Konten Media Partner

Pemandu WN Singapura Saat Gunung Dukono Erupsi: Saya Ingin Sujud Minta Maaf

BBC NEWS INDONESIA verified-green

ยทwaktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, Sabtu (09/05).
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, Sabtu (09/05).

Empat hari setelah erupsi Gunung Dukono yang menewaskan dua pendaki Singapura dan satu pendaki Indonesia, Reza Selang mengaku masih sangat terpukul.

Reza adalah pemandu yang membawa tiga orang itu dan 17 lainnya ke puncak Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, pada Jumat (08/05) lalu.

Dia lolos dari maut, namun menyaksikan sebuah batu besar terlempar dari kawah dan menimpa dua pendaki tepat di depan matanya.

"Sampai sekarang saya masih sangat terpukul," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Senin pagi.

Menurut pria berusia 35 tahun itu, rombongan tiba di Desa Mamuya pada Kamis (07/05), sekitar pukul 12.00 WIT. Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju titik awal pendakian dan tiba di shelter lima jam kemudian.

Reza berkata, malam itu tidak terlihat tanda-tanda aktivitas vulkanik Gunung Dukono.

Keesokan paginya rombongan mulai mendaki puncak gunung pada pukul 05.30 WIT dan tiba di dekat puncak sekitar pukul 07.20 WIT.

"Saat saya pantau dengan drone tidak kelihatan aktivitas apa-apa di kawah. Asapnya pun enggak ada. Sangat tenang," ujarnya.

Dia lantas mengizinkan rombongan naik lebih dekat ke puncak dengan syarat mereka tak berlama-lama dan lekas turun. Yang naik ke puncak gunung, menurut Reza, mencakup sembilan warga negara asing, dua anggota timnya, dan tiga tamu lokal.

Pada saat Gunung Dukono erupsi, Reza mengatakan dirinya masih berada di bawah sambil menerbangkan drone.

"Di 07.40 saya sempat nge-drone dari jauh. Pas di 07.41 langsung gunungnya meletus," katanya.

Saat itu, menurutnya, terjadi dua letusan dalam selang waktu kurang dari satu menit.

"Letusan pertama masih keluar asap. Sekian detik kemudian letusan susulan keluar dan itu keluar material [vulkanik] semuanya," ujarnya.

Para pendaki langsung berhamburan turun, kata Reza.

"Begitu mereka berhamburan lari ke bawah, saya dekatkan drone untuk melihat apakah ada yang tertinggal atau enggak. Ternyata ada satu orang yang terkapar di atas, dekat puncak," katanya.

Korban tersebut kemudian diketahui bernama Shahin Muhrez bin Abdul Hamid, warga negara Singapura.

Reza mengatakan seorang pendaki lain, Timothy Heng, sempat turun, namun kembali naik ke puncak untuk membantu Shahin.

"Dia sudah lari turun. Tapi dia balik lagi karena tahu ada temannya," katanya. Sesaat kemudian, Reza berlari ke atas bersama Timothy.

Keduanya kemudian mencoba mengevakuasi Shahin dengan cara menyeret tubuhnya menuruni jalur pendakian di tengah hujan batu vulkanik.

"Saya pegang kaki, Timo pegang tangannya. Jadi kita seret dia turun," ujar Reza.

Namun saat mencoba mengubah jalur, kawah memuntahkan sebuah batu besar, yang kemudian memantul ke tanah dan menghujam ke arah mereka.

"Batu itu sekitar dua meter lebarnya. Saya sudah teriak 'stone', tapi Timo balik dan hanya sepersekian detik dia langsung memeluk Shahin," katanya.

Reza menyaksikan batu besar itu lalu menghantam tubuh keduanya.

"Kena semuanya, kepala, badan, seluruhnya, karena batunya besar," katanya.

Reza mengaku sempat membeku setelah menyaksikan langsung dua orang tertimpa batu.

"Saya sempat nge-freeze. Saya melihat langsung bagaimana dua orang yang saya kenal selama perjalanan terhimpit batu," katanya.

Sayup-sayup Reza mendengar seseorang berteriak memanggil-manggil namanya. Barulah dia tersadar dan lari menuju titik aman.

"Saya langsung mengabari grup mapala saya, grup keluarga saya," katanya.

Di tengah kekacauan itu, Reza mengatakan satu peserta lain juga dinyatakan hilang. Belakangan, jasad Angel Krishela Pradita, ditemukan oleh tim pada Sabtu (09/05).

Angel disebut merupakan peserta pendakian asal Ternate.

Jasad Timothy dan Shahin berhasil dievakuasi pada Minggu (10/05).

'Saya Ingin Sujud di Kaki Orang Tua Korban'

Pada hari yang sama, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, dan Polri langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan operasi penyelamatan. Namun proses evakuasi terkendala erupsi yang terus berlangsung.

"Gunung masih terus meletus, intervalnya sangat pendek, masih mengeluarkan material," kata Reza.

Meski mengalami luka bakar di kaki akibat terkena material vulkanik, Reza berkeras tetap bertahan di lokasi untuk membantu proses evakuasi. Reza juga mengungkap penyesalannya atas tragedi tersebut.

