Kisah Pembelot Korut Kirim Beras dalam Botol demi Menolong Rekan Senegaranya

Konten Media Partner
15 Mei 2024 9:10 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical

Sinar mentari tak menghangatkan dinginnya udara Pulau Seokmodo di Korea Selatan pada bulan April silam. Park Jung-oh berdiri di tepi pantai dan, dengan gugup, melempar botol-botol berisikan beras ke laut – harapannya adalah botol-botol ini mencapai Korea Utara.

sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Sudah hampir satu dekade Park menjalankan aksinya ini. Namun, dia harus diam-diam melakukannya karena Korea Selatan melarang pengiriman bahan-bahan anti-Korea Utara lewat perbatasan pada Juni 2020.
“Kami mengirimkan botol-botol ini karena orang-orang sebangsa mati kelaparan. Apa itu salah?” ujar pria berusia 56 tahun itu.
Mahkamah Konstitusi Korsel menganulir larangan tersebut pada bulan September silam. Tetap saja Park tidak mau menarik terlalu banyak perhatian – dia pun menunggu beberapa bulan.
Pada 9 April, Park akhirnya kembali mengirim botol-botol beras pada siang bolong. Pasang surut air laut diperkirakan akan terjadi paling besar sehingga botol-botol itu bisa lebih cepat mencapai Korut.
"Ini menandai awal baru untuk aktivisme saya," ucap Park.
Park membelot dari Korut 26 tahun yang lalu. Ayahnya adalah mata-mata untuk Korut, tetapi memutuskan kabur ke Korsel sehingga satu keluarga pun terpaksa ikut. Rezim melancarkan kampanye hitam dan bersumpah memburu mereka semua.
Saat masih tinggal di Korut, Park seringkali melihat jasad orang yang mati kelaparan tergeletak di jalanan.
Park tercengang mendengar cerita seorang misionaris yang sering bepergian ke China tentang tentara bersenjata datang ke Provinsi Hwanghae saat musim panen dan mengambil semua hasil sawah.
Akibat aksi ini, para petani pun mati kelaparan. Baru kali ini Park mendengar orang bisa mati kelaparan di wilayah penghasil beras.
Pada tahun 2015, Park mendirikan Keun Saem bersama istrinya untuk mengirim persediaan dalam botol-botol plastik ke Provinsi Hwanghae.
Mereka berkonsultasi dengan nelayan setempat dan Institut Sains dan Teknologi Laut Korea tentang waktu pasang laut. Pada hari-hari aliran laut lebih kencang, botol-botol itu cuma butuh empat jam untuk sampai ke Korea Utara.
Selain satu kilogram beras, botol ukuran dua liter juga berisikan diska lepas (flash disk) yang dipenuhi lagu-lagu K-Pop, serial K-drama bertemakan Korea Utara seperti Crash Landing on You, video-video yang membandingkan dua Korea, dan versi digital Alkitab.
Park yakin orang-orang Korut tidak akan kesulitan mengakses konten digital mengingat perangkat elektronik seperti komputer dan ponsel semakin umum dijumpai.
“Banyak orang mengira tidak ada listrik di Korea Utara. Tetapi saya dengar ada banyak panel surya masuk dari China. Panel-panel ini bisa digunakan untuk mengisi ulang baterai terutama saat musim panas,” ujar Park.
Kadang-kadang selembar uang US$1 (sekitar Rp16.000) dimasukkan ke dalam tiap-tiap botol supaya penerimanya bisa menukarnya dengan mata uang China atau Korea Utara. Per tahun lalu, nilai resmi US$1 setara dengan 160 won Korea Utara. Nilai tukar ini bisa lebih dari 50 kali lipat di pasar gelap.
Korea Selatan melarang pengiriman selebaran anti-Korea Utara dan barang-barang lainnya setelah Kim Yo-jong mengeluarkan peringatan pada 2020
Pada masa pandemi, Park dan istrinya juga memasukkan obat pereda rasa sakit dan masker ke dalam botol – persediaan yang sangat dibutuhkan Korea Utara yang terputus dari dunia luar.
Larangan Korsel tadi berlaku pada Desember 2020. Beberapa bulan sebelumnya, Kim Yo-jong, saudari Kim Jong-un yang juga merupakan sosok kuat, memperingatkan para aktivis untuk tidak mengirim selebaran anti-Korea Utara – mereka dituduh melanggar perjanjian-perjanjian antar-Korea.
Beberapa hari kemudian, Korea Utara meledakkan kantor penghubung bersama yang sangat simbolis di Kaesong, kota dekat zona demiliterisasi.
Undang-undang yang dikeluarkan Korsel menuai kontroversi besar. Para pengkritik menjuluki larangan ini “Dekrit Kim Yo-Jong” karena pemerintah di bawah Presiden Moon Jae-in terlalu ingin menyenangkan hati Korut.
Otoritas Korsel membela undang-undang yang menurut mereka melindungi keamanan wilayah perbatasan dan stabilitas hubungan antar-Korea.
“Kami diperlakukan bak kriminal,” kenang Park.
“Saya bolak-balik kantor polisi hampir tiga tahun lamanya. Capek dan tersiksa rasanya.”
Walaupun larangan itu dianulir, Park dan botol-botolnya tetap dilanda kesulitan. Gereja-gereja dan lembaga-lembaga hak asasi manusia yang biasanya menyumbang sekarang berkurang jumlahnya.
Beberapa pembelot lainnya ingin mengirim botol-botol ini ke tanah air mereka dan masing-masing menyumbang 200.000 won (sekitar Rp2,3 juta).
Relasi Park dan istrinya dengan warga setempat juga memburuk setelah undang-undang tahun 2020. Sebagian dari mereka yakin apa yang dilakukan Park mengancam keamanan.
Sebelum larangan itu ada, kebanyakan orang tidak peduli dengan apa yang Park lakukan. Bahkan kepala desa tetangga biasanya memberi saran tentang titik-titik terbaik untuk melempar botol. Kadang-kadang dia juga membantu mereka langsung.
Sekarang Park harus melempar botol-botolnya di bawah pengawasan ketat puluhan polisi, korps marinir, dan tentara. Para inspektur siap bertindak sebagai mediator, tetapi mereka juga terus bertanya kepada Park apakah ada barang rahasia atau sensitif di dalam botol-botol.
Tidak pernah tebersit di pikiran Park untuk menghentikan aksinya.
“Pernah saya dengar seorang warga Korut mencurigai beras di dalam botol. Dia pun memasaknya kemudian diberikan ke seekor anjing. Karena anjingnya baik-baik saja, dia memakannya dan merasa kualitasnya jempolan," tutur Park.
"Dia lalu menjual beras dengan harga mahal dan uangnya dipakai untuk membeli hasil pertanian yang murah seperti jagung dalam jumlah besar."
Satu keluarga beranggotakan sembilan orang yang membelot dari Korut awal 2023 mengaku menerima botol-botol Park dan mengirim pesan terima kasih kepadanya via pembelot lainnya.
Empat tahun silam, seorang perempuan pembangkang Korut juga berterima kasih kepada Park karena botol-botol itu menyelamatkan hidupnya.
Park tidak pernah bertemu langsung dengan penerima bantuannya. Yang dia mau hanyalah membantu orang-orang dan bukan menuai pujian.
“Orang-orang Korea Utara terputus dari dunia luar. Mereka mematuhi negara tanpa protes karena takut konsekuensi jika membangkang,” tutur Park.
“Ini hanyalah cara saya untuk sedikitnya bisa membantu.”

Baca juga: