Konten Media Partner

Pertemuan Trump–Xi Jinping Dapat Pengaruhi Relasi Dua Negara Adidaya selama Bertahun-tahun ke Depan

BBC NEWS INDONESIA verified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Pertemuan Trump–Xi Jinping Dapat Pengaruhi Relasi Dua Negara Adidaya selama Bertahun-tahun ke Depan

Pertemuan Trump–Xi Jinping Dapat Pengaruhi Relasi Dua Negara Adidaya selama Bertahun-tahun ke Depan
zoom-in-whitePerbesar

Keamanan di sekitar Lapangan Tiananmen di Beijing telah diperketat selama berhari-hari. Rumor beredar di media sosial tentang parade khusus atau acara besar yang terkoordinasi. Persiapan untuk peristiwa besar ini dimulai dengan bisik-bisik, tetapi China tampak siap menggelar pertunjukan untuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Kunjungan Trump akan mencakup perbincangan dengan Presiden China, Xi Jinping, jamuan makan, dan kunjungan ke kompleks kuil kekaisaran tempat para kaisar memohon panen yang baik. Baik Trump maupun Xi berharap kunjungan ini akan membuahkan hasil.

Pertemuan puncak antara dua pemimpin paling berkuasa di dunia ini diperkirakan menjadi salah satu pertemuan paling menentukan dalam beberapa tahun terakhir.

Trump berkunjung ke China saat masa jabatanya yang pertama, pada 2017.

Selama berbulan-bulan, hubungan AS–China kurang mendapat prioritas Trump.

Fokusnya tertuju pada perang yang sedang berlangsung dengan Iran, operasi militer di bagian Barat, dan urusan domestik. Namun semua itu berubah pekan ini.

Masa depan perdagangan global, meningkatnya ketegangan di Taiwan, dan persaingan dalam teknologi canggih semuanya dipertaruhkan.

Secara ekonomi, perang dagang yang berkelanjutan dengan AS dan konflik di Iran mungkin merupakan kabar buruk bagi Xi, tetapi secara ideologis dan politik hal-hal tersebut merupakan keuntungan. Xi diyakini akan merasa memiliki posisi yang kuat.

Kunjungan ini dapat meletakkan dasar bagi kerja sama—atau konflik—kedua negara pada tahun-tahun mendatang.

Penengah konflik AS-Iran?

China diam-diam berupaya bergabung dengan Pakistan sebagai penengah ketika perang antara AS dan Iran memasuki bulan ketiga.

Pada Maret lalu, para pejabat di Beijing dan Islamabad mempresentasikan lima butir rencana guna mencapai gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz.

Di balik layar, para pejabat China secara perlahan mendorong Iran menuju meja perundingan.

Tidak diragukan lagi, China ingin perang ini berakhir. Perekonomian negara itu sudah berupaya melawan pertumbuhan yang melambat dan meningkatnya pengangguran.

Kenaikan harga minyak telah mendorong naik biaya barang-barang yang dibuat menggunakan petrokimia, mulai dari tekstil hingga plastik. Bagi sebagian produsen di China, biaya telah meningkat 20%.

Sebuah papan reklame di Teheran menampilkan plester berbentuk Selat Hormuz dijahit menutup mulut Trump.

China punya cadangan minyak yang besar dan unggul dalam energi terbarukan. Produksi mobil listrik di dalam negeri juga telah melindungi China dari dampak krisis bahan bakar. Namun perang ini menyebabkan rasa sakit yang lebih besar bagi ekonomi China yang lesu dan sangat bergantung pada ekspor.

Jika China turun tangan membantu AS, Beijing tetap menginginkan sesuatu sebagai imbalannya. Kunjungan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, ke Beijing pekan lalu tampak dirancang untuk menunjukkan pengaruh dan cengkeraman China di Timur Tengah. AS memantau dengan saksama.

"Saya berharap pihak China mengatakan kepadanya Menlu Iran apa yang perlu dikatakan," ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

"Yaitu bahwa apa yang Anda lakukan di Selat Hormuz itu menyebabkan Anda terisolasi secara global. Andalah pihak yang bersalah," tambahnya.

Harga minyak memengaruhi ekspor China dan produksi tekstil secara signifikan.

AS juga berusaha meyakinkan China agar tidak menghalangi resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam serangan Iran terhadap kapal-kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz. Proposal sebelumnya telah diveto China dan Rusia.

"Saya pikir jika kita ingin membawa Iran kembali ke meja perundingan secara berkelanjutan, Amerika Serikat menyadari bahwa China akan memainkan suatu peran," kata Ali Wyne, Penasihat Riset dan Advokasi Senior untuk hubungan AS–China di International Crisis Group.

