Konten Media Partner

Derita Anak-Anak di Gaza yang Mendadak Kehilangan Kemampuan Bicara

BBC NEWS INDONESIA verified-green

·waktu baca 15 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang anak perempuan di antara reruntuhan bangunan di Gaza.
zoom-in-whitePerbesar
Seorang anak perempuan di antara reruntuhan bangunan di Gaza.

Kekerasan, kehancuran, dan kematian di Gaza membuat sejumlah anak merespons penderitaan yang luar biasa itu dengan diam. Salah satunya adalah Adam.

Sebelum perang terjadi, Adam adalah anak yang ceria dan banyak bicara. Namun saat usianya menginjak lima tahun, dia mendadak berhenti berinteraksi dengan dunia.

"Tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak trauma," kata psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, ke BBC Mundo.

"Ada lebih dari satu juta anak yang telah menderita trauma parah."

Katrin telah melakukan dua misi kemanusiaan ke Gaza pada 2024 dan 2025 bersama Médecins Sans Frontières (MSF), untuk melayani anak-anak yang kehilangan kemampuan berbicara akibat konflik.

Katrin tak mengetahui dengan pasti berapa banyak anak di Gaza yang berhenti berkomunikasi. Namun, Katrin mengaku menemukan puluhan kasus serupa di Gaza.

Dokter-dokter setempat mengatakan kepada jaringan Al Jazeera bahwa kasus seperti itu "jumlahnya terus meningkat."

Enam bulan pengumuman gencatan senjata di Gaza terlewati. Namun, kekerasan masih berlanjut dan "serangan-serangan Israel terus berlanjut secara rutin," kata Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, April silam.

Sedikitnya 846 orang, yang mencakup perempuan dan anak-anak, tewas di Gaza dalam rentetan serangan Israel sejak gencatan itu, menurut kementerian kesehatan setempat.

Israel, yang mengklaim melakukan serangan untuk membela pasukannya dan menghadapi ancaman dari milisi Hamas, menyatakan lima dari tentaranya tewas dalam periode itu.

Hamas dan Israel saling menuduh satu sama lain melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Sejak Oktober 2023, pasukan Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 20.000 anak di Gaza dan menyebabkan lebih dari 41.000 terluka, menurut UNICEF.

Secara total, serangan-serangan Israel menewaskan lebih dari 72.000 orang yang mayoritas warga sipil, dan melukai lebih dari 172.000, menurut kementerian kesehatan Gaza.

BBC Mundo mewawancarai Katrin Glatz Brubakk tentang trauma yang menyebabkan anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara.

Lalu, dampak-dampak kekerasan pada otak mereka, dan mengapa jalan menuju pemulihan terkadang dimulai dengan meniup gelembung sabun. Berikut petikan wawancaranya.

Katrin Glatz Brubakk meniup gelembung bersama Maria, bocah tiga tahun, di Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan.

Mengapa ada anak-anak di Gaza berhenti berbicara?

Di Gaza, anak-anak hidup dalam trauma parah di kondisi yang penuh ketidakpastian dan berlangsung lama. Anak-anak itu mengkhawatirkan nyawa mereka, hidup keluarga mereka, teman-teman dan orang yang mereka kasihi.

Faktor-faktor itu membuat tingkat stres dan dampak pada sistem saraf anak-anak sangat luar biasa.

Reaksi dari tekanan itu berbeda di masing-masing anak. Beberapa menunjukan sikap gelisah, susah tidur, emosi, hingga berteriak. Dan, penderitaan seperti itu bisa dideteksi.

Namun, ada anak-anak yang bereaksi dengan membisu sepenuhnya. Seolah-olah sistem saraf mereka berkata: "Saya tidak kuat lagi". Akhirnya, cara yang dilakukan untuk melindungi diri mereka adalah dengan menarik diri. Dan, bahasa adalah bagian dari hal itu.

Bagi anak-anak itu, diam menjadi cara untuk tidak berinteraksi dengan dunia, yang tidak berhenti membuat mereka menderita dan sakit. Jadi diam bukan pilihan yang disadari, melainkan respons neurologis terhadap stres dan trauma ekstrem.

Katrin Glatz Brubakk melakukan dua misi ke Gaza bersama Médecins Sans Frontières. Psikoterapis anak ini adalah profesor di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia, NTNU.

Banyak orang sulit memahami penderitaan yang telah dan sedang dialami oleh anak-anak di Gaza. Bisakah Anda memberi kami gambaran tentang trauma ekstrem yang mereka derita?

Tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak trauma. Ada lebih dari satu juta anak yang telah mengalami trauma parah. Mereka harus mengungsi, mereka kehilangan rumah, mereka mustahil pergi ke sekolah karena sekolah-sekolah dibom.

Semua anak-anak merasakan kehilangan, seperti anggota keluarga, teman sekolah, guru, seorang tetangga. Banyak anak-anak melihat tubuh-tubuh yang terpotong-potong dan mencium bau darah yang tumpah.

Beberapa anak bercerita kepada saya bahwa mereka membantu mengumpulkan sisa-sisa tubuh manusia atau bagian-bagian otak di jalan. Itu adalah trauma ekstrem.

Dan itu tidak terjadi hanya sekali, melainkan berkali-kali dialami sebagian besar anak-anak.

Selain itu, mereka juga telah kehilangan seluruh rasa aman. Untuk memiliki perkembangan yang baik, anak-anak perlu memiliki kepercayaan di tingkat tertentu pada dunia, keyakinan bahwa dunia bisa menjadi baik, bahwa orang-orang tidak ingin menyakiti Anda.

Rasa aman ini telah hilang sepenuhnya karena besarnya kehancuran, yang berdampak pada semua orang di Gaza. Tidak ada anak di Gaza yang bisa tidur dengan kepastian bahwa mereka akan bangun keesokan harinya.

Mereka tidak memiliki kamar yang bisa mereka masuki, menutup pintu, dan tahu bahwa tidak ada yang bisa menjangkau mereka.

Jadi perang ini tidak hanya menyebabkan trauma, tetapi juga memengaruhi seluruh pandangan dunia mereka.

Bisakah Anda bercerita tentang anak-anak yang Anda tangani di Gaza?

Saya ingin berbicara kepada Anda tentang Adam, seorang anak laki-laki berusia lima tahun. Dia adalah anak yang sangat lincah, ceria, banyak bicara, dan aktif. Dia senang berada di luar ruangan dan bermain.

Setelah pertikaian dimulai pada 2023, keluarganya dipaksa mengungsi dan pindah ke sebuah tenda. Kakek dan neneknya tinggal sedikit lebih jauh, juga di sebuah tenda.

Suatu hari, Adam dan ayahnya ingin mengunjungi kakek dan neneknya, di sebuah daerah yang tidak ada perintah evakuasi dan seharusnya aman.

Tetapi tanpa peringatan sebelumnya, sebuah proyektil jatuh sangat dekat dengan mereka dan melukai Adam serta ayahnya dengan parah.

Mereka dibawa dengan segera ke rumah sakit. Tetapi seperti yang biasa terjadi ketika ada serangan-serangan ini, ada begitu banyak korban sehingga tidak ada ranjang rumah sakit yang kosong. Banyak orang ditempatkan di lantai.

Adam dan ayahnya berada di lantai ruang gawat darurat menunggu untuk diobati. Dan, anak itu melihat dan mendengar bagaimana ayahnya, di sampingnya, mengembuskan napas terakhirnya.

Adam juga terluka parah. Dia kehilangan satu kaki dan kaki yang lain terluka. Setelah menyaksikan kematian ayahnya, anak itu berhenti berbicara.

Terkadang dia membisikkan beberapa kata terpisah kepada ibunya, tetapi dia tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Dia nyaris tidak makan. Dia adalah seorang anak dalam kondisi kritis.

Dokter Katrin Glatz Brubakk berkata, salah satu cara anak-anak untuk melindungi diri mereka dari trauma adalah dengan menarik diri.

Dampak-dampak apa yang bisa dimunculkan oleh trauma-trauma ini di masa depan?

Ketika seorang anak seperti Adam berhenti berinteraksi dan berbicara, dia juga berhenti berkembang.

Seorang anak berusia lima tahun seharusnya mempraktikkan keterampilan bahasanya dengan anak-anak lain dan orang dewasa untuk belajar, menyelesaikan masalah, mempelajari norma-norma sosial melalui permainan.

Semua ini terputus. Bahasa adalah sebuah tanda, tetapi perkembangannya berhenti sepenuhnya. Apa yang telah saya amati berulang kali adalah jika situasi ini berkepanjangan, hal itu memengaruhi otak anak-anak ini secara fisik.

Kita tahu bahwa pada anak-anak yang mengalami trauma parah, amigdala, bagian otak yang bertanggung jawab atas emosi yang intens, membesar ukurannya.

