Konten dari Pengguna

Oknum Generasi Muda Mengalami Degradasi Moral

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bayu Susena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto https://www.pexels.com/id-id/foto/matahari-terbenam-bayangan-hitam-siluet-kedudukan-19925762/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto https://www.pexels.com/id-id/foto/matahari-terbenam-bayangan-hitam-siluet-kedudukan-19925762/

Oknum generasi muda sekarang hafal dalil, tapi asing dengan rasa malu. Di balik nilai agama yang bagus, ada kegelisahan yang lebih senyap yaitu pengetahuan yang tak lagi sampai ke hati. Oknum generasi muda bisa melafalkan hadits tentang kejujuran dengan lancar, hafal dalil tentang akhlak mulia luar kepala, bahkan juara lomba dai. Tapi ketika istirahat, sebagian dari mereka yang sama justru terlibat saling ejek, menyebar video memalukan teman sekelas lewat ponsel, atau bersikap acuh saat ditegur. Ilmunya sampai di kepala, tapi belum sampai di hati. Inilah gambaran apa yang tengah terjadi pada sebagian oknum generasi muda Indonesia hari ini.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan orang tua atau pendidik yang lelah. Degradasi moral oknum generasi muda telah menjadi persoalan sosial yang nyata dan bertambah rumit. Tawuran pelajar, perundungan atau bullying, penyalahgunaan zat adiktif, pergaulan bebas, hingga sikap intoleran terhadap sesama, sering muncul dipemberitaan media massa online. Era digital dan akses tanpa filter ke konten yang tak sesuai usia membuat anak-anak menyerap nilai-nilai yang bertentangan dengan moral dan agama jauh lebih cepat daripada orang tua dan guru mampu mengimbanginya.

Oknum generasi muda saat ini mengalami penurunan rasa hormat kepada orang tua atau pendidik, Oknum generasi muda tumbuh menjadi "nakal". Oknum generasi muda terbiasa melihat kekerasan verbal di media sosial sebagai hal wajar, terbiasa menormalisasi ujaran kasar, terbiasa menomorduakan empati demi validasi digital.

Oknum generasi muda mengalami kemerosotan moral. Oknum generasi muda butuh benteng utama untuk membendungnya. Benteng utama itu adalah agama. Selama ini, pembelajaran Agama di banyak sekolah masih didominasi menghafal dalil, mengejar nilai ujian, menjawab soal pilihan ganda tentang akhlak. Pengetahuan tentang kebaikan diajarkan dengan sangat baik, tetapi rasa untuk melakukannya nyaris tidak pernah disentuh.

Akibatnya terbentuklah kesenjangan antara pengetahuan agama dan pengamalannya. Oknum generasi muda bisa mendapat nilai sempurna dalam ujian akhlak, namun tetap kesulitan meminta maaf dengan tulus. Oknum generasi muda bisa menjelaskan definisi jujur dengan runtut, tapi masih menyontek saat merasa tidak akan ketahuan. Ini bukan karena oknum generasi muda itu munafik, melainkan karena nilai yang mereka pelajari belum pernah benar-benar turun dari kepala ke hati, apalagi ke tangan dan kaki mereka. Agama mengajarkan tentang kebaikan. Tapi kebaikan harus benar-benar dikuasai ketika dipraktikkan, dirasakan, dan diulang, bukan sekadar dihafal.

Oknum generasi muda harus melakukan beberapa hal agar tidak mengalami degradasi moral yaitu:

  1. Pembiasaan (Ta'widiyyah), kebaikan yang diulang setiap hari tadarus sebelum pelajaran, shalat berjamaah, membiasakan salam sehingga perlahan berubah menjadi refleks, bukan lagi kewajiban yang terasa berat.

  2. Keteladanan (Uswah Hasanah), orang tua atau pendidik yang jujur dalam ucapan dan adil dalam sikap mengajarkan akhlak jauh lebih dalam daripada ceramah panjang mana pun. Oknum generasi muda belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari apa yang mereka dengar.

  3. Refleksi dan Muhasabah, ruang untuk merenung atau reflektif menjelang tidur malam melatih oknum generasi muda mengenali dampak perbuatannya sendiri, bukan sekadar mengikuti aturan dari luar.

  4. Diskusi Nilai dan Moral, mengajak oknum generasi muda memperdebatkan dilema moral secara terbuka membuat mereka memiliki nilai itu sebagai keyakinan sendiri, bukan sekadar hafalan yang dipaksakan dari luar.

  5. Penguatan Positif, Pujian yang tulus dan pengakuan atas perbuatan baik menumbuhkan motivasi dari dalam diri oknum generasi muda untuk terus berbuat baik sejalan dengan cara Nabi Muhammad SAW mendahulukan kabar gembira sebelum peringatan.

Betapa bagusnya strategi pembelajaran agama, tetap akan goyah jika nilai yang diajarkan berbenturan langsung dengan apa yang dilihat oknum generasi muda di rumah dan di media sosial setiap hari. Krisis moral yang makin masif di masyarakat menjadi tantangan yang berat bagi orang tua atau pendidik yang berjuang sendirian. Di sinilah letak pesan yang paling penting yaitu keluarga dan lingkungan sosial harus berjalan seiring dan bukan berlawanan arah.

Dukungan dan kolaborasi antar pemangku kepentingan, dan yang tak kalah penting, keterlibatan orang tua menjadi penopang yang membuat nilai-nilai baik yang ditanam tidak layu begitu oknum generasi muda melangkah keluar.

Sesungguhnya kita semua, tidak menjadi baik karena mengetahui banyak hal tentang kebaikan, melainkan karena kebaikan itu dilatih berulang kali sampai menjadi bagian dari diri. Pengetahuan tanpa pembiasaan hanya menjadi hiasan di kepala dan tidak pernah benar-benar dimiliki.

Bagi orang tua, ini artinya teladan di rumah jauh lebih berbicara daripada nasihat panjang lebar. Bagi pendidik ini artinya pembelajaran agama perlu menyisakan waktu untuk merenung, bukan hanya menghafal.