibahas, anak jauh lebih banyak belajar dari apa yang dilihatnya dilakukan orang tua ketimbang dari apa yang hanya didengarnya sebagai nasihat.

Kitab yang ditulis puluhan tahun lalu, jauh dari hiruk-pikuk media sosial dan gawai yang membentuk masa kecil anak-anak hari ini, ternyata masih punya kerangka berpikir yang relevan untuk menjawab persoalan pengasuhan zaman sekarang. Bukan karena isinya kaku dan harus ditelan mentah-mentah, melainkan karena inti persoalannya tidak banyak berubah, yaitu bagaimana membesarkan anak yang utuh secara iman, akhlak, tubuh, pikiran, jiwa, hubungan sosial, dan pemahaman tentang dirinya sendiri, sekaligus dengan cara yang penuh keteladanan, bukan sekadar perintah.