SMA di Texas yang Semua Muridnya Adalah Ibu Remaja

Konten Media Partner
1 Januari 2023 8:45 WIB
·
waktu baca 10 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Di SMA Lincoln Park, seluruh siswanya, seperti Helen, adalah ibu remaja atau remaja yang sedang hamil.
zoom-in-whitePerbesar
Di SMA Lincoln Park, seluruh siswanya, seperti Helen, adalah ibu remaja atau remaja yang sedang hamil.
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Di penghujung tahun, ketika muncul perdebatan soal menjadi ibu di Amerika Serikat, sebuah sekolah di Texas yang siswanya adalah para ibu remaja menunjukkan bagaimana mereka mendukung dan membentuk kembali kehidupan anak-anak muda itu.
Pada awal 2021 lalu, Helen makan lebih banyak dari biasanya.
Gadis berusia 15 tahun itu tidak tahu mengapa nafsu makannya begitu meningkat.
"Apakah ini normal?" tanya Helen kepada kakak perempuannya. Kakaknya berkata, bisa jadi itu normal.
Tetapi suasana hati Helen juga naik turun, bahkan dia menjadi kerap bertengkar dengan keluarga dan teman-temannya. Kemudian haidnya terlambat.
Helen mengetahui bahwa dia hamil tepat pada hari ulang tahunnya.
"Saya tidak percaya," kata Helen.
Tidak lama kemudian, teman-temannya menjauhi Helen, menuduhnya memanfaatkan kehamilannya untuk "menarik laki-laki" dan ayah dari anaknya, yang mana adalah teman sekelasnya, tidak mau berbicara dengannya.
"Saya tidak mau bertengkar dengan mereka," kata Helen.
Akhirnya di ujung kehamilannya, Helen memutuskan pindah sekolah.
SMA Lincoln Park
Dari luar, Lincoln Park tampak seperti sekolah menengah di AS lainnya, dengan dinding batu bata, bus sekolah yang parkir di depannya, dan bendera AS berkibar.
Tetapi di dalamnya, beriringan dengan suara para remaja yang pergi ke kelas-kelas, terdengar tangisan dan ocehan para bayi.
Di dindingnya, poster-poster yang mendorong para remaja untuk berkuliah bersanding dengan promosi layanan kehamilan dan kelas pengasuhan anak.
Di sebelah bangunan utama, terdapat pula pusat penitipan anak.
Sekolah di Brownsville, Texas, yang berdekatan dengan perbatasan AS-Meksiko menyediakan layanan pendidikan khusus bagi para ibu remaja.
Tingkat kehamilan remaja di AS telah menurun dalam tiga dekade terakhir, tapi di antara perempuan muda Hispanik, angkanya jauh lebih tinggi dibanding populasi lainnya.
Tingkat kehamilan remaja berdarah Latin lebih tinggi dibanding kelompok lainnya, dan para ahli memperingatkan bahwa putusan Mahkamah Agung AS pada 2022 yang membatalkan perlindungan negara terhadap aborsi dapat meningkatkan jumlahnya.
Hampir semua siswa di SMA Lincoln Park, yang secara khusus melayani para ibu remaja sejak 2005, berusia di antara 14 hingga 19 tahun.
Semuanya merupakan remaja berdarah Latin, yang merupakan gambaran dari 94% populasi Hispanik di kota itu, dengan tingkat kehamilan remaja yang lebih tinggi.
Sebagian besar dari mereka berpenghasilan rendah. Beberapa di antaranya adalah penduduk Meksiko kelahiran AS yang melintasi perbatasan setiap hari dari Matamoros, Tamaulipas untuk bersekolah di AS.
Di tahun ketika pembicaraan soal menjadi seorang ibu mengemuka dalam budaya dan politik AS, Lincoln Park mencontohkan bagaimana mereka membentuk kehidupan para perempuan muda yang telah menghadapi tantangan dari perubahan yang signifikan dalam hidup mereka ini.