Ini bisa diukur. Ukurannya lebih besar pada anak-anak yang trauma.

Korteks prefrontal, bagian otak yang berkembang paling akhir dan yang bertanggung jawab atas fungsi-fungsi seperti perencanaan, penyelesaian masalah, interaksi sosial, dan regulasi emosional, aspek-aspek fundamental dalam kehidupan, ditemukan kurang berkembang. Bentuknya lebih tipis dan memiliki lebih sedikit koneksi saraf.

Jika seorang anak tetap berada dalam keadaan seperti Adam, menarik diri, tanpa perkembangan maupun bahasa, dan dibiarkan dalam situasi stres ekstrem untuk waktu yang lama, dia akan memiliki masalah di kemudian hari dalam hidupnya. Dia tidak akan pernah pulih.

Contoh terbaik yang saya miliki adalah adik saya sendiri. Dia diadopsi pada 1974, setelah perang Vietnam. Dia tumbuh seperti anak-anak Gaza tumbuh sekarang, pemboman terus-menerus, banyak ketidakpastian, dan kekurangan makanan,. Kondisi itu memengaruhi perkembangan otaknya.

Ketika adik laki-laki saya tiba di Norwegia, meskipun itu adalah tempat yang aman dan dia bisa ambil semua makanan yang dia butuhkan, perlu waktu bertahun-tahun baginya untuk berhenti menyembunyikan makanan di balik buku-bukunya, karena dia tidak merasa aman.

Itulah yang kami sebut "cedera kognitif akibat perang", yang tidak terlihat, yang dalam banyak kasus akan menyertai anak-anak ini, mungkin, sepanjang hidup mereka.

Jika situasi stres ekstrem terjadi berkepanjangan, hal itu memengaruhi otak anak-anak secara fisik.

Bagaimana Anda mencoba membantu Adam?

Bekerja dalam konteks seperti Gaza, ada banyak hal yang tidak bisa kami lakukan.

Yang benar-benar diperlukan oleh anak-anak ini adalah tempat yang aman untuk tinggal, kehidupan sehari-hari yang terstruktur, dapat kembali ke sekolah, bermain tanpa rasa takut. Tetapi untungnya ada hal-hal yang memang bisa kami lakukan.

Yang paling penting adalah anak-anak ini tahu bahwa, meskipun seluruh dunia bukan tempat yang aman bagi mereka saat ini, ada ruang-ruang aman yang kecil. Bahwa ada orang-orang yang mengelilingi mereka di sini dan saat ini akan mendukung mereka.

Pada awalnya Adam tidak ingin berbicara dengan kami, tetapi kami terus pergi ke kamarnya setiap hari dan kami berbicara dengan ibunya. Kami berbicara dengan ibunya tentang suami yang telah hilang, tentang kenangan-kenangan indah, tentang impian-impian yang dia miliki untuk masa depan, hal-hal yang bisa memberi Adam sedikit harapan bahwa ini bukanlah akhir, ada harapan sesuatu yang lebih baik akan datang.

Suatu hari, ketika saya berada di sana, tiba-tiba Adam berbisik kepada ibunya: "Suruh perempuan ini pergi, saya tidak menyukainya".

Itu adalah sebuah penolakan tetapi saya sangat, sangat senang karena itu berarti Adam mulai berinteraksi dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Beberapa hari kemudian dia melihat ke arah saya, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Tatapan itu hanya sesaat, tetapi saya memanfaatkan kesempatan tersebut dan berkata kepadanya:

"Wah, kamu punya mata cokelat yang sangat besar! Itu sangat indah. Mata saya sangat berbeda, warnanya biru. Apakah kamu pernah melihat mata seperti saya sebelumnya?".

Dan itu membangkitkan rasa ingin tahu anak berusia lima tahun itu.

Itu adalah awal kami bisa membuat dia memercayai orang-orang sedikit demi sedikit. Dia bisa berbicara singkat kepada kami, kembali ke suatu yang normal meskipun tidak secara permanen, karena dia memikul semua trauma itu.

Foto kehancuran di Gaza. Bangunan-bangunan yang hancur dan puing-puing terlihat jelas.

Apakah Anda berbicara dengan Adam dalam bahasa Arab atau melalui seorang penerjemah?

Di Gaza ada banyak orang yang sangat berpendidikan. Dengan ibu Adam saya berbicara bahasa Inggris, dia memiliki gelar doktor dalam bidang fisika.

