Israel-Lebanon Sepakat Gencatan Senjata Jika Hizbullah Hentikan Serangan
ยทwaktu baca 7 menit

Israel dan Lebanon sepakat untuk memperbarui gencatan senjata yang rapuh serta membentuk sejumlah zona keamanan "percontohan" di dalam wilayah Lebanon, di mana para anggota Hizbullah akan dilarang beroperasi, demikian diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS).
Kesepakatan ini "bergantung pada penghentian total" serangan dari kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran, serta sejumlah syarat lainnya.
Langkah ini diambil setelah serangan Israel menewaskan sedikitnya sembilan orang di Lebanon selatan pada Rabu (03/06), dan Hizbullah menembakkan roket ke wilayah utara Israel, menguji gencatan senjata yang sudah rapuh dan awalnya disepakati pada April lalu.
Kedua negara "menolak segala upaya, baik oleh negara maupun aktor non-negara, untuk menyandera masa depan Lebanon," demikian pernyataan tersebut.
Kesepakatan yang dicapai setelah putaran keempat perundingan yang dimediasi AS di Washington ini bergantung pada "evakuasi seluruh personel [Hizbullah]" dari wilayah di Lebanon selatan yang saat ini berada di bawah kendali Israel, yakni dari Sungai Litani hingga perbatasan.
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa AS akan membantu mengarahkan pembentukan "zona percontohan di mana Angkatan Bersenjata Lebanon akan memegang kendali penuh atas wilayah tersebut, tanpa kehadiran aktor non-negara".
Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai bagaimana zona-zona ini akan beroperasi.
Pengumuman ini menyusul gencatan senjata parsial yang disepakati pada Senin (01/06), yang menurut pemerintah Lebanon akan membuat Israel menahan diri dari membombardir Beirut, sebagai imbalan Hizbullah tidak menyerang Israel.
Kedua negara dijadwalkan kembali bertemu pada 22 Juni untuk melanjutkan perundingan "dengan tujuan mencapai kesepakatan yang komprehensif."
Bagaimana respons Hizbullah?
Hizbullah sendiri belum memberikan komentar resmi terkait pengumuman tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada wartawan sebelum pengumuman itu bahwa dia berharap perundingan tersebut akan menghasilkan "rencana aksi menuju keamanan di [Lebanon], yang terlepas dari Hizbullah".
Gencatan senjata parsial itu diuji oleh serangan dari pihak Israel dan Hizbullah pekan ini.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan, korban tewas akibat serangan Israel pada Rabu termasuk dua petugas medis, setelah ambulans mereka terkena hantaman di wilayah Chehour, Lebanon selatan.
Sebuah mobil juga dilaporkan terkena serangan di selatan ibu kota Beirut. Sementara itu, militer Israel menyatakan telah mencegat sebuah drone dan dua proyektil yang melintasi perbatasan.
Hizbullah mengatakan pihaknya menargetkan konsentrasi pasukan Israel.
Menjelang pengumuman pada Rabu malam, para pemimpin Israel memperingatkan bahwa militer mereka akan melanjutkan serangan terhadap basis Hizbullah di pinggiran selatan Beirut, yang dikenal sebagai Dahieh, jika kelompok itu melancarkan serangan lintas perbatasan ke wilayah utara Israel.
Menurut pemerintah Lebanon, gencatan senjata parsial yang disepakati pada Senin menyatakan bahwa "Israel tidak akan melancarkan ofensif besar-besaran ke Beirut, sebagai imbalan Hizbullah menahan diri dari melancarkan serangan terhadap Israel".
Pemerintah Lebanon menyebut Hizbullah telah mengonfirmasi penerimaannya, namun seorang anggota dewan politik kelompok tersebut, Mahmoud Qamati, mengatakan kepada BBC pada Selasa: "Tidak ada kesepakatan gencatan senjata, yang ada hanya perlindungan atas Dahieh."
Qamati juga menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan terikat pada komitmen apa pun yang dihasilkan dalam perundingan Lebanon-Israel di Washington.
"Kami menilai negosiasi ini tidak berkaitan dengan kami, dan kami juga tidak mengakui hasil maupun keputusan yang diambil, karena pada prinsipnya kami telah menolaknya," ujarnya.
Lebanon terseret ke dalam perang antara AS, Israel, dan Iran pada 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran.
Israel kemudian merespons dengan kampanye udara di seluruh Lebanon serta invasi darat di wilayah selatan.
Hizbullah adalah kelompok politik dan militer Muslim Syiah yang beroperasi di Lebanon, dan telah terlibat dalam serangkaian konflik bersenjata dengan Israel.
Kelompok ini dianggap sebagai organisasi teroris oleh Israel dan banyak negara lain, termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon pada 16 April gagal menghentikan pertempuran.
Pekan lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk meningkatkan serangan terhadap Hizbullah dan bergerak lebih jauh ke dalam wilayah Lebanon sebagai respons atas serangan drone dan roket terhadap komunitas di Israel utara.