'Sekarang saya juga harus memikirkan bayi saya'

Satu hal yang meyakinkan Helen untuk pindah ke Lincoln Park adalah bahwa dia bisa membawa bayinya ke sekolah.
Di sela-sela kelasnya pada Juni lalu ketika bercerita kepada BBC, Helen tampak seperti seorang remaja pemalu bermata gelap, mengenakan kaus hitam dan celana pendek merah muda pucat.
Tapi di dalam tas punggungnya, selain ada buku dan jurnal, ada pula popok dan pakaian bayi untuk putrinya, Jenine, yang berusia delapan bulan.
"Dulu saya hanya memikirkan diri sendiri, sekarang saya harus memikirkan saya dan bayi saya," kata Helen.
Sekitar 70 siswa terdaftar di sekolah tersebut, meskipun jumlah itu naik turun sepanjang tahun saat siswa yang baru hamil bergabung, dan beberapa ibu muda memilih untuk kembali ke sekolah mereka sebelumnya setelah melahirkan.
America, seorang senior di SMA Lincoln Park, menitipkan bayinya di tempat penitipan anak.
Ketika BBC berkunjung ke Lincoln Park, ada tujuh siswa berusia di bawah 14 tahun yang terdaftar, serta tiga siswa yang masing-masing memiliki tiga anak.
Kurikulumnya sama persis dengan sekolah lain di wilayah ini, dan para siswa ditargetkan untuk lulus di setiap kelasnya.
Namun ada perbedaan pada detail bagaimana sekolah memfasilitasi mereka.
Bus sekolah memiliki kursi untuk bayi. Pada pagi hari, para siswa dapat mengambil sarapan untuk diri sendiri dan anak mereka. Bayi mereka bisa dititipkan di tempat penitipan anak sekolah secara gratis.
Para siswa diizinkan absen sekolah untuk pergi ke dokter anak. Di salah satu ruang kelas, guru IPA memiliki lemari pakaian di sudut ruangan yang berisi pakaian bayi untuk ibu-ibu yang mungkin memerlukannya.

