Konten Media Partner

Mengapa Benteng yang Direbut di Perang Salib Penting di Konflik Israel-Hizbullah

BBC NEWS INDONESIA verified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mengapa Benteng yang Direbut di Perang Salib Penting di Konflik Israel-Hizbullah
zoom-in-whitePerbesar

Rekaman video dari kamera tubuh serdadu Israel memperlihatkan sekumpulan tentara bergerak melalui reruntuhan sebuah benteng abad pertengahan di puncak bukit, lalu mengibarkan bendera Israel di lokasi tersebut.

Israel mengatakan telah merebut Beaufort Castle yang strategis, di Lebanon selatan. Pada Minggu (31/05), setelah kejadian itu, perdana menteri Israel menyebutnya "tahap yang menentukan dan pergeseran yang menentukan dalam kebijakan kami".

"Kami telah mematahkan tembok ketakutan," kata Benjamin Netanyahu. "Kami mengambil inisiatif. Kami beroperasi di semua front—di Suriah, di Gaza, di Lebanon."

Peristiwa itu terjadi ketika pasukan darat Israel bergerak semakin jauh ke dalam wilayah Lebanon, melampaui garis demarkasi awal mereka di Sungai Litani.

UK, Prancis, dan Jerman mengkritik langkah terbaru Israel. Namun, Israel tak berhenti. Militer Israel (IDF) memperingatkan lebih banyak warga untuk mengungsi dari wilayah Lebanon selatan.

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menuduh Israel melakukan "hukuman kolektif". Namun ini bukan pertama kalinya Israel menguasai Beaufort Castle.

Tentara Israel merebutnya 44 tahun lalu, dalam peristiwa yang disebut Israel sebagai Perang Lebanon Pertama. Untuk memahami mengapa lokasi ini diperebutkan dengan sengit, penting melihat sejarah panjang kastel tersebut dan nilai strategis bukit tempat kastel itu berdiri.

Kastel dari Era Perang Salib

Beberapa sejarawan meyakini puncak bukit itu pertama kali dibentengi pada era Fenisia atau Romawi. Namun kastel yang ada sekarang berasal dari era Perang Salib pada abad ke‑12.

Pada era tersebut—akhir abad ke‑11 hingga abad ke‑13—pasukan Eropa membangun rangkaian benteng di puncak bukit di Levant guna menjaga rute antara pesisir dan kota-kota di pedalaman.

Beaufort menjadi salah satu kastel yang paling penting. Sekitar tahun 1190, benteng itu direbut oleh Salahuddin, pemimpin Muslim yang mengalahkan pasukan Salib dan membentuk kembali kawasan tersebut.

Bendera Israel kembali berkibar di atas Beaufort Castle.

Berdasarkan sumber-sumber Eropa abad pertengahan, lokasi ini disebut sebagai "Beaufort", kata dalam bahasa Prancis kuno yang berarti "benteng indah". Nama Arabnya, Qal'at al-Shaqif, atau Shaqif Arnoun, yang berarti Kastel Batu Tinggi.

Sejarah Beaufort Castle tercermin dalam desainnya yang unik, menggabungkan arsitektur Perang Salib dengan elemen Islam Timur.

Sejak 2024, Beaufort menjadi salah satu situs arkeologi dan warisan budaya yang dilindungi Konvensi Den Haag untuk Perlindungan Properti Budaya dalam Konflik Bersenjata.

Israel pernah merebut Beaufort Castle pada 6 Juni 1982.

Beaufort Castle kembali menjadi sorotan pada paruh kedua abad ke‑20, ketika konflik Arab-Israel meningkat dan Lebanon selatan menjadi garis depan.

"Mengingat posisinya yang bisa memantau wilayah luas, pada 1970-an hingga Juni 1982, tempat itu digunakan sebagai basis gerilyawan Palestina untuk melawan Israel," kata Prof Asher Kaufman, dari University of Notre Dame.

Selama invasi Israel pada 1982, benteng tersebut menjadi lokasi beberapa pertempuran paling sengit dalam perang itu.

Salah satu bentrokan yang paling banyak didokumentasikan dalam konflik tersebut, Pertempuran Shaqif, masih dikenang militer Israel dan Lebanon, kata Kaufman.

Setelah akhirnya merebut Beaufort pada 6 Juni 1982, Israel menggunakannya sebagai pos pengamatan yang dibentengi di dalam "zona keamanan" Lebanon selatan hingga penarikan mundur pada tahun 2000.

Bukit tempat Beaufort Castle berada punya titik pandang strategis atas Sungai Litani selama ratusan tahun.

Berdiri di atas bukit berbatu dekat Kota Arnoun, di Kegubernuran Nabatieh, benteng ini memberikan pandangan jauh ke wilayah Israel utara, dataran Lebanon selatan, serta ke Lembah Litani.

Secara historis, siapa pun yang menguasai kastel tersebut dapat memantau jalan-jalan penting menuju selatan. Sehingga Beaufort Castle menjadi target bagi pihak-pihak yang bertikai dari Abad Pertengahan hingga era modern.

Namun lorong batu yang sempit, ruangan yang dibentengi, tangki air, dan sumur memungkinkan petempur di dalam kastel itu untuk bertahan selama pengepungan.

Bagi Dr Lina Khatib, dari Program Kajian Timur Tengah dan Afrika Utara Chatham House, pendudukan kembali Beaufort oleh Israel merupakan pukulan terhadap moral Hizbullah dan para pendukungnya.

"Perebutan Beaufort Castle menunjukkan bahwa Hizbullah tidak mampu mencegah Israel memperluas pendudukannya atas wilayah Lebanon," katanya.

Sebagai situs warisan yang dilindungi yang telah dipugar dan dibuka kembali untuk pengunjung dalam beberapa tahun terakhir, Beaufort secara luas dipandang sebagai bagian dari identitas sejarah dan budaya Lebanon.

Pejabat lokal di Arnoun mengecam serangan terbaru terhadap lokasi tersebut. Pada Senin (01/07), juru bicara Uni Eropa, Anouar El Anouni, mengatakan:

"Kami menyerukan kepada Israel untuk menghentikan eskalasi militernya di Lebanon dan untuk menghormati kedaulatan serta integritas teritorial Lebanon."