Sedikitnya 3.516 orang telah tewas di Lebanon sejak perang dimulai, menurut kementerian kesehatan negara itu. Data tersebut tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan lebih dari satu juta orang juga telah terdaftar sebagai pengungsi di Lebanon, di mana perintah evakuasi dari Israel mencakup lebih dari seperdelapan wilayah negara tersebut.
Israel menyatakan sebanyak 26 tentaranya dan empat warga sipil Israel telah tewas di kedua sisi perbatasan selama perang berlangsung.
Media Lebanon melaporkan serangan Israel terjadi di berbagai wilayah selatan negara itu pada Rabu. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut empat warga Suriah dan dua warga Palestina tewas dalam serangan di kawasan al-Housh, yang terletak tepat di selatan kota pesisir Tyre.
Kementerian tersebut juga mengatakan dua petugas medis tewas dan seorang lainnya mengalami luka serius setelah pasukan Israel "secara langsung menargetkan sebuah ambulans" di wilayah Chehour, sekitar 14 kilometer di sebelah timur.
Ambulans tersebut milik Asosiasi Pramuka Risala, yang berafiliasi dengan gerakan Amal, sekutu Hizbullah.
Kementerian Lebanon menuduh militer Israel "menunjukkan pengabaian terhadap hukum humaniter internasional", yang secara khusus melindungi tenaga medis.
Setidaknya 128 petugas medis dan tenaga kesehatan telah tewas dalam serangan Israel terhadap ambulans dan fasilitas kesehatan selama tiga bulan terakhir, menurut kementerian tersebut.
Tidak ada komentar langsung dari militer Israel. Sebelumnya, pihak Israel mengklaim ambulans tersebut digunakan untuk kepentingan militer, tanpa memberikan bukti.
Sementara itu, militer Lebanon mengatakan salah satu tentaranya tewas dalam serangan udara Israel di jalan antara Nabatieh dan Kfar Tebnit, sekitar 27 kilometer timur laut Tyre.
Kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan sepeda motor korban menjadi sasaran serangan drone.
Militer Lebanon juga menyebut dua tentaranya lainnya terluka dalam serangan Israel terpisah terhadap kendaraan mereka di jalan antara Deir Zahrani dan Nabatieh.
Militer mengecam apa yang mereka sebut sebagai "pola serangan yang disengaja yang menargetkan personel, kendaraan, dan posisi militer" oleh pasukan Israel.
Di kawasan tepi laut Beirut, ada ribuan pengungsi yang tinggal di tenda-tenda dengan akses terbatas terhadap makanan, air bersih, dan fasilitas sanitasi. Mariam Hessa mengatakan dia menginginkan gencatan senjata yang mencakup seluruh wilayah negara.
"Saya rasa ini tidak adil, karena wilayah selatan selalu dibombardir, rumah-rumah rusak, hancur, dan orang-orang meninggal," kata mahasiswa berusia 23 tahun itu kepada BBC.
"Saya ingin gencatan senjata berlaku untuk seluruh Lebanon, bukan hanya untuk suatu wilayah seperti Dahieh atau bahkan hanya selatan. Tidak, ini harus untuk seluruh Lebanon. Kami membutuhkan ini."
Gencatan senjata parsial tersebut diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang pada Rabu lalu mengonfirmasi laporan bahwa kesepakatan itu dimediasi setelah dia menyebut Netanyahu "gila" dalam percakapan telepon bernada keras.
Ucapan itu dipicu oleh perintah perdana menteri Israel agar membombardir ibu kota Lebanon.
"Saya agak terganggu dengan aksinya yang terus-menerus menyerang Lebanon," kata Trump kepada podcast Pod Force One milik New York Post.
"Pada suatu titik, saya berkata: 'Bibi [Netanyahu], kita harus menghentikan ini.'"
Netanyahu kemudian sepakat menahan diri untuk menyerang Beirut, namun dia menegaskan bahwa militer Israel tetap akan melanjutkan operasi di Lebanon selatan.
Ketika ditanya mengenai percakapan tersebut dalam wawancara dengan CNBC, Netanyahu mengatakan: "Kadang-kadang, seperti keluarga, kami memiliki perbedaan taktis. Kami selalu menemukan cara untuk menyelesaikannya."
Trump disebut khawatir bahwa eskalasi lebih lanjut di Lebanon dapat menggagalkan kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri perang antara AS, Israel, dan Iran.
Iran telah memperingatkan AS bahwa setiap gencatan senjata di kawasan harus mencakup Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu memperingatkan bahwa jika agresi Israel terhadap Beirut terus berlanjut, angkatan bersenjata Iran "sepenuhnya siap" untuk melanjutkan perang, demikian dilaporkan kantor berita Tasnim.
Namun, pada Rabu malam, Trump mengatakan bahwa dia ingin memisahkan pembicaraan AS-Iran dari pembahasan mengenai perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.
"Saya ingin memisahkannya, saya ingin menjadikannya pembahasan terpisah, karena ini memang... berbeda," ujar presiden AS itu kepada wartawan.
