Gajah dan Banteng, dari Hutan Tropis ke Panggung Politik

Saya bekerja di Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Memiliki latar belakang pendidikan di bidang hukum dan saat ini aktif mengembangkan kemampuan menulis di berbagai media.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Bayu Susena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah riuhnya peta politik Indonesia, simbol-simbol binatang sering kali menjadi penanda identitas partai. Dua di antaranya yang paling mencolok: banteng dan gajah. Namun, di balik makna politiknya, keduanya adalah satwa liar yang luar biasa, kaya akan nilai ekologis dan budaya. Mari kita selami sejenak siapa mereka di alam, dan bagaimana mereka tampil sebagai wajah partai politik Indonesia.
Gajah, Raksasa Hutan yang Lembut dan Bijaksana
Gajah dikenal sebagai mamalia darat terbesar di dunia. Indonesia sendiri memiliki subspesies yang sangat istimewa. Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus). Sayangnya, keberadaan mereka kini semakin terdesak.
Gajah Sumatra memiliki tubuh lebih kecil dibandingkan kerabatnya di Afrika. Telinganya mungil, gading hanya dimiliki oleh jantan, dan tulang rusuknya lebih banyak. Tapi jangan tertipu oleh tubuhnya yang besar dan berat. Gajah adalah makhluk sosial yang cerdas, setia pada kelompok, dan sangat peduli terhadap sesamanya.
Di alam, gajah memainkan peran vital sebagai "tukang kebun hutan." Mereka menyebar biji, membuka jalur hutan, dan menciptakan ruang hidup bagi banyak makhluk lain. Tapi kehidupan mereka tak mudah: perusakan hutan, perburuan, dan konflik dengan manusia terus mengancam.
Banteng, Kuat, Tegap, dan Pemalu
Berbeda dengan gajah yang terkesan megah dan tenang, banteng (Bos javanicus) adalah satwa liar yang gagah dan cenderung pemalu. Satwa asli Asia Tenggara ini bisa ditemui di Jawa, Bali, dan sebagian Kalimantan. Tingginya mencapai 1,5meter dengan berat hingga 800 kg.
Ciri khas banteng, warna tubuh jantan yang hitam mengilap, betina yang kecoklatan, dan kaki putih seperti memakai "kaus kaki." Tanduk mereka melengkung indah, menjadi salah satu daya tarik sekaligus alasan mereka diburu.
Meski kelihatan kuat, banteng hidup dalam kelompok kecil dan cukup berhati-hati terhadap lingkungan sekitar. Mereka aktif di pagi dan sore hari, memakan rumput dan daun, serta memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sebagai pemakan tumbuhan besar.
Sayangnya, nasib banteng tak lebih baik dari gajah. Mereka masuk dalam daftar satwa “Terancam Punah”. Ancaman terbesar datang dari perusakan hutan, perburuan liar, dan kawin silang dengan sapi ternak yang merusak kemurnian genetiknya.
Ketika Binatang Menjadi Simbol Politik
Di dunia politik Indonesia, simbol binatang bukan sekadar hiasan. Banteng telah lama menjadi lambang PDI Perjuangan, mencerminkan semangat perjuangan, keberanian, dan kekuatan rakyat. Sosok banteng dianggap mewakili ketegasan dan konsistensi dalam menghadapi tekanan politik.
Sementara itu, gajah belakangan mulai muncul di ranah politik sebagai simbol baru. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengadopsi gajah sebagai lambang baru mereka, terutama setelah menyelenggarakan Rakernas dan memilih ketua umum baru. Bagi PSI, gajah mencerminkan kebijaksanaan, ingatan yang kuat, dan solidaritas. Nilai-nilai yang ingin mereka tanamkan dalam gerak langkah politik mereka ke depan.
Pemilihan gajah oleh PSI bukan tanpa makna. Ini bisa dibaca sebagai upaya tampil lebih dewasa, menonjolkan pendekatan yang strategis dan kolektif, serta membedakan diri dari simbol-simbol politik lama yang penuh perlawanan. Di tengah politik yang kerap gaduh, mungkin PSI ingin menunjukkan bahwa kekuatan tak selalu berarti gebrakan keras, tapi juga ketenangan dan keteguhan seperti gajah.
Membaca Arah Lewat Simbol
Dalam budaya, binatang kerap menjadi cermin nilai dan watak. Dalam politik, simbol binatang bisa membantu publik memahami arah, karakter, dan bahkan gaya kepemimpinan partai.
Banteng adalah simbol kekuatan rakyat yang siap menanduk ketidakadilan.
Gajah adalah simbol ketenangan dan kecerdasan yang berjejak dalam sejarah panjang.
Apapun pilihan simbolnya, yang penting adalah bagaimana nilai-nilai itu diwujudkan dalam tindakan nyata, baik untuk rakyat maupun untuk bumi tempat satwa-satwa ini masih berjuang bertahan hidup.
Melihat gajah dan banteng dari dua sisi yaitu alam dan politik. Mengingatkan kita bahwa kekuatan dan kebijaksanaan bisa berjalan berdampingan. Bahwa perjuangan bisa dilakukan dengan cara yang beragam. Dan bahwa di balik simbol-simbol itu, ada kehidupan yang nyata, yang juga perlu kita jaga.
Mungkin saatnya para politisi tidak hanya memakai simbol satwa sebagai lambang partai, tapi juga ikut andil dalam menyelamatkan mereka di alam nyata. Karena menyelamatkan gajah dan banteng bukan hanya soal konservasi, tapi juga soal peradaban.
