Misi India: Wahana Antariksa Chandrayaan-3 Kirim Foto-Foto Baru Permukaan Bulan

Konten Media Partner
7 Agustus 2023 16:50 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Serangkaian gambar yang dikirim oleh Chandrayaan-3 menunjukkan kawah di permukaan bulan semakin besar saat pesawat ruang angkasa kian mendekatinya.
zoom-in-whitePerbesar
Serangkaian gambar yang dikirim oleh Chandrayaan-3 menunjukkan kawah di permukaan bulan semakin besar saat pesawat ruang angkasa kian mendekatinya.
Badan antariksa India merilis gambar-gambar pertama Bulan yang diambil oleh Chandrayaan-3, setelah wahana antariksa itu memasuki orbit Bulan pada Sabtu (05/08).
Gambar-gambar itu memperlihatkan kawah-kawah di permukaan Bulan makin besar ketika pesawat ruang angkasa tersebut mendekat.
Chandrayaan-3 yang dilengkapi pengorbit, pendarat, dan penjelajah akan mendarat di permukaan Bulan pada 23 Agustus 2023.
Jika berhasil, India akan menjadi negara pertama yang mendarat di dekat kutub selatan Bulan yang jarang dijelajahi.
Apabila berhasil, misi tersebut akan menjadi misi pendaratan di Bulan keempat setelah AS, bekas Uni Soviet, dan China.
Setelah mengorbit Bumi selama sekitar 10 hari, wahana itu dikirim ke orbit translunar Selasa (01/08) lalu dan berhasil didorong ke orbit bulan pada Sabtu (05/08).
Badan Penelitian Luar Angkasa India (Isro) mengatakan dalam siaran pers bahwa mereka telah memantau "kesehatan" Chandrayaan-3 dan kondisinya "normal".
Perkembangan ini juga menunjukkan bahwa "ini ketiga kalinya berturut-turut Isro berhasil mendorong pesawat ruang angkasa ke orbit bulan".
Para ilmuwan mengatakan Chandrayaan-3, yang merupakan program penjelajahan Bulan ketiga India, diharapkan dapat mendongkrak keberhasilan misi ke Bulan yang sebelumnya.
Misi ini terjadi 13 tahun setelah negara itu melakoni misi ke Bulan pertama pada 2008, yang menemukan keberadaan molekul air di permukaan bulan yang kering dan menetapkan bahwa Bulan memiliki atmosfer pada siang hari.
Chandrayaan-2 diluncurkan pada Juli 2019, tetapi hanya berhasil sebagian.
Pengorbitnya terus mengelilingi dan mempelajari Bulan bahkan hingga hari ini, tetapi pendarat dan penjelajahnya gagal melakukan pendaratan mulus dan jatuh saat mendarat.
Kepala Organisasi Riset Antariksa India (Isro), Sreedhara Panicker Somanath, mengatakan, mereka telah mempelajari dengan cermat data dari kecelakaan yang terjadi dan melakukan latihan simulasi untuk memperbaiki gangguan di Chandrayaan-3, yang berbobot 3.900 kg dan menelan biaya 6,1 miliar rupee atau sekitar Rp1,1 triliun.
Pendarat (disebut Vikram) memiliki berat sekitar 1.500 kg dan membawa penjelajah 26 kg di dalam perutnya yang diberi nama Pragyaan, dari bahasa Sansekerta yang berarti kebijaksanaan.
Saat ini, pesawat itu telah memasuki orbit Bulan, dan para ilmuwan akan mulai mengurangi kecepatan roket secara bertahap untuk membawanya ke titik yang memungkinkan Vikram mendarat dengan halus.
"Serangkaian manuver telah direncanakan untuk secara bertahap mengurangi orbit pesawat ruang angkasa dan memposisikannya di atas kutub bulan," kata Isro.
"Setelah beberapa manuver, modul propulsi akan terpisah dari pendarat saat berada di orbit. Kemudian serangkaian manuver pengereman yang rumit akan dilakukan untuk memfasilitasi pendaratan lunak di wilayah Kutub Selatan Bulan pada 23 Agustus," tambahnya.
Setelah mendarat, penjelajah beroda enam akan keluar dan berkeliaran di sekitar bebatuan dan kawah di permukaan Bulan, mengumpulkan data dan gambar-gambar penting untuk dikirim kembali ke Bumi untuk dianalisis.
"Penjelajah ini membawa lima instrumen yang akan fokus untuk mencari tahu tentang karakteristik fisik permukaan Bulan, atmosfer yang dekat dengan permukaan Bulan, dan aktivitas tektonik untuk mempelajari apa yang terjadi di bawah permukaan. Saya harap kita akan menemukan sesuatu yang baru," kata Somanath.
Kutub selatan Bulan sebagian besar masih belum dijelajahi - area permukaan yang tetap berada dalam bayangan jauh lebih besar daripada kutub utara Bulan, dan para ilmuwan mengatakan itu berarti ada kemungkinan air di area itu.
India bukan satu-satunya negara yang mengincar Bulan - ada minat global yang meningkat terhadapnya.
Dan para ilmuwan mengatakan masih banyak yang harus dipahami tentang Bulan yang sering digambarkan sebagai pintu gerbang ke luar angkasa.