Trump tampak tidak terusik oleh hubungan dekat China dengan Iran.

Meski AS baru-baru ini menjatuhkan sanksi terhadap sebuah kilang berbasis di China karena mengangkut minyak Iran, Trump bersikap datar soal dukungan China kepada Iran selama konflik.

"Ya begitulah adanya, bukan?" katanya kepada seorang jurnalis AS. "Kami juga melakukan hal-hal terhadap mereka."

Masa depan Taiwan

Pemerintahan Trump telah mengirimkan sinyal beragam terkait Taiwan.

Desember lalu, AS mengumumkan kesepakatan senjata senilai US$11 miliar dengan Taiwan, yang memicu kemarahan pemerintah China. Namun Trump bersikap acuh soal kesediaan AS membela Taiwan, yang diklaim China sebagai wilayahnya sendiri.

"Ia menganggap itu sebagai bagian dari China," kata Trump tentang Xi, "dan itu terserah kepadanya, apa yang akan dilakukannya."

Dia juga mengatakan Taiwan tidak mengganti biaya kepada AS secara memadai atas jaminan keamanannya, seraya menambahkan bahwa Taiwan "tidak memberi kita apa pun".

Tahun lalu, ia memberlakukan tarif 15% terhadap Taiwan dan menuduhnya mencuri manufaktur semikonduktor dari AS.

Pekan lalu, Rubio mengatakan bahwa Taiwan akan menjadi topik pembicaraan selama kunjungan tersebut, meskipun tujuannya adalah memastikan topik ini tidak menjadi sumber ketegangan baru antara dua negara adidaya.

"Kita tidak memerlukan kejadian yang mendestabilisasi terkait Taiwan atau di mana pun di Indo-Pasifik," katanya. "Dan saya pikir itu demi kepentingan bersama Amerika Serikat dan China."

Taiwan bergantung pada AS untuk dukungan militer.

Di sisi lain, China telah memberi sinyal bahwa Taiwan menjadi prioritas dalam pembicaraan ini.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, berharap AS akan membuat "pilihan yang tepat" selama panggilan telepon dengan Rubio. Beijing telah meningkatkan tekanan militernya dengan mengirimkan pesawat tempur dan kapal angkatan laut ke sekitar Taiwan hampir setiap hari.

Sejumlah analis meyakini para pejabat China mungkin mendorong perubahan bahasa dalam rumusan terkait Taiwan yang disusun dengan cermat pada 1982.

Kebijakan AS yang dinyatakan paling baru adalah bahwa saat ini Washington tidak mendukung kemerdekaan Taiwan.

Mungkinkah Beijing mendorong bahasa yang lebih tegas seperti "AS menentang kemerdekaan Taiwan"?

"Saya rasa Presiden Xi tidak akan mengarah ke situ," kata John Delury, peneliti senior di Centre on US-China Relations, Asia Society.

"Bahkan jika Trump mengatakan sesuatu yang agak menyimpang yang tampak seperti konsesi tentang Taiwan, karena ia tidak begitu berhati-hati dalam penggunaan bahasa, pihak China tahu untuk tidak terlalu menganggapnya serius, karena ia bisa membalikkan sikapnya dengan sebuah unggahan Truth Social seminggu kemudian."

Perundingan dagang krusial

Sepanjang 2025, AS dan China tampak berada di ambang perang dagang baru yang dapat mengguncang fondasi ekonomi global.

Trump berulang kali menaikkan dan menurunkan tarif terhadap China, bahkan pernah mencapai lebih dari 100%.

China merespons dengan membatasi ekspor mineral tanah jarang ke AS dan pembelian ekspor pertanian Amerika, yang berdampak pada para petani di negara bagian kunci yang memilih Trump.

Ketegangan mereda secara signifikan sejak Trump dan Xi bertemu langsung di Korea Selatan Oktober lalu.

Putusan Mahkamah Agung pada Februari yang membatasi kewenangan tarif sepihak presiden juga membantu meredam naluri dagang Trump yang berubah-ubah.

Namun, Trump dan Xi masih akan memiliki banyak hal untuk dibahas selama pertemuan puncak Beijing.

Pemimpin Amerika itu akan mendorong peningkatan pembelian produk pertanian AS oleh China.

China dipastikan akan menekan AS agar membatalkan penyelidikan dagang yang baru diumumkan terkait praktik bisnis tidak adil, yang dapat memberi Trump kemampuan untuk kembali memberlakukan tarif lebih tinggi terhadap barang-barang China.

Ini akan menjadi rumit bagi pihak Amerika.

