Konten dari Pengguna

Yogyakarta Kota Tujuan Mahasiswa dari Penjuru Negeri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bayu Susena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto https://www.pexels.com/id-id/foto/kota-jalan-kendaraan-rumah-12910426/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto https://www.pexels.com/id-id/foto/kota-jalan-kendaraan-rumah-12910426/

Ribuan anak muda dari Sabang sampai Merauke merantau ke Yogyakarta dengan mimpi yang sama yaitu kuliah baik-baik, lulus tepat waktu, lalu pulang membawa gelar. Yang jarang mereka siapkan justru satu hal yang paling menentukan apakah empat tahun ke depan akan terasa berat atau ringan, yaitu kesiapan mental menghadapi budaya yang benar-benar berbeda dari rumah.

Bagi kebanyakan mahasiswa baru, minggu-minggu pertama di Jogja terasa seperti liburan panjang yang menyenangkan. Kota ini dikenal tenang, orang-orangnya sopan, dan suasana akademiknya kondusif, sehingga wajar jika kesan pertama yang muncul adalah kekaguman. Mahasiswa baru merasa segala sesuatu di Jogja serba baru. Kadang mahasiswa baru terbiasa dengan cara bicara yang tegas, lalu bertemu dengan orang Jogja yang lembut. Sebenarnya kelembutan dalam berbicara ternyata bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk penghormatan.

Misal mahasiswa asal Lombok yang terbiasa berbicara to the point. Kadang mahasiswa asal Lombok merasa herannya melihat orang Jogja tetap tersenyum bahkan ketika lawan bicaranya melakukan kesalahan. Awalnya pasti mengira itu hanya basa-basi, tapi lama-lama sadar bahwa memang begitulah karakter masyarakat Jogja. Keramahan dan sikap terbuka warga Jogja tanpa memilih-milih teman sebagai alasan mengapa banyak mahasiswa baru cepat merasa diterima, bahkan oleh dosen dan staf kampus yang tidak kaku.

Awal kedatangan mahasiswa baru merupakan tingkat kenyamanan yang berada di puncak, karena semuanya masih terasa seperti petualangan seru. Sayangnya, rasa gembira ini punya masa kedaluwarsa. Cepat atau lambat, euforia itu akan berhadapan dengan kenyataan bahwa hidup di kota orang tidak melulu manis.

Setelah beberapa bulan di Jogja maka giliran kenyataan yang bicara. Perbedaan cara berkomunikasi, selera makan, hingga kebiasaan sosial yang selama ini dianggap wajar di kampung halaman, tiba-tiba terasa asing dan bahkan bisa menimbulkan kesalahpahaman. Kadang mahasiswa baru mempunyai gaya bicaranya yang tegas kerap disalahartikan sebagai kemarahan oleh orang-orang Jogja. Beberapa mahasiswa baru merasa tidak nyaman dan takut dicap kasar, padahal itu memang cara bicara khas daerahnya.

Kesulitan lainnya yaitu urusan lidah. Ini bisa menjadi sumber stres tersendiri. Kadang mahasiswa kesulitan menemukan makanan yang cocok karena hampir semua masakan di Jogja terasa manis. Kerap solusi yang muncul dari mahasiswa baru dengan memasak sendiri di kos demi bisa makan sesuai selera, sambil menahan rindu pada masakan ibu di rumah. Gaya berpakaian pun bisa menjadi hambatan dalam kuliah di Jogja. Ada perbedaan dalam memakai pakaian dan kadang berbeda dari kebanyakan teman-temannya, sampai ada yang takut dianggap tidak sopan.

Masa krisis pada mahasiswa rantau di Jogja rata-rata berlangsung selama dua hingga empat bulan pertama. Pada periode inilah muncul kondisi ketika seseorang bingung membedakan mana perilaku yang pantas dan mana yang tidak di lingkungan barunya. Rasa rindu rumah pun biasanya memuncak setelah dua hingga empat bulan pertama, bukan hanya rindu keluarga, tapi juga rindu bahasa daerah, makanan, dan cara hidup yang selama ini membentuk jati diri.

Setelah empat bulan maka akan terbangun kesadaran lintas budaya, belajar bahwa perbedaan bukan hambatan melainkan bagian dari proses belajar yang memperluas cara pandang. Bagi mahasiswa baru yang sedang merasa berat menjalani bulan-bulan pertama di Jogja, penting untuk tahu bahwa perasaan itu bukan hal yang aneh atau memalukan. Justru rasa canggung, kangen rumah, dan sesekali ingin menyerah adalah bagian normal dari proses yang hampir semua perantau alami. Setelah melewati titik terendah, mahasiswa mulai menemukan caranya sendiri untuk bangkit.

