Konten dari Pengguna

Mengapa Ayat Surat Ar-Rahman Diulang 31 Kali? Ini Hikmah Besar di Baliknya

Bayu Susena

Bayu Susena

Saya bekerja di Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Memiliki latar belakang pendidikan di bidang hukum dan saat ini aktif mengembangkan kemampuan menulis di berbagai media.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bayu Susena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumen Pribadi: Masjid Istiqlal Jakarta
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi: Masjid Istiqlal Jakarta

Di antara seluruh surat dalam Al-Qur’an, ada satu surat yang memiliki keunikan yang langsung terasa bahkan bagi umat Islam yaitu Surah Ar-Rahman. Surat ini sering disebut sebagai salah satu surat paling indah dalam Al-Qur’an karena ritmenya yang kuat, pesan spiritualnya yang dalam, dan terutama karena adanya satu ayat yang diulang berkali-kali.

Ayat itu berbunyi:

"Fa bi ayyi ālā’i rabbikumā tukadzdzibān"

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ayat ini bukan sekadar pengulangan biasa. Dalam Al-Qur’an, kalimat tersebut diulang 31 kali dalam satu surat yang totalnya hanya 78 ayat. Artinya, hampir setengah isi surat ini dipenuhi oleh satu pertanyaan yang sama. Mengapa Al-Qur’an mengulang satu ayat sebanyak itu? Apakah ini hanya gaya bahasa? Ataukah ada pesan spiritual yang sangat kuat di baliknya?

Pertanyaan ini telah lama dibahas oleh para mufasir dan peneliti Al-Qur’an. Dari kajian tafsir klasik hingga penelitian akademik modern, pengulangan dalam Surah Ar-Rahman ternyata menyimpan hikmah yang sangat mendalam baik dari sisi bahasa, teologi, maupun psikologi manusia.

Surah yang Dibuka dengan Nama Kasih Sayang Tuhan

Surah ini dimulai dengan satu kata yang sangat kuat yaitu Ar-Rahman.

Nama ini adalah salah satu dari nama Allah yang paling menggambarkan kasih sayang yang luas dan meliputi segala sesuatu. Berbeda dengan kata Ar-Rahim yang sering dipahami sebagai kasih sayang yang khusus, Ar-Rahman menggambarkan rahmat yang melimpah kepada seluruh makhluk tanpa kecuali.

Setelah itu, ayat-ayat awal Surah Ar-Rahman menyebutkan berbagai nikmat besar:

1. Allah mengajarkan Al-Qur’an

2. Allah menciptakan manusia

3. Allah mengajarkan manusia kemampuan berbicara

4. Matahari dan bulan berjalan dengan perhitungan

5. Tumbuhan dan pepohonan tunduk kepada-Nya

6. Langit ditinggikan dengan keseimbangan

Semua ini adalah gambaran tentang tatanan kosmos yang penuh rahmat. Alam semesta tidak berdiri secara acak, tetapi berjalan dalam harmoni yang rapi.

Lalu setelah menyebutkan satu atau beberapa nikmat, muncul pertanyaan yang sama yaitu “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Secara tekstual, kalimat “Fa bi ayyi ālā’i rabbikumā tukadzdzibān” muncul 31 kali dalam Surah Ar-Rahman.

Strukturnya juga sangat menarik. Ayat ini muncul sebagai refrein atau pengulangan tematik setelah penyebutan berbagai nikmat Tuhan. Dalam ilmu balaghah (retorika bahasa Arab), pola seperti ini disebut taqrir al-ma’na, yaitu pengulangan untuk menegaskan makna.

Dengan kata lain, pengulangan tersebut bukan sekadar repetisi, tetapi penegasan yang sengaja dirancang untuk memperdalam kesadaran pembaca.

Jika kita membaca Surah Ar-Rahman secara perlahan, akan terasa bahwa ayat itu bekerja seperti gema yang terus kembali. Setiap kali manusia mendengar daftar nikmat Tuhan, pertanyaan itu kembali muncul. Seolah-olah Al-Qur’an sedang berkata:

“Setelah semua ini, masihkah kamu mengingkari nikmat Tuhan?”