Untuk Adam, ada seorang penerjemah. Saya harus menambahkan bahwa, ketika saya bekerja di proyek-proyek seperti ini, saya memimpin sebuah tim psikolog dan pekerja sosial setempat.

Saya membawa pengetahuan, tetapi pekerjaan utama, yang berlanjut kemudian, dilakukan oleh tim MSF kami di lapangan.

Di Rumah Sakit Nasser Anda juga bekerja dengan anak-anak dengan luka bakar parah...

Ketika bom jatuh, ada gelombang panas yang sangat besar dan memengaruhi semua orang di dekatnya. Kelompok usia paling banyak yang kami layani adalah anak-anak usia empat sampai enam tahun.

Ini terjadi hanya karena mereka terlalu berat untuk digendong oleh orang tua yang sudah menggendong anak-anak yang lebih kecil, tetapi kaki mereka masih terlalu pendek untuk berlari cepat.

Ini menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada anak yang aman di Gaza.

Dan anak-anak sangat menyadari hal itu. Ketakutan akan nyawa sendiri tetap menjadi kenyataan sehari-hari bagi anak-anak di Gaza.

Bagaimana Anda bekerja dengan anak-anak in yang mengalami penderitaan fisik yang besar?

Luka bakar sangat amat menyakitkan sehingga hal-hal sederhana seperti mengganti perban harus dilakukan menggunakan anestesi. Pemulihannya lama.

Ketika tidak ada cukup asupan makanan, waktu pemulihannya lebih lama lagi. Ini berarti anak-anak tetap berada dalam penderitaan yang mengerikan untuk waktu yang lebih lama.

Salah satu anak perempuan yang datang ke departemen kami adalah Mona, enam tahun. Dia menderita luka bakar di seluruh tubuhnya. Dia memiliki begitu banyak perban sehingga satu-satunya hal yang bisa kami lihat adalah mata dan lubang hidungnya.

Pada awalnya semuanya berkisar pada bagian medis, untuk memastikan dia dapat bertahan hidup. Jadi saya tidak sempat mengenal Mona sampai mereka mulai melepas beberapa perbannya dan saya melihat wajahnya dengan banyak luka.

"Ketika sebuah bom jatuh, itu menghasilkan gelombang panas yang sangat besar... Kelompok usia paling banyak kami layani dengan luka bakar adalah anak-anak usia empat sampai enam tahun," kata Katrin.

Apa yang telah terjadi dengan Mona?

Keluarganya dipaksa untuk berpindah tempat dan mereka tinggal di sebuah tenda. Tetapi kemudian pemboman berpindah ke daerah lain dan mereka berpikir aman untuk kembali ke rumah mereka yang hancur.

Baru dua hari setelah kembali ke rumah, sebuah bom menghantam apartemen tersebut. Dua dari saudara kandungnya tewas seketika. Tetapi ledakan itu membakar sebuah tangki gas, yang memicu kebakaran yang meluas: gorden, sofa, kasur-kasur terbakar, dan ada tiga anak perempuan di kamar itu.

Sang ayah secara ajaib berhasil mengeluarkan ketiga anak perempuan itu dari apartemen. Mona menderita luka bakar di seluruh tubuhnya; kakak perempuannya, yang berada di tempat tidur sebelah, juga memiliki luka bakar dan menderita rasa sakit yang hebat. Saudari perempuan tengahnya berada di perawatan intensif karena dia menghirup begitu banyak udara panas sehingga dia juga mengalami luka bakar internal.

Jadi Mona tidak hanya menghadapi rasa sakitnya sendiri, tetapi dia juga khawatir tentang apakah saudari perempuannya akan bertahan hidup.

Keluarga Mona sangat mendukungnya dan dia mulai pulih. Yang benar-benar membuat saya terkesan adalah para orang tua di Gaza, tidak hanya orang tua Mona, yang menyaksikan bagaimana anak-anak mereka menderita, terluka, dan mereka sendiri trauma oleh semua pemboman, kematian, kehancuran.

Meskipun demikian, mereka mampu memberikan kepada anak-anak ini perawatan, kehangatan, dan cinta yang luar biasa agar bisa pulih dengan sebaik-baiknya.

Bagaimana Anda membantu Mona?

Salah satu hal yang saya lakukan ketika bekerja dengan anak-anak adalah banyak bermain, karena bermain adalah bahasa anak-anak. Melalui permainan mereka mempelajari keterampilan praktis, menyelesaikan masalah, berinteraksi sosial, mengekspresikan perasaan mereka.