Mahasiswa baru mulai belajar bahasa Jawa agar lebih mudah berinteraksi dengan warga sekitar. Mempelajari bahasa lokal bukan sekadar soal komunikasi praktis, melainkan simbol penghormatan terhadap budaya tempat ia tinggal. Banyak mahasiswa yang mencampurkan Bahasa Indonesia dengan kata-kata khas Jawa seperti "nggih", "matur nuwun", atau "monggo" dalam percakapan sehari-hari. Strategi sederhana ini ternyata efektif menjadi jembatan sosial, karena mahasiswa tetap mempertahankan identitas aslinya sambil menunjukkan kemampuan menyesuaikan diri.

Mahasiswa baru jika bergabung dengan organisasi kampus membuatnya bertemu teman dari berbagai daerah dengan logat dan kebiasaan berbeda-beda, yang justru menjadi hal menarik untuk dipelajari. Mahasiswa baru akan belajar cara berkomunikasi yang sopan dan menghargai pendapat orang lain, sampai akhirnya dipercaya menjadi penengah ketika ada perbedaan pendapat di kegiatan kampus. Komunitas mahasiswa lintas provinsi membuat merasa tidak sendirian, karena semua orang di sana sama-sama sedang belajar beradaptasi. Kegiatan berbagi cerita tentang kebiasaan daerah masing-masing bahkan sering mereka lakukan bersama untuk membantu mahasiswa baru yang baru datang.

Saat seorang mahasiswa baru tidak lagi merasa tertekan menghadapi perbedaan budaya, melainkan sudah menemukan keseimbangan antara identitas asal dan lingkungan barunya. Maka mahasiswa baru akan sangat nyaman tinggal di Jogja, bahkan justru merindukan suasana kota ini, terutama malam-malam di angkringan bersama teman-teman. Mahasiswa yang tinggal jauh dari rumah membuat lebih mandiri, dan Jogja mengajarkan banyak hal tentang hidup sederhana serta menghargai waktu. Dan ada nilai budaya asal dan budaya baru berjalan berdampingan secara harmonis. Seseorang tetap bisa berbicara dengan logat daerahnya, tetap merindukan masakan rumah, sekaligus fasih menyelipkan kata "monggo" saat berbicara dengan tetangga kos. Keduanya tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.

Bagi mahasiswa baru yang sedang bersiap merantau ke Yogyakarta, atau bahkan yang sedang berada di tengah fase merasa berat menjalani hari-hari pertamanya. Sadarilah bahwa rasa kaget dan tidak nyaman di bulan-bulan awal adalah hal yang wajar, bukan tanda kegagalan pribadi. Masa sulit umumnya terjadi pada dua hingga empat bulan pertama.

Jangan menutup diri saat merasa berbeda. Ketakutan dinilai aneh karena logat, cara berpakaian, atau kebiasaan makan justru sering memperlambat proses adaptasi. Sebaliknya, keberanian untuk tetap terlibat dalam kegiatan sosial, meskipun canggung di awal, adalah yang justru mempercepat pemulihan.

Belajar sedikit bahasa dan kebiasaan lokal bukan berarti mengkhianati identitas asal. Menyapa dengan "matur nuwun" atau "monggo" bukan tanda kehilangan jati diri, melainkan bentuk penghormatan yang justru membuka pintu penerimaan sosial lebih lebar.

Cari komunitas, baik itu organisasi kampus, kelompok daerah, atau sekadar circle pertemanan lintas provinsi, dukungan sosial terbukti menjadi faktor paling menentukan yang mempercepat seseorang melewati fase krisis menuju penyesuaian penuh.

Dan yang terakhir, percayalah merantau bukanlah hambatan yang harus dihindari, melainkan proses pembelajaran yang pada akhirnya membentuk pribadi yang lebih toleran, lebih matang, dan lebih peka terhadap keberagaman. Rasa asing yang dulu terasa berat justru bisa berubah menjadi kenangan hangat, dan kota rantau yang dulu terasa jauh pada akhirnya bisa terasa seperti rumah kedua.

Yogyakarta akan terus menjadi kota tujuan ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru negeri. Bagi mereka yang baru akan datang, jatuh cinta pada kota ini tidak selalu mulus, tapi hampir selalu berujung manis, asalkan diberi waktu, keterbukaan hati, dan sedikit keberanian untuk keluar dari zona nyaman.