Ada detail menarik dalam ayat tersebut. Kata “rabbikumā” menggunakan bentuk dua (dual) dalam bahasa Arab. Artinya, ayat itu tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga kepada jin.

Ini berarti Surah Ar-Rahman secara langsung berbicara kepada dua jenis makhluk berakal sekaligus yaitu manusia dan jin.

Pesannya menjadi semakin kuat karena seluruh makhluk berakal yang hidup di alam ini menerima nikmat Tuhan. Maka keduanya ditanya dengan pertanyaan yang sama.

Bahkan dalam beberapa riwayat tafsir disebutkan bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh Nabi, para jin merespons dengan mengatakan “Kami tidak mendustakan satu pun nikmat-Mu, wahai Tuhan kami.”

Dalam ilmu bahasa, pengulangan adalah teknik yang sangat kuat. Banyak karya sastra menggunakan repetisi untuk menciptakan penekanan emosional.

Namun dalam Surah Ar-Rahman, pengulangan ini bekerja pada level yang lebih dalam.

Setiap kali manusia membaca ayat itu, ia dipaksa untuk berhenti sejenak dan berpikir.

1. Setelah menyebut matahari dan bulan

2. Setelah menyebut keseimbangan alam

3. Setelah menyebut penciptaan manusia

4. Setelah menyebut surga

Pertanyaan itu kembali muncul.

Seakan-akan Al-Qur’an sedang mengetuk hati manusia berkali-kali.

Dalam psikologi komunikasi, metode ini dikenal sebagai reinforcement yaitu penguatan pesan melalui pengulangan.

Pesan yang diulang berkali-kali akan lebih mudah tertanam dalam ingatan dan kesadaran.

Jika kita membaca Surah Ar-Rahman dengan tenang, kita akan menyadari bahwa pengulangan itu memiliki ritme yang hampir seperti dzikir.

Ayat tersebut berfungsi seperti pengingat yang terus Kembali.

Nikmat Tuhan itu begitu banyak.

Namun manusia sering lupa.

Kita terbiasa dengan udara yang kita hirup, air yang kita minum, atau bumi yang kita pijak. Karena terlalu biasa, nikmat itu tidak lagi terasa luar biasa.

Surah Ar-Rahman seakan mengembalikan kesadaran itu.

Setiap nikmat disebutkan. Lalu manusia ditanya:

Apakah kamu masih mengingkarinya?

Pertanyaan ini bukan hanya untuk orang yang menolak Tuhan. Ia juga menjadi refleksi bagi orang beriman yang kadang lupa bersyukur.

Banyak peneliti Al-Qur’an menyebut Surah Ar-Rahman sebagai salah satu surat dengan struktur sastra paling indah.

Secara garis besar, surat ini terbagi menjadi tiga bagian besar:

1. Nikmat di dunia

Bagian awal surat menggambarkan berbagai nikmat Tuhan di alam semesta:

a. penciptaan manusia

b. keseimbangan alam

c. tumbuhan dan buah-buahan

d. laut dan mutiara

Setelah setiap bagian, ayat pengulangan muncul.

2. Gambaran hari kiamat

Kemudian surat ini menggambarkan kehancuran kosmos dan keadaan manusia pada hari pengadilan.

Pertanyaan yang sama kembali muncul:

Nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?

3. Gambaran surga

Bagian akhir surat menggambarkan kenikmatan surga dengan sangat detail:

a. taman-taman yang hijau

b. mata air yang mengalir

c. buah-buahan yang melimpah

d. pasangan yang indah

Di sini pengulangan ayat tetap hadir, seolah mengajak manusia menyadari bahwa semua kenikmatan itu adalah karunia Tuhan.

Ada satu hikmah besar dari pengulangan tersebut yaitu membongkar kesombongan manusia.