Dan dengan Mona kami memulai dengan gelembung sabun. Saya menyebutnya "gelembung harapan" karena mereka secara harfiah meniupkan harapan kepada anak-anak ini. Yang membuat gelembung sabun begitu fantastis adalah menarik perhatian, indah dan menenangkan.

Jika saya memiliki anak yang sangat gelisah, saya bertanya kepadanya: "Apakah kamu melihat berapa banyak warna yang ada dalam satu gelembung?" Karena jika kamu memperhatikannya dengan baik, itu adalah semua warna pelangi.

Ini membantu anak untuk beralih dari keadaan stres itu sesuatu yang lebih tenang, lebih lembut, untuk mengubah fokus. Karena trauma bekerja sedemikian rupa sehingga Anda terjebak dalam keadaan itu.

Hal ajaib lainnya dari gelembung sabun adalah jika Anda ingin memiliki gelembung yang besar, Anda harus meniup sepelan mungkin. Karena jika Anda meniup dengan cepat Anda hanya mendapatkan gelembung-gelembung kecil atau tidak sama sekali.

Tetapi jika Anda meniup dengan pelan Anda mendapatkan gelembung-gelembung yang bagus. Bernapas dengan pelan dan dalam, menenangkan sistem saraf.

"Jika kamu ingin gelembung besar kamu harus meniup sepelan mungkin. Dan bernapas dengan pelan dan dalam, menenangkan sistem saraf," kata Katrin.

Apa efek dari hal ini pada otak anak-anak?

Apa yang saya lakukan, pada dasarnya, adalah memberikan amigdala, sistem alarm otak, kesempatan untuk tenang. Dengan demikian, korteks prefrontal, bagian otak yang bertugas dalam penyelesaian masalah dan regulasi, memiliki kesempatan untuk berkembang lebih baik.

Tentu saja, itu tidak menyelesaikan masalah sepenuhnya, tetapi itu memberikan anak-anak ini kesempatan yang lebih baik untuk mengurangi efek jangka panjang dari kerusakan kognitif yang bisa mereka derita akibat perang.

Suatu hari Mona berkata "Saya ingin sebuah rumah putri", dan dia menjelaskan kepada saya bahwa dia berbicara tentang sebuah rumah boneka. Tentu saja itu tidak bisa didapatkan di Gaza, tetapi saya menemukan kardus, pita perekat, dan beberapa warna untuk melukis, dan bersama-sama kami membangun sebuah rumah.

Mona ingin rumah itu memiliki dua lantai dan menghiasnya dengan sangat baik. Dia dan saudari perempuannya sedang bermain dengan sebuah rumah boneka ketika bom itu jatuh.

Meskipun itu tampak seperti sesuatu yang sederhana, itu adalah pertama kalinya Mona bisa menceritakan kepada saya apa yang telah terjadi padanya dan betapa khawatirnya dia ke saudari perempuannya.

Hanya melalui permainan dia bisa menemukan kata-kata untuk mengekspresikan dirinya. Jadi permainan bisa menjadi sebuah cara untuk memproses trauma, untuk menemukan bahasa bagi pengalaman-pengalaman yang telah dijalani.

Mona, enam tahun, menderita luka bakar parah. Suatu hari dia meminta sebuah "rumah putri" dan hanya melalui permainan dia bisa menemukan kata-kata untuk mengekspresikan dirinya.

Bisakah Anda menjelaskan kepada kami konsep yang sering Anda gunakan tentang "penderitaan dalam diam"?

Dalam konteks seperti Gaza, semuanya kacau. Ada banyak kebisingan, anak-anak berteriak karena serangan, orang tua berteriak khawatir tentang anak-anak mereka, orang-orang menangis karena kesakitan.

Sangat mudah untuk mengabaikan anak-anak yang diam-diam menderita. Bukan karena orang-orang tidak peduli, melainkan karena ada terlalu banyak hal yang menyita perhatian dan sangat sedikit sumber daya untuk semua yang harus dilakukan.

Seorang anak yang diam, yang tidak mengekspresikan penderitaannya, yang tidak meminta bantuan, adalah anak yang menderita dan membutuhkan perhatian yang sama besarnya dengan mereka yang menangis dengan keras.

Karena jika tidak, dalam kasus terburuk, mereka bisa tetap berada dalam penderitaan diam ini untuk waktu yang sangat lama. Saya telah melihat kasus-kasus ekstrem, bukan di Gaza, tetapi di Moria, kamp pengungsi di Yunani.

