Konten Media Partner

Armada 'Nyamuk' Iran Menantang Angkatan Laut AS di Selat Hormuz

BBC NEWS INDONESIA verified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Armada "nyamuk" Iran terdiri dari sekumpulan perahu kecil dan cepat, seperti yang terlihat di wilayah selatan Iran pada 2024 saat parade Angkatan Laut.
zoom-in-whitePerbesar
Armada "nyamuk" Iran terdiri dari sekumpulan perahu kecil dan cepat, seperti yang terlihat di wilayah selatan Iran pada 2024 saat parade Angkatan Laut.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengklaim telah "sepenuhnya menghancurkan" Angkatan Laut Iran dan hanya menyisakan "perahu-perahu kecil dengan senapan mesin di atasnya". Namun "perahu-perahu kecil" ini—yang dijuluki "armada nyamuk" oleh sebagian analis negara-negara Barat —memiliki daya sengat.

Selama berbulan-bulan mereka membantu militer Iran menyebabkan gangguan serius di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.

Upaya tersebut, menurut para ahli, dimaksudkan untuk merugikan ekonomi global dan menekan Washington agar tidak lagi berperang dengan Teheran.

Apa itu armada nyamuk dan apakah serangan mereka efektif?

'Mengganggu, Mengerubung, Membingungkan, dan Mengacaukan'

Armada perahu serang yang kecil dan cepat ini dibentuk oleh militer Iran pada 1980-an selama Perang Iran-Irak.

Meskipun hanya dua negara yang berperang, pertempuran meluas ke Teluk Persia selama "Perang Tanker" pada 1980-an. Amerika Serikat yang ingin melindungi pengiriman minyak terseret ke dalam pertempuran tersebut.

Bentrok dengan Angkatan Laut AS membuat armada kapal perang konvensional Iran mengalami pukulan besar. Armada perahu kecil Iran kemudian menjadi bagian dari doktrin perang yang dirancang untuk menghadapi angkatan laut yang lebih unggul.

Armada perahu kecil merupakan salah satu bagian dari strategi Iran yang lebih luas, yang juga mencakup rudal, drone, ranjau, peluncur pantai, dan serangan dari proksi di negara-negara tetangga.

Dioperasikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), armada ini tidak dirancang untuk pertempuran konvensional di laut, tapi untuk "mengganggu, mengerubung, membingungkan, dan mengacaukan pelayaran," kata Saeid Golkar, profesor madya di University of Tennessee di Chattanooga dan penasihat senior di United Against Nuclear Iran (UANI), organisasi nirlaba yang menentang rezim Iran.

"IRGC mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengalahkan Amerika Serikat dalam perang laut konvensional," tambahnya.

Karena itu, mereka menargetkan kapal tanker komersial dan menjadikan Selat Hormuz sebagai tempat yang lebih berbahaya untuk beroperasi. Hal ini tentu meningkatkan biaya dan risiko bagi perusahaan yang melintasi Teluk.

Taktik armada ini, antara lain, melepaskan tembakan di dekat kapal komersial, menanam ranjau di laut, dan mengirim perahu-perahu dengan kecepatan tinggi dari berbagai arah, menurut para ahli.

Perahu-perahu tersebut sering dilengkapi dengan senapan mesin, roket, atau rudal anti-kapal. Meskipun banyak perahu yang dirancang dan diproduksi dari nol oleh Iran, ada pula perahu-perahu penangkap ikan yang dialihfungsikan menjadi perahu serang.

Perahu-perahu ini terjangkau dan mudah diganti, kata Can Kasapoglu, peneliti senior non-residen di Hudson Institute, sebuah lembaga kajian di Washington, dalam laporan terbaru.

Hal ini memungkinkan Iran mengancam kapal komersial dan militer "dengan biaya relatif rendah sambil menempatkan aset bernilai tinggi milik lawan dan ekonomi maritim global dalam risiko," kata Kasapoglu.

Para ahli mengatakan tujuan keseluruhannya adalah menekan Washington agar tidak lagi berperang dengan Teheran sembari mencegah serangan di masa depan.

Armada ini tidak dirancang untuk pertempuran konvensional di laut, tapi untuk "mengganggu, mengerubung, membingungkan, dan mengacaukan pelayaran," kata analis.

Karena perahu-perahu ini dekat dengan permukaan air, mereka sulit dideteksi radar. Oleh sebab itu, AS perlu melakukan pengawasan terus-menerus dengan drone, helikopter, atau pesawat patroli.

Jumlah pasti armada ini tidak diketahui karena banyak perahu disembunyikan di gua, teluk kecil, dan terowongan bawah tanah di sepanjang pesisir pantai selatan Iran.

Namun, diperkirakan jumlah perahu berkisar antara 500 hingga lebih dari 1.000 unit.

Militer Iran kerap menggelar latihan angkatan laut secara rutin yang melibatkan armada nyamuk.

'Perang Gerilya Maritim'

Sejumlah analis menyebut pendekatan Iran ini sebagai perang gerilya di laut.

Karena Angkatan Laut AS mampu menghancurkan perahu cepat Iran di perairan terbuka, IRGC berhati-hati untuk menghindari pertempuran terbuka, menurut Saeid Golkar, profesor madya di University of Tennessee di Chattanooga dan penasihat senior di United Against Nuclear Iran (UANI), organisasi nirlaba yang menentang rezim Iran.

"IRGC berusaha menghindari konfrontasi langsung dan sebaliknya menggunakan taktik serang-lari, pengerubungan, ranjau, drone, rudal, dan perahu kecil untuk meningkatkan biaya operasi AS dan komersial," kata Golkar.

Iran dapat mengganti perahu yang hilang dengan cepat dan murah. Amerika Serikat dan sekutunya, sebaliknya, harus mengerahkan kapal dan pesawat mahal untuk melindungi lalu lintas komersial.

Alih-alih menghancurkan kapal, menciptakan persepsi bahaya serius saja dapat meningkatkan biaya asuransi dan mendorong perusahaan menghindari rute tersebut, menurut para ahli.

Bahkan ancaman ranjau laut pun dapat memperlambat atau menghentikan lalu lintas maritim.

Sebab, pembersihan perairan yang dipasangi ranjau adalah proses yang lambat.

Apakah Strategi Iran Berhasil?

Kapal-kapal yang berlayar melalui Selat Hormuz telah turun drastis jika dibandingkan dengan lalu lintas maritim di kawasan itu sebelum perang.

Platform pemantauan Hormuz Strait Monitor menunjukkan sekitar 10 kapal melintas per hari melalui jalur tersebut—atau sekitar 8% dari rata-rata harian sebanyak 60 kapal sebelum perang.

Secara keseluruhan, lalu lintas maritim saat ini lebih dari 90% di bawah tingkat sebelum perang, menurut tim Angkatan Laut UK yang memantau wilayah tersebut.

Ada peningkatan singkat dalam aktivitas ketika AS, Israel, dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 8 April. Namun beberapa hari kemudian, situasi berubah ketika AS memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dan masuk Iran.

Sejumlah anggota IRGC dengan pakaian militer dan balaclava hitam sedang berlatih.

Serangan di selat tersebut masih terus terjadi.

Pekan lalu, Pusat Operasi Perdagangan Maritim UK (UKMTO), yang memantau rute pelayaran internasional, mengatakan sebuah kapal kargo "terkena proyektil yang tidak diketahui" sekitar 23 mil laut (43 km) timur laut Doha di Qatar. Insiden ini menyebabkan kebakaran kecil tetapi tanpa korban.

Kantor berita Fars Iran kemudian melaporkan bahwa kapal tersebut berlayar di bawah bendera AS dan milik Amerika Serikat.

Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sekitar 1.500 kapal dan 20.000 awak tetap terdampak oleh blokade tersebut.

Penurunan volume minyak yang melewati selat itu, menurut sebagian analis, telah berkontribusi pada guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah dan harga minyak yang mendekati rekor tertinggi.