Manusia sering merasa mandiri dan kuat. Kita merasa bahwa pencapaian kita adalah hasil kerja keras sendiri.

Namun Surah Ar-Rahman mengingatkan bahwa hampir semua hal yang kita nikmati sebenarnya di luar kendali kita.

Misalnya:

1. kita tidak menciptakan matahari

2. kita tidak menciptakan udara

3. kita tidak menciptakan hujan

4. bahkan kita tidak menciptakan tubuh kita sendiri

Semua itu adalah pemberian.

Karena itu, pertanyaan dalam Surah Ar-Rahman sebenarnya adalah tantangan terhadap kesombongan manusia.

Jika semua ini adalah nikmat Tuhan, maka bagaimana mungkin manusia masih mengingkarinya?

Banyak ulama menyebut Surah Ar-Rahman sebagai surah syukur.

Bukan karena kata “syukur” disebut berkali-kali, tetapi karena seluruh struktur surat ini dirancang untuk membangkitkan rasa syukur.

Setiap kali ayat pengulangan muncul, manusia seakan diajak menghitung nikmat Tuhan.

Jika seseorang membaca Surah Ar-Rahman dengan kesadaran penuh, ia akan menyadari bahwa hidupnya dipenuhi oleh nikmat yang tak terhitung.

Udara yang gratis.

Air yang mengalir.

Bumi yang stabil.

Mata yang bisa melihat.

Lidah yang bisa berbicara.

Semua itu adalah karunia yang sering dianggap biasa.

Alasan lain mengapa Surah Ar-Rahman sangat populer dalam tilawah Al-Qur’an adalah karena ritmenya yang musikal.

Pengulangan ayat menciptakan pola suara yang indah ketika dibaca.

Banyak qari menyebut bahwa Surah Ar-Rahman memiliki aliran suara yang mengalun seperti gelombang.

Setiap kali ayat pengulangan muncul, pendengar merasa seperti kembali ke titik pusat.

Ini membuat surat tersebut sangat kuat secara emosional.

Banyak orang mengaku tersentuh bahkan menangis ketika mendengarnya.

Di tengah kehidupan modern yang cepat dan penuh tekanan, pesan Surah Ar-Rahman terasa semakin relevan.

Manusia modern sering mengalami kelelahan mental dan ketidakpuasan hidup, meskipun hidup dalam kemakmuran material.

Salah satu penyebabnya adalah hilangnya kesadaran akan nikmat.

Kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki, sehingga lupa melihat apa yang sudah ada.

Surah Ar-Rahman menawarkan perspektif yang berbeda.

Alih-alih bertanya “Apa yang belum saya miliki?”, surat ini mengajak kita bertanya:

Berapa banyak nikmat yang sudah saya terima?

Dan setiap kali kita menyadarinya, pertanyaan itu kembali muncul:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Pada akhirnya, pengulangan dalam Surah Ar-Rahman bukan sekadar gaya bahasa.

Ia adalah strategi spiritual.

Dengan mengulang satu pertanyaan sebanyak 31 kali, Al-Qur’an berusaha membentuk kesadaran baru dalam diri manusia.

Kesadaran bahwa hidup ini penuh dengan rahmat.

Kesadaran bahwa alam semesta bukan kebetulan.

Kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian, tetapi berada dalam jaringan nikmat yang luas.

Ketika kesadaran ini tumbuh, cara kita melihat hidup juga berubah.

Kita menjadi lebih rendah hati.

Lebih mudah bersyukur.

Lebih sedikit mengeluh.

Dan mungkin itulah tujuan terdalam dari Surah Ar-Rahman:

membimbing manusia agar kembali menyadari rahmat Tuhan yang meliputi seluruh kehidupannya.

Karena setelah semua nikmat itu disebutkan, pertanyaan yang sama tetap menggema:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Dan setiap pembaca Surah Ar-Rahman pada akhirnya harus menjawabnya sendiri dalam hatinya.