Ini adalah sebuah sindrom yang disebut "sindrom pengunduran diri", yang membuat anak-anak membisu sepenuhnya. Mereka berhenti berbicara, makan, bahkan tidak membuka mata mereka, nyaris tidak merespons ketika Anda mencoba menyentuh mereka.

Dan jika mereka tidak menerima bantuan, mereka akan tetap berada dalam kondisi itu selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, sangat penting bagi anak-anak seperti Adam dan Mona untuk dapat berintegrasi kembali ke dalam kehidupan.

Katrin menegaskan bahwa dia ingin kembali ke Gaza untuk terus membantu anak-anak.

Anda berada di banyak zona konflik. Mengapa Anda mengatakan bahwa Gaza tidak sebanding dengan apa pun?

Saya bekerja selama 12 tahun terakhir di Kongo, Lebanon, Mesir dengan para pengungsi yang trauma, di sebuah kapal penyelamat di Laut Mediterania, di Turki setelah sebuah gempa bumi besar.

Tetapi tingkat trauma yang saya lihat di Gaza dan tingkat kehancurannya itu sama sekali tidak sebanding dengan apa pun yang pernah saya lihat dalam 12 tahun itu. Mutlak semua orang di Gaza terdampak.

Dan tidak ada jalan keluar, tidak ada tempat aman yang bisa dituju. Seluruh wilayah hancur berkeping-keping. Selain itu sistem kesehatan diserang secara sistematis, rumah sakit-rumah sakit dibom. [Israel membenarkan serangan-serangan terhadap fasilitas medis dengan mengklaim bahwa kelompok-kelompok bersenjata seperti Hamas menggunakan rumah sakit untuk tujuan militer].

Apakah Anda berharap kembali ke Gaza? Israel membatasi akses badan-badan bantuan.

Untuk saat ini mereka tidak mengizinkan saya masuk.

Kami memiliki 1.600 karyawan setempat, dan saya yakin mereka sedang melakukan pekerjaan yang luar biasa, tetapi staf internasional tidak memiliki izin untuk masuk sejak 1 Januari. Saya sangat berharap itu berubah. Jika saya bisa pergi ke Gaza, saya akan pergi dalam sekejap mata; itu adalah satu-satunya tempat di mana saya ingin berada.

Satu-satunya hal yang benar dan apa yang dibutuhkan oleh anak-anak di Gaza sekarang adalah kita mengerahkan seluruh upaya, kemampuan, untuk memberikan mereka sebuah perdamaian sejati. Mengembalikan kehidupan mereka, memberi mereka kemungkinan untuk tinggal di tempat-tempat yang aman, untuk pergi ke sekolah.

Itu adalah satu-satunya cara agar mereka memiliki masa depan yang layak. Dan apakah Anda seorang politisi, mahasiswa, atau apa pun, saya akan mengatakan kepada mereka: gunakan suaramu agar tekanannya cukup dan perdamaian ini akhirnya tiba di Gaza. Jika tidak, kita akan menghancurkan seluruh generasi anak-anak.

"Bagi anak-anak ini, berhenti berbicara adalah cara untuk tidak berinteraksi dengan dunia yang terus membuat mereka menderita dan menyakiti mereka," kata Katrin.

Apa yang membawa Anda untuk mendedikasikan hidup Anda bagi anak-anak yang menderita dalam keadaan-keadaan traumatis?

Saya tumbuh dengan mendengarkan cerita-cerita perang sepanjang hidup saya.

Ibu saya adalah orang Jerman, lahir pada 1942. Ketika dia masih kecil dan sirine berbunyi, mereka membawanya turun ke ruang bawah tanah dan dia tidur di atas karung-karung kentang. Dan dia menceritakan bahwa para tentara kembali dari garis depan tanpa kaki atau lengan.

Bagi dia, sangat penting untuk mencoba memahami bagaimana sebuah genosida bisa terjadi, bagaimana kita bisa membiarkannya. Dan berulang kali dia menegaskan kepada kami, anak-anaknya, "tidak pernah lagi terjadi", sesuatu seperti itu tidak boleh terjadi lagi.

Dan kemudian saya, tentu saja, bersama saudara laki-laki saya, melihat dari dekat trauma dan kerusakan yang disebabkan oleh perang pada seorang anak. Pekerjaan saya di Gaza adalah versi saya dari "tidak pernah lagi". Tidak ada anak yang boleh mengalami trauma ini. Itu menghancurkan hati saya.