Bencana adalah Panggilan untuk Pulang ke Jalan Allah

Saya bekerja di Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Memiliki latar belakang pendidikan di bidang hukum dan saat ini aktif mengembangkan kemampuan menulis di berbagai media.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bayu Susena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini kita kerap menyaksikan dan mendengar berita tentang berbagai bencana alam. Mulai dari gunung Meletus, abu vulkanik, banjir, tanah longsor, gempa bumi, hingga perubahan iklim yang ekstrem. Dalam pandangan umum atau sains modern, bencana sering kali dipandang murni sebagai fenomena geologis dan hukum alam semata. Sebagai hamba yang beriman, Islam mengajarkan kita untuk tidak memisahkan antara hukum alam dan keterlibatan spiritual.
Seperti yang sering ditegaskan oleh para ulama kita, salah satunya Ustadz Adi Hidayat, fenomena alam dan krisis kehidupan sesungguhnya memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan dinamika moral dan spiritual manusia.
Kerusakan alam tidak terjadi dalam ruang hampa. Allah SWT telah memperingatkan kita secara eksplisit dalam Al-Qur'an, Surah Ar-Rum ayat 41 yaitu Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Secara fisik, eksploitasi alam yang berlebihan dan perilaku tidak bertanggung jawab memicu ketidakseimbangan ekosistem. Namun secara teologis dan spiritual, bencana dihadirkan oleh Allah sebagai peringatan Ilahi. Bencana adalah teguran kasih sayang dari Allah agar manusia sadar akan keterbatasannya, menghentikan kesombongan, dan berhenti melampaui batas (israf).
Sains dan ilmu pengetahuan mengajarkan kita mitigasi fisik. Membangun rumah tahan gempa, menanam pohon, dan menjaga kebersihan sungai. Tentu ini sangat penting dan wajib kita lakukan. Sudut pandang epistemologi Islam mengajarkan satu hal yang tak kalah penting, yaitu mitigasi spiritual melalui Muhasabah (evaluasi diri).
Ketika ujian dan bencana datang, jangan hanya menyalahkan alam. Mari kita bersimpuh dan melakukan introspeksi. Pembersihan Diri. Mari kita evaluasi apakah ada penyimpangan moral, kesombongan, kezaliman, atau kelalaian sosial yang telah kita lakukan. Memperbanyak Istighfar. Istighfar bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan mekanisme pembersih jiwa dari dosa-dosa yang selama ini mengotori kesadaran kita.
Menganggap bencana semata-mata sebagai fenomena alam acak tanpa pesan spiritual adalah bentuk kelalaian yang memutus hubungan moral antara kita sebagai hamba, alam sebagai ciptaan, dan Allah sebagai Sang Pencipta.
Dalam hidup ini berlaku hukum Sunnatullah. Ada hukum alam (kauniyah), dan ada hukum syariat (syari'iyah). Kedua hukum ini berjalan beriringan dalam sebuah algoritma spiritual. Apabila suatu masyarakat dipenuhi oleh ketakwaan, penegakan keadilan, dan kepedulian terhadap lingkungan, maka Allah berjanji akan membuka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi. Sebaliknya, ketika pelanggaran, kezaliman, dan perusakan alam merajalela, maka yang terjadi adalah disrupsi ekologis dan ketidaktenangan hidup.
Penyelesaian krisis hidup dan krisis lingkungan harus dilakukan secara holistik. Kita jalankan mitigasi fisik secara profesional, dan di saat yang sama, kita perkuat resiliensi spiritual kita. Kita perbaiki hubungan kita dengan Allah (Hablum minallah), hubungan dengan sesama manusia (Hablum minannas), serta hubungan kita dengan alam sekitar (Hablum minal 'alam).
Setiap bencana adalah panggilan untuk pulang. Pulang ke jalan Allah, menundukkan hati yang sombong, dan memperbanyak istighfar. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi negeri kita dari berbagai bencana, mengampuni dosa-dosa kita, dan membimbing kita menjadi hamba-hamba-Nya yang selalu bertakwa.
