KKN UNNES Giat 16 Kenalkan Pupuk Organik Cair kepada Ibu Dawisan Desa Glagah

Mahasiswa S1 Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mukhamad Bayu Kelana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah kehidupan masyarakat Desa Glagah, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, penggunaan pupuk kimia masih menjadi salah satu pilihan yang umum digunakan untuk membantu pertumbuhan tanaman. Kemudahan dalam memperoleh dan menggunakannya membuat pupuk kimia cukup dekat dengan aktivitas masyarakat sehari-hari.
Namun, di balik kebiasaan tersebut, muncul pertanyaan sederhana, adakah alternatif pemupukan yang dapat memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar rumah?
Pertanyaan itu kemudian dibawa oleh mahasiswa KKN UNNES dalam kegiatan sosialisasi pupuk organik cair bersama ibu-ibu Dawisan Dukuh Glagah Gunung, Desa Glagah, pada 2 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan sekaligus mengenalkan alternatif pemupukan yang dapat dibuat dengan memanfaatkan bahan organik di lingkungan sekitar.
Ketika Pupuk Kimia Menjadi Kebiasaan
Penggunaan pupuk kimia telah lama menjadi bagian dari aktivitas pertanian dan pemeliharaan tanaman masyarakat. Pupuk tersebut memiliki peran dalam menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dan relatif mudah digunakan.
Meski demikian, penggunaan pupuk tetap perlu dilakukan sesuai kebutuhan dan dosis yang tepat. Penggunaan secara berlebihan atau tidak sesuai kebutuhan tanaman dapat menjadi kurang efisien dan berpotensi memengaruhi kondisi lingkungan dalam jangka panjang.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN UNNES mencoba memperkenalkan pupuk organik cair sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan masyarakat. Pengenalan ini bukan dimaksudkan untuk menghapus penggunaan pupuk kimia secara langsung, tetapi memberikan pilihan dan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan bahan organik.
Mengubah Bahan Sederhana Menjadi Pupuk
Dalam kegiatan sosialisasi, ibu-ibu Dawisan Dukuh Glagah Gunung tidak hanya diperkenalkan dengan konsep pupuk organik cair, tetapi juga diajak memahami proses pembuatan dan penggunaannya.
Bahan-bahan organik yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan rumah dapat dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan tertentu. Dengan demikian, bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat memiliki fungsi baru sebagai bagian dari upaya pemeliharaan tanaman.
Mahasiswa KKN UNNES juga memberikan penjelasan mengenai cara penggunaan pupuk organik cair agar dapat diaplikasikan secara tepat. Diskusi berlangsung secara interaktif sehingga peserta dapat menyampaikan pengalaman mereka dalam merawat tanaman sekaligus bertukar pengetahuan mengenai pemupukan.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari
sesuatu yang besar. Dari halaman rumah dan tanaman yang dirawat sehari-hari pun, masyarakat dapat mulai mengenal cara-cara sederhana untuk memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya.
Bukan Sekadar Tentang Pupuk
Sosialisasi pupuk organik cair membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar mengenalkan alternatif pemupukan. Kegiatan ini juga menjadi upaya untuk membangun kesadaran bahwa bahan organik yang berada di sekitar masyarakat masih dapat dimanfaatkan dan tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang terbuang.
Bagi mahasiswa KKN UNNES, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk membawa pengetahuan dari lingkungan akademik agar dapat dipraktikkan bersama masyarakat. Sementara bagi ibu-ibu Dawisan, sosialisasi menjadi ruang untuk mendapatkan pengetahuan baru yang dapat dicoba dalam aktivitas sehari-hari.
Perubahan tentu tidak dapat terjadi hanya melalui satu kali pertemuan. Penggunaan pupuk organik cair membutuhkan proses untuk mencoba, mengamati hasil, dan membangun kebiasaan secara bertahap.
Dari Glagah Gunung untuk Lingkungan yang Lebih Baik
Kegiatan sosialisasi pupuk organik cair oleh mahasiswa KKN UNNES bersama ibu-ibu Dawisan Glagah Gunung menjadi langkah sederhana untuk mendorong pemanfaatan bahan organik di lingkungan sekitar. Edukasi ini diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan yang lebih bijak dalam mengelola bahan yang tersedia sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Upaya tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, khususnya dalam mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih bijak dan mengurangi bahan yang terbuang. Selain itu, kegiatan ini juga memiliki keterkaitan dengan SDGs 15: Ekosistem Daratan melalui upaya meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan tanah.
bersama UNNES GIAT, membangun Indonesia dari Desa.