"Akan sulit bagi AS untuk menghentikan penyelidikan terhadap semua praktik dagang China yang tidak adil mengingat praktik-praktik tersebut masih luas dan mendistorsi," kata Michael O'Hanlan, Phil Knight Chair in Defense and Strategy di Brookings Institution, sebuah lembaga pemikir berbasis di Washington DC.

Pemerintahan Trump juga mengundang para CEO dari Nvidia, Apple, Exxon, Boeing, dan perusahaan besar lainnya untuk mendampinginya dalam kunjungan ini, menurut Reuters.

Meskipun China tidak lagi bergantung pada AS untuk perdagangan seperti pada masa jabatan pertama Trump sebagai presiden, Xi akan menginginkan pertemuan ini berjalan baik karena China membutuhkan stabilitas dalam ekonomi global.

China kini menjadi mitra dagang utama bagi lebih dari 120 negara, namun Xi tahu ia tidak boleh tampak terlalu percaya diri selama kunjungan Trump.

"Selama kunjungan berlangsung lancar dan Trump menyimpulkan bahwa ia diperlakukan dengan hormat, ketenangan gelisah dalam hubungan bilateral akan berlanjut. Jika sebaliknya, Trump meninggalkan China dengan perasaan diremehkan atau dipermainkan, maka ia bisa berubah pikiran," kata Ryan Hass, Direktur John L Thornton China Center di Brookings Institution.

Masa depan AI

China sedang berpacu untuk menguasai masa depan.

Negara itu berinvestasi besar dalam AI dan robot humanoid. Keduanya merupakan bagian dari apa yang Xi sebut sebagai "kekuatan produktif baru" yang ia harapkan dapat mendorong ekonomi China ke depan.

Namun banyak pembuat kebijakan AS meyakini kebijakan resmi China adalah mengooptasi atau secara terang-terangan mencuri teknologi AS untuk memajukan industri domestiknya.

Hal ini telah menyebabkan pembatasan ekspor mikroprosesor terbaru, misalnya, meskipun para produsen Amerika keberatan.

Diplomasi chip akan menjadi bagian krusial dari pembicaraan.

Penyelesaian atas isu pelik kepemilikan dan pengoperasian aplikasi media sosial populer TikTok merupakan akhir bahagia yang jarang terjadi bagi interaksi teknologi AS–China yang sering dipenuhi tuduhan dan kecurigaan.

Dinamika ini kembali terlihat dalam perlombaan mengembangkan sistem AI, yang mungkin merupakan perkembangan teknologi baru paling penting di zaman modern.

Masalah ini dipersulit oleh tuduhan AS bahwa perusahaan China seperti DeepSeek mencuri AI Amerika.

"Bab pembuka dari perang dingin AI sedang muncul," kata Yingyi Ma dari John L Thornton China Center di Brookings Institution.

"Gedung Putih menuduh China melakukan pencurian 'dalam skala industri' atas model AI Amerika, sementara Beijing dilaporkan berupaya mencegah Meta mengakuisisi Manus, sebuah rintisan AI yang didirikan di China dan kini berbasis di Singapura. Perebutan yang lebih dalam bukan tentang siapa menyalin model siapa, melainkan tentang talenta yang mampu membangun generasi berikutnya dari AI terdepan."

Robot-robot China mampu menampilkan pertunjukan, melakukan gerakan kung fu, dan beradu cepat melampaui manusia dalam sebuah maraton di Beijing.

Namun meski perusahaan China tampak piawai membangun tubuh robot-robot tersebut, banyak yang masih mengerjakan pemrograman otak ciptaan baru mereka.

Untuk membangun yang terbaik, perusahaan China membutuhkan chip komputer kelas atas, dan itu berasal dari AS.

Di sinilah Beijing dapat memanfaatkan pengaruhnya atas tanah jarang, sektor krusial yang secara jelas diminati Trump.

China memproses sekitar 90% mineral tanah jarang dunia yang penting bagi seluruh teknologi modern, dari ponsel pintar hingga ladang angin dan mesin jet.

Jadi, mungkin ada kesepakatan yang bisa dibuat. AS memperoleh tanah jarang China sebagai imbalan chip kelas atas.

Ini adalah Selat Hormuz versi China — pasokan dapat dihentikan kapan saja.

Trump dan Xi memiliki banyak poin pembicaraan selama perjalanan singkat.

Meski ada banyak agenda kebijakan yang harus dibahas kedua pihak, kunjungan Trump akan berlangsung cepat.

Pertemuan dan acara dijadwalkan pada Kamis (14/05) dan Jumat (15/05).

Mungkin tidak ada banyak waktu bagi kedua pemimpin untuk mencapai kesepakatan substantif, tetapi bahkan pertemuan singkat seperti ini dapat menentukan arah perundingan—dan hubungan—antara dua negara adidaya selama bertahun-tahun ke depan.