Pengalaman Pertama Lomba Adzan di Festival Anak Sholeh

Saya bekerja di Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Memiliki latar belakang pendidikan di bidang hukum dan saat ini aktif mengembangkan kemampuan menulis di berbagai media.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Bayu Susena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suara azan Magrib itu sudah tak asing lagi bagi warga sekitar Masjid Sirojudin. Dari pengeras suara sederhana di sudut kampung, suara Nizar Ali kerap mengalun, jernih dan penuh semangat. Ia masih duduk di bangku sekolah dasar, tetapi keberaniannya berdiri di depan mikrofon membuat banyak orang tersenyum bangga.
Maka ketika kabar tentang Festival Anak Sholeh #6 sampai ke telinga keluarganya pada 22 Februari 2026, tak butuh waktu lama bagi Nizar untuk menjatuhkan pilihan. “Aku mau ikut lomba adzan,” katanya mantap.
Festival yang digelar di Masjid Al-Umar itu menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ramadan 1447 Hijriah. Berdasarkan petunjuk teknis panitia, kegiatan ini bertema “Berlomba-lomba dalam Kebaikan Iman dan Islam” dan dilaksanakan pada Ahad, 1 Maret 2026, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai. Sasaran pesertanya adalah anak-anak di Kecamatan Minggir, dengan cabang lomba yang dirancang untuk menumbuhkan kecintaan pada ibadah sejak dini.
Pagi itu, selepas salat Subuh, ayah Nizar membuka tautan pendaftaran Google Form yang dibagikan panitia. Udara masih dingin, tetapi suasana rumah terasa hangat oleh percakapan kecil tentang lomba. Nizar awalnya bersikeras hanya ingin mengikuti cabang adzan.
Sesuai ketentuan, lomba adzan diperuntukkan bagi anak usia 7 sampai 12 tahun, mengenakan pakaian muslim lengkap dengan peci, mengumandangkan adzan dan membaca doa setelahnya, dengan durasi 5 sampai 8 menit. Jika salah, peserta tidak diperkenankan mengulang dan harus melanjutkan hingga selesai. Aturan itu dibacakan ayahnya pelan-pelan. Nizar menyimak, lalu mengangguk.
Ibunya punya pandangan lain. “Sekalian ikut hafalan surat pendek, ya. Biar tambah pengalaman,” bujuknya lembut.
Lomba hafalan surat pendek mensyaratkan peserta tidak membawa teks Juz Amma atau Al-Qur’an, dengan rentang hafalan dari Surah An-Naba hingga An-Nashr. Nizar sempat ragu. Ia memang hafal beberapa surat, tetapi belum semuanya lancar tanpa jeda. Dengan sedikit bujukan, Nizar mengiyakan. Ia resmi terdaftar di dua cabang lomba yaitu adzan dan hafalan surat pendek.
Ahad, 1 Maret 2026, selepas salat Zuhur, keluarga Nizar menuju lokasi lomba. Halaman masjid tampak lebih ramai dari biasanya. Spanduk bertuliskan “Festival Anak Sholeh #6” terpasang, anak-anak datang mengenakan busana terbaiknya memakai peci, baju koko atau jubah, gamis, dan jilbab warna-warni.
Panitia membuka meja registrasi ulang hingga pukul 12.45 WIB, sesuai ketentuan yang telah diumumkan sebelumnya. Peserta diminta mengenakan tanda nomor tampil di dada sebelah kiri dan hadir maksimal 15 menit sebelum acara dimulai.
Nizar menerima dua nomor yaitu nomor urut 2 untuk lomba hafalan surat pendek dan nomor urut 4 untuk lomba adzan. Nizar seperti memegang tiket menuju pengalaman baru. Wajahnya tampak tegang sekaligus bersemangat.
Tepat pukul 13.00 WIB, perlombaan dimulai. Beberapa lomba dilaksanakan bersamaan di ruangan berbeda di kompleks masjid. Lomba mewarnai untuk PAUD dan TK berlangsung dengan suasana riuh rendah anak-anak kecil yang asyik memilih warna. Di ruangan lain, peserta tartil dan dai cilik bersiap dengan pendamping masing-masing.
Nizar memutuskan mengikuti lomba adzan terlebih dahulu. Ia duduk menunggu giliran, mendengarkan peserta lain mengumandangkan kalimat-kalimat suci yang selama ini ia dengar setiap hari dari berbagai masjid.
Ketika namanya dipanggil, ia melangkah maju. Tangannya sedikit berkeringat. Ini berbeda dengan azan Magrib di Masjid Sirojudin, tempat ia sudah terbiasa berdiri. Di sini ada juri, ada peserta lain, ada orang tua yang memperhatikan.
