Mahasiswa dan Sikap: Tak Semua Perlu Jadi Aktivis, Tapi Tak Boleh Buta Politik

Mahasiswa S1 Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Mukhamad Bayu Kelana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi seorang mahasiswa bukan hanya soal menyelesaikan tugas kuliah dan mengejar IPK tinggi. Di luar ruang kelas, ada realitas sosial-politik yang turut membentuk kehidupan kampus dan masa depan kita setelah lulus. Sayangnya, kesadaran politik sering kali dianggap sebagai urusan anak Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, aktivis organisasi, atau mereka yang turun ke jalan. Padahal, semua mahasiswa mulai dari Teknik hingga Kedokteran, dari Seni sampai Akuntansi tetap hidup dalam sistem yang dibentuk oleh keputusan-keputusan politik.
Kesadaran politik bukan berarti harus menjadi orator di tengah demonstrasi atau duduk di struktur organisasi kampus seperti organisasi Himpunan Mahasiswa (HIMA) atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). la bisa hadir dalam bentuk sederhana dengan peduli terhadap isu-isu publik, memahami kebijakan yang berdampak pada pendidikan, atau sekadar memilih pemimpin dengan sadar dan kritis. Sebab proses politik tak pernah benar-benar jauh dari kehidupan sehari-hari kita. Mulai dari harga makanan di kantin, UKT (Uang kuliah Tunggal) naik, saat akses beasiswa dipersulit, hingga ketika kampus mengambil sebuah kebijakan atau menjalin kerja sama yang secara tidak langsung membentuk suasana belajar dan keberlangsungan kehidupan mahasiswa di dalamnya.
Dengan memahami ini, jelas bahwa apapun jurusan dan profesi yang dituju, mahasiswa tetap bersinggungan dengan dinamika kekuasaan dan kebijakan. Karena itu, sikap apatis bukan pilihan bijak di tengah situasi sosial yang terus berubah. Tidak semua perlu jadi aktivis, tapi setiap mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk tidak menjadi penonton yang diam. Setidaknya, sadar bahwa hal-hal yang mungkin terlihat bukan urusan kita, justru dapat memengaruhi arah hidup kita ke depan.
Kesadaran yang Perlu Dimiliki
Tidak semua mahasiswa memiliki minat atau kenyamanan untuk terlibat dalam aksi massa atau organisasi pergerakan. Namun, menjadi mahasiswa juga tidak sebatas menyelesaikan tugas akademik dan mengincar IPK tinggi. Di luar ruang kelas, ada dinamika sosial dan politik yang secara langsung maupun tidak membentuk pengalaman kita sebagai insan akademik.
Isu-isu seperti naiknya Uang Kuliah Tunggal (UKT), akses beasiswa yang terbatas, atau kebijakan kampus yang mengubah sistem pembelajaran bukanlah perkara yang berdiri sendiri. Di balik semua itu, terdapat keputusan-keputusan yang bersumber dari sistem politik dan administrasi yang lebih luas. Dalam hal inilah, kesadaran politik menjadi penting, bahkan bagi mahasiswa yang tidak menempuh jalur sosial-politik secara akademis.
Artinya, kesadaran politik tidak harus diwujudkan dalam bentuk keaktifan dalam organisasi atau unjuk rasa. Ia bisa hadir dalam wujud yang lebih sederhanaa seperti mengikuti isu pendidikan, memahami dampak kebijakan publik, atau memilih pemimpin dengan penuh pertimbangan. Semua bentuk partisipasi ini tetap menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki sikap terhadap realitas sosialnya.
Dampak yang Tak Terelakkan
Tidak semua keputusan yang memengaruhi kehidupan mahasiswa lahir dari ruang kelas atau rapat dosen. Sering kali, kebijakan kampus hadir sebagai produk dari tekanan atau relasi kuasa yang tak selalu disadari mahasiswa. Ketika sistem informasi akademik berubah tiba-tiba, atau ketika kampus bekerja sama dengan lembaga tertentu yang mengubah arah kurikulum, di situlah politik hadir dalam bentuknya yang paling senyap.
Sayangnya, banyak mahasiswa tidak melihat hal-hal semacam ini sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan. Kampus sering dianggap sebagai ruang netral dari urusan sosial-politik. Padahal, ruang akademik tidak pernah benar-benar bebas nilai. Ia selalu bersinggungan dengan ideologi, kepentingan, dan struktur kekuasaan tertentu, baik secara internal maupun eksternal.
Dengan memahami ini, mahasiswa dari berbagai latar belakang, entah itu teknik, kesehatan, ekonomi, atau seni diharapkan mulai melihat bahwa isu-isu yang tampaknya jauh dari bidang studinya, ternyata punya relevansi yang nyata. Kesadaran ini penting agar mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen pendidikan, tetapi juga aktor yang aktif memahami lingkungan tempat ia menuntut ilmu.
Bersuara Tanpa Harus Teriak
Tak sedikit yang beranggapan bahwa kepedulian mahasiswa hanya terlihat dari aksi turun ke jalan. Padahal, wujud bersikap bisa bermacam-macam. Ada yang menyuarakan pendapat lewat tulisan opini, berdiskusi aktif di ruang kelas, atau berbagi edukasi melalui konten sederhana di media sosial. Tidak semua orang harus tampil di garis depan, karena setiap individu memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan kepedulian.
Sikap kritis tidak harus selalu disampaikan secara frontal. Ia bisa tumbuh dari tindakan-tindakan kecil seperi menandatangani petisi kampus, menyampaikan pendapat dalam forum terbuka, atau sekadar mengajak teman berdiskusi tentang isu pendidikan. Yang terpenting bukan seberapa keras suara yang kita keluarkan, melainkan seberapa jujur dan konsisten perhatian kita terhadap lingkungan sekitar.
Di era digital seperti sekarang, ruang untuk menyampaikan pendapat tidak terbatas pada ruang fisik. Kolom komentar, utas media sosial, artikel opini, hingga forum diskusi daring menjadi saluran baru bagi mahasiswa untuk menyampaikan sikap. Mahasiswa masa kini memiliki banyak pilihan cara untuk terlibat, tanpa harus merasa wajib menjadi aktivis dalam pengertian konvensional. Terkadang, cukup dengan menjadi sadar dan peduli, kita sudah mengambil bagian dalam perubahan.
Mukhamad Bayu Kelana
Mahasiswa S1 Ilmu Politik, Universitas Negeri Semarang
