Konten dari Pengguna

Transisi Siswa ke Mahasiswa: Ganti Seragam, Ganti Stres

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mukhamad Bayu Kelana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto:freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
foto:freepik.com

Masuk ke dunia perkuliahan bagi mahasiswa baru sering kali dipenuhi rasa antusias yang meluap. Akun TikTok dipenuhi video haul kemeja kotak-kotak, tips outfit kuliah, dan cara chat dosen dengan baik dan benar hingga simulasi pertemuan pertama dengan dosen. Ganti seragam jadi kebanggaan hingga membuat trending vidio tiktok dengan jas almamater kampusnya dan kartu mahasiswa jadi ajang pamer. Tapi setelah minggu pertama berlalu, realita mulai datang tanpa permisi dengan tugas yang numpuk, jadwal tak tentu, dan sistem kuliah yang tak semudah yang dibayangkan.

Transisi dari siswa menjadi mahasiswa memang bukan sekadar perubahan status. Ia menyangkut cara berpikir, cara belajar, dan cara beradaptasi dalam dunia yang lebih bebas tapi juga lebih menuntut. Kalau dulu di SMA semuanya serba diarahkan, di kampus semua serba cari tahu sendiri. Kebebasan ini awalnya terasa manis, tapi cepat berubah jadi tekanan kalau tak cepat menyesuaikan diri. Untuk itu, mari kita bedah tiga hal yang kerap bikin mahasiswa baru mengalami shock culture dalam masa transisi ini.

1. Kebebasan Belajar yang Bikin Overthinking

Di SMA, jam pelajaran sudah diatur, guru selalu mengingatkan PR, dan absensi dilakukan setiap pagi. Namun di kuliah, semua jadi tanggung jawab pribadi. Tak ada yang akan mengecek apakah kamu datang kuliah atau tidak, bahkan beberapa dosen bisa menghilang lebih dulu daripada mahasiswanya. Hal ini awalnya terasa menyenangkan. Bebas masuk kelas kapan saja, bebas keluar beli kopi, dan tak ada hukuman karena telat.

Namun justru di sinilah jebakannya. Mahasiswa baru seringkali terlena, lalu kaget ketika menyadari sudah tertinggal materi. Banyak dari mereka yang belum siap dengan sistem belajar mandiri. Mereka terbiasa dikejar-kejar guru, bukan mengejar dosen. Akibatnya, rasa bingung dan cemas mulai muncul. Ditambah lagi dengan istilah akademik yang asing seperti, KRS (Kartu Rencana Studi), SKS (Satuan Kredit Semester), konversi nilai. Dalam hal ini, semuanya seperti teka-teki yang tak ada petunjuknya. Transisi ini menuntut kemampuan adaptasi cepat, yang tak semua orang bisa kuasai dalam waktu singkat.

2. Tugas Kuliah: Ringan Katanya, Berat Nyatanya

Kalimat “tenang, ini tugas gampang” dari dosen mungkin terdengar melegakan di awal. Tapi mahasiswa baru akan segera menyadari bahwa “gampang” versi dosen adalah sesuatu yang bisa bikin begadang tiga malam. Tugas yang tampaknya sederhana, seperti esai 1000 kata, bisa terasa berat karena harus pakai referensi jurnal yang mengharuskan memakai mendeley, format kutipan yang ketat, dan dikumpulkan lewat sistem yang belum dipahami sepenuhnya.

Mahasiswa baru belum terbiasa dengan cara berpikir analitis yang dibutuhkan dalam tugas-tugas kuliah. Di sekolah, jawaban cukup ditemukan dalam buku atau LKS (Lembar Kerja Mahasiswa). Di kuliah, mahasiswa harus mampu menyusun argumen sendiri, mengutip sumber, dan menulis secara sistematis. Proses ini membuat banyak maba stres, terutama karena tak semua dosen memberikan arahan teknis yang jelas. Bahkan, ada yang merasa kualitas tugas tak sepenting cara menyusunnya. Akhirnya, bukan isi yang jadi fokus, tapi bagaimana bisa memenuhi format penilaian.

3. Tekanan Sosial di Lingkungan Baru

Selain akademik, tekanan juga datang dari lingkungan sosial. Mahasiswa baru sering merasa harus tampil aktif, keren, dan cepat bergaul agar tak tertinggal. Entah itu ikut organisasi, tampil percaya diri di kelas, atau setidaknya tidak terlihat "kudet" (kurang update) disaat teman-teman lain membicarakan sistem kampus. Sayangnya, dorongan ini kadang membuat mahasiswa baru memaksakan diri untuk selalu tampil siap, padahal dalam hati masih bingung dan belum sepenuhnya nyaman.

Bagi sebagian orang, ini menjadi tekanan tersendiri. Mereka merasa malu bertanya, takut terlihat bodoh, atau enggan mengakui bahwa mereka belum paham. Dalam budaya kampus yang seolah mendorong semua orang untuk cepat beradaptasi, mahasiswa baru kerap merasa kesepian dalam keramaian. Transisi sosial ini butuh waktu dan pemahaman bahwa tidak semua orang bisa langsung klik dengan dunia kampus. Sayangnya, narasi umum soal “masa kuliah itu masa paling indah” kadang membuat mereka enggan bercerita tentang kesulitan yang dihadapi.

Penutup: Tak Apa Bingung, Asal Terus Jalan

Transisi dari siswa ke mahasiswa memang bukan proses yang instan. Di balik kebebasan yang dijanjikan, ada banyak hal yang perlu dipelajari, dicoba, dan terkadang gagal. Namun, pengalaman ini justru bagian penting dari proses pendewasaan. Wajar jika mahasiswa baru merasa bingung, kaget, atau bahkan ingin menyerah. Tapi di sinilah letak pelajaran paling penting yaitu belajar menata langkah sendiri, meski belum yakin akan arahnya.

Buat para maba, tak perlu membandingkan diri dengan teman yang terlihat sudah terbiasa. Semua orang punya ritme adaptasi masing-masing. Jangan ragu untuk bertanya, minta bantuan, dan pelan-pelan menemukan cara belajar yang paling cocok. Kampus bukan tempat untuk jadi sempurna, tapi tempat untuk mencoba, keliru, lalu berkembang. Teringat di kelas kalimat yang sering dosen Saya kutip dari Tan Malaka yaitu “terbentur- terbentur - terbentur baru kemudian terbentuk.” Ganti seragam mungkin terasa simbolik, tapi ganti cara berpikir adalah inti dari perjalanan kalian sekarang.

Mukhamad Bayu Kelana

Mahasiswa S1 Ilmu Politik, Universitas Negeri Semarang