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”
Suara itu mengalun. Suaranya lantang, keras dan jelas. Ia menyelesaikan adzan dan doa setelahnya tanpa berhenti. Tidak ada pengulangan, tidak ada koreksi. Ia ingat betul aturan bahwa kesalahan tak boleh diulang.
Begitu selesai, ia menunduk hormat dan kembali ke tempat duduknya. Wajahnya memerah, tetapi matanya berbinar.
Tanpa banyak jeda, ia berpindah ruangan untuk mengikuti lomba hafalan surat pendek. Nomor urut 2 berarti ia tampil lebih awal. Tetapi sudah terlewat, sehingga ia harus ikut diantrian terakhir karena tadi ikut lomba adzan dulu. Di sinilah rasa grogi benar-benar terasa.
Beberapa ayat pertama mengalir lancar. Namun, di tengah surat, ia sempat terdiam. Ia mencoba mengingat, tetapi ada bagian yang terlewat. Ia melanjutkan dengan sisa hafalan yang masih diingat.
Selesai lomba hafalan, dengan perasaan campur aduk. “Tadi lupa sedikit,” bisiknya kepada ayahnya.
Menjelang waktu Asar, seluruh lomba selesai. Anak-anak berkumpul kembali di halaman masjid. Panitia membagikan beberapa doorprize, suasana berubah lebih santai.
Acara dilanjutkan dengan sesi dongeng anak yang dipandu pendongeng tamu. Anak-anak duduk, tertawa ketika tokoh dalam cerita bertingkah lucu, lalu terdiam ketika pesan moral disampaikan. Tema tentang berlomba dalam kebaikan terasa hidup, bukan hanya lewat kompetisi, tetapi juga melalui cerita.
Sementara itu, para juri melakukan rekap nilai.
Orang tua saling berbincang, sebagian menenangkan anak yang tampak kecewa, sebagian lagi mengingatkan agar tidak terlalu berharap pada hasil.
Saat pengumuman tiba, suasana mendadak hening. Satu per satu nama pemenang dibacakan, mulai dari cabang mewarnai hingga tartil.
Tibalah giliran lomba adzan.
Juara ketiga disebut lebih dulu.
“Nizar Ali…”
Ia sempat tak bergerak, seperti memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Ayahnya menepuk bahunya pelan. “Itu namamu.”
Langkahnya kali ini lebih ringan dibanding saat akan maju lomba tadi. Ia menerima piala dan hadiah dengan senyum lebar. Sebuah sertifikat penghargaan juga diserahkan sebagai bukti bahwa namanya tercatat sebagai juara 3 lomba adzan di Festival Anak Sholeh #6.
Untuk lomba hafalan surat pendek, namanya tidak disebut. Ia tidak masuk daftar juara.
Namun, sore itu tak ada wajah murung. Yang ada justru cerita.
“Kenapa tadi lupa?” tanya ibunya lembut di rumah.
“Grogi,” jawabnya jujur. “Tadi banyak yang lihat.”
Bagi Nizar, ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti lomba. Piala juara 3 tentu membanggakan. Ia memajangnya di ruang tamu, tak jauh dari rak buku kecil tempat ia menyimpan Al-Qur’an dan buku-buku pelajaran.
Namun bagi orang tuanya, yang lebih penting adalah prosesnya.
Mereka menasihati Nizar agar tidak sombong. Juara bukan akhir, melainkan awal untuk terus belajar. Ia diingatkan untuk tetap berlatih adzan bersama ustaz di sekolah maupun di masjid dekat rumah. Untuk hafalan, ia diajak membuat jadwal murojaah rutin agar tidak lagi lupa ketika grogi.
Festival itu bukan hanya soal menang atau kalah. Ia menjadi ruang belajar tentang keberanian, tentang menerima kekurangan, tentang berdiri lagi setelah merasa kurang maksimal.
Tema “Berlomba-lomba dalam Kebaikan Iman dan Islam” menemukan maknanya di sana. Pada anak yang berani mencoba, pada orang tua yang mendampingi, pada panitia yang menyiapkan ruang tumbuh.
Di kampung kecil seperti Minggir, lomba sederhana di masjid bisa menjadi tempat lahirnya kenangan besar. Dari pengeras suara masjid kampung hingga mikrofon lomba, Nizar belajar satu hal penting yaitu keberanian adalah langkah pertama menuju kebaikan yang lebih luas.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika suaranya kembali mengalun dari menara masjid, ia akan mengingat sore itu. Sore ketika namanya dipanggil sebagai juara, dan ketika ia belajar bahwa kalah pun bagian dari perjalanan menjadi lebih baik.