"Ini kejadian pertama yang saya alami dan saya merasa sangat bersalah kepada korban dan keluarga korban," katanya.

"Saya rasanya pengin ke sana, sujud di kaki orang tuanya korban. Saya ingin minta maaf."

Ujar Reza sambil terdiam beberapa saat.

Menurut Reza, banyak hal yang terus ia pikirkan setelah kejadian itu.

"Tentu saja banyak penyesalan. Seandainya kemarin kita enggak naik, seandainya kemarin saya enggak terima [pekerjaan ini], seandainya Dukono bukan tujuan terakhir," katanya.

Menjalani Pemeriksaan Polisi

Pada Jumat (08/05) malam, ketika operasi pencarian dihentikan sementara, Reza mengaku langsung dibawa ke rumah sakit lalu menjalani pemeriksaan polisi.

"Dari rumah sakit tanpa jeda, kita langsung dioper lagi ke Polres, dimintai keterangan, BAP, dan segala macam," katanya.

Hingga kini, proses penyelidikan polisi masih berlangsung.

"Konsekuensi hukum yang nanti terjadi, apa pun itu harus saya terima, siap tidak siap," katanya.

Reza mengaku status dirinya masih sebagai saksi, namun dia dan timnya belum diperbolehkan meninggalkan Tobelo, Halmahera Utara.

"Hari pertama saja saya diminta menginap di kantor polisi. Hari kedua sudah dilepas tapi dengan catatan jangan ke mana-mana. Untuk jadwal pemeriksaan saya masih mengambang. Katanya stand by saja," papar Reza.

Penuturan Reza dikuatkan Kasat Reskrim Polres Halmahera Utara, Iptu Rinaldi Anwar. Menurutnya, dua pria berinisial MRS dan JA menjalani pemeriksaan intensif.

Dua orang itu diketahui terafiliasi dengan akun Anak Esa yang mempromosikan paket pendakian melalui program bertajuk "Ayo Baronda" di media sosial.

Iptu Rinaldi Anwar mengonfirmasi kedua pria tersebut masih berstatus sebagai saksi, namun penyidik terus mendalami peran setiap individu dalam mengorganisir pendakian tersebut.

Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, menegaskan tidak akan menoleransi pihak-pihak yang lalai sampai menyebabkan hilangnya nyawa wisatawan.

"Kami dari Polres akan mengusut tuntas terkait guide-nya dari segi hukum, dari penanggung jawab, sampai dengan porter, itu semua akan diproses secara hukum. Kita akan mulai penyelidikan," ujar Erlichson.

Tidak Tahu Ada Peringatan

Reza mengaku pertama kali dihubungi oleh Timothy pada pertengahan tahun lalu untuk mengatur perjalanan ke sejumlah gunung di Maluku Utara.

"Dia menyampaikan tertarik untuk datang ke sini, ke Dukono. Terus dia tanya apakah saya bisa untuk mengatur perjalanan mereka," kata Reza.

Menurut Reza, tujuan utama rombongan itu memang Gunung Dukono. Reza kemudian menawarkan gunung lain sebagai tambahan perjalanan.

"Dia tanya, gunung apa lagi yang harus didatangi saat di sini. Saya tawarkan Gamkonora dan Tabaru," kata Reza. "Tapi targetnya memang Dukono."

Sebelum mendaki Dukono, Reza memandu kelompok tersebut mendaki kedua gunung tersebut.

Popularitas Gunung Dukono belakangan memang meningkat setelah video-video tentang gunung tersebut ramai di media sosial. Reza mengaku pernah mengunggah pengalamannya mendaki Dukono, yang kemudian diberitakan sejumlah media internasional.

"Sejak video saya viral itu, beberapa turis asing yang mau datang, mereka menghubungi saya," katanya.

Reza mengaku sudah aktif mendaki gunung sejak 2010 melalui organisasi Mapala dan mulai membuka jasa pendamping pendakian sejak 2023.

Saat hendak memandu kelompok ini, dia mengaku tak mengetahui adanya pemberitahuan penutupan Gunung Dukono sejak 17 April.

"Saya baru tahu setelah turun dan setelah kejadian," katanya.

Dalam pendakian itu, kata dia, dirinya menggunakan jasa warga Desa Mamuya, termasuk kelompok karang taruna desa dan pengemudi kendaraan roda tiga yang biasa mengantar pendaki menuju titik awal pendakian.

"Tanpa bermaksud menyalahkan siapa pun, informasi penutupan tanggal 17 April itu saya enggak dapat. Bahkan dari mereka yang notabene warga Mamuya," ujarnya.

Reza juga mengatakan tidak melihat adanya papan larangan mendekati kawah saat pendakian berlangsung.

"Kita sudah sering naik gunung dan di gunung Indonesia, meskipun saat Level 2, seperti Rinjani, tetap diizinkan aktivitas pendakian," katanya saat menjelaskan alasannya tetap mendaki meski status 'Waspada' Dukono.