Keintiman, persahabatan, rasa sakit - dan kehidupan

Seperti Helen, Alexis berusia 15 tahun ketika mengetahui bahwa dia hamil.
Dia mencoba tiga tes kehamilan dan semuanya menunjukkan hasil positif.
Dia masih mencoba menyangkal fakta itu, lalu pergi menemui dokter, yang memastikan bahwa dia akan memiliki bayi laki-laki.
"Itu sangat sulit bagi saya," kata Alexis.
"Saya tidak mau berhenti sekolah karena saya tahu itu bukan cara yang tepat untuk menghadapi ini."
Kemudian dia menemukan Lincoln Park. Putra Alexis kini sudah berusia satu tahun.
Di dalam ruang kelas, rasa persahabatan dan kedekatan yang mendalam begitu terasa dan tampak bergitu alami.
Ketika duduk di kelas matematika pada suatu pagi, Alexis memberi tahu gurunya, Arredondo, bahwa dia telah mendaftarkan diri untuk tahun ajaran berikutnya.
"Saya sudah mengaturnya," kata dia, sambil mengacungkan jempol.
Alexis dan teman-teman sekelasnya berbalik menghadap ke pintu, ketika seorang siswa yang terlambat masuk ke kelas.
Siswa itu sedang hamil tua, dia berjalan perlahan.
Mereka tersenyum, dan Alexis mengulurkan tangannya ketika teman sekelasnya itu mendekat.
"Saya ingin memegang perutmu," kata dia.
Arredondo menjadi yang paling tidak punya pengalaman soal melahirkan di dalam kelas itu. Tetapi dia telah mengajar cukup banyak siswa yang sedang hamil untuk memahami sejumlah hal.
"Ketika mereka memberitahu bahwa kamu membutuhkan epidural, bagaimana menurutmu?" tanyanya.
"Kurasa aku akan membutuhkannya," kata siswi yang sedang hamil itu sambil tertawa.
"Kalau tidak dapat itu, astaga, sakit sekali," kata Alexis sambil cekikan.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), dari setiap 1.000 remaja putri berusia antara 15 hingga 19 tahun, terdapat 15 remaja yang melahirkan pada 2020.
Data tersebut tidak termasuk angka melahirkan remaja di bawah usia 15 tahun.
Bahkan ketika terjadi penurunan kasus secara nasional, jumlah kasus di Texas tetap di atas rata-rata nasional dan negara bagian ini konsisten termasuk dalam 10 besar negara bagian dengan tingkat kelahiran remaja yang tinggi.
Di Brownsville, kehamilan remaja mencapai 12%, lebih dari satu kasus dari setiap 10 kelahiran di wilayah itu.
Ada segudang faktor yang berperan dalam kehamilan remaja. Namun di Texas, sejumlah pakar menyinggung soal aturan aborsi yang ketat di negara bagian itu, serta fakta bahwa pendidikan seks tidak diwajibkan di sekolah.
Sebanyak 58% sekolah negeri Texas mengajarkan pendidikan seks yang cenderung menjadikannya sebagai pantangan, dan 25% sekolah tidak mengajarkannya sama sekali, menurut Texas Freedom Network.
"Selama kita tidak menyampaikan informasi itu kepada mereka, maka para siswa tidak mendapatkan pendidikan seks," kata kepala sekolah Lincoln Park, Cynthia Cardenas.
"Mereka tidak diberi kesempatan untuk memilih apakah mereka menginginkan konsekuensi dari hubungan seksual atau tidak."
Remaja di Texas yang hamil pun harus menghadapi sistem layanan kesehatan yang kompleks untuk mengakses perawatan, atau harus menghadapi undang-undang aborsi yang ketat jika memilih mengakhiri kehamilan mereka.
Bagi perempuan berpenghasilan rendah, pergi ke luar negeri untuk aborsi pun bukan pilihan, apalagi ketika mereka masih di bawah umur.
Cynthia Cardenas, kepala sekolah SMA Lincoln Park.
Pilihan soal apa yang harus dilakukan selanjutnya juga tidak mudah.
Sejak awal kehamilannya, Helen mempertimbangkan aborsi atau menyerahkan putrinya untuk diadopsi.
Ibunya mengatakan akan mendukung keputusan apa pun yang diambil Helen.
Begitu dia melahirkan dan melihat langsung bayi perempuannya, Helen memutuskan untuk menjaganya.
"Bayiku adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku," kata Helen.
"Saya menggenggam cinta dalam hidup saya di tangan saya, dia adalah segala-galanya bagi saya."
Helen tinggal setahun lagi menjelang lulus SMA. Dia bermimpi untuk kuliah dan bisa menafkahi putrinya.
Menurut CDC, hanya setengah dari para ibu remaja yang menyelesaikan sekolah menengah atas, bahkan lebih sedikit lagi yang melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi.
Ketika ditanya bagaimana nasibnya kalau dia tidak menemukan Lincoln Park, Helen mengatakan, "Sejujurnya, saya tidak tahu."
"Mungkin saya berada di rumah, berjuang dengan bayi saya."

Berupaya untuk kuliah

Perjuangan menjadi ibu memang berat, apalagi ketika dilalui pada usia sedini itu.
Studi menunjukkan bahwa menjadi ibu ketika remaja menjadi faktor yang berisiko menyebabkan depresi.
Tekanan kemiskinan dan masa muda yang dihadapi para ibu di Lincoln Park menyebabkan beberapa orang memilih tidak bersekolah, atau bahkan berpikir tidak mungkin melanjutkan pendidikannya sambil mengurus anak.
Pada jam makan siang, Alexis dan tiga siswa lainnya bergantian membagikan foto anak-anak mereka yang masih kecil.
Yang satu baru mulai berjalan, sedangkan yang lainnya rambutnya baru saja dipangkas.
"Aww, lucu sekali," kata mereka dalam bahasa Spanyol, hampir berbarengan.
Cardenas, yang bergabung dengan gadis-gadis itu hampir setiap hari saat makan siang, merecoki mereka.
Mengingat sebagian besar dari mereka menyisakan waktu satu tahun lagi untuk lulus, dia menanyai apakah para perempuan ini telah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.
"Saya sudah diterima di satu sekolah, tapi saya rasa saya tidak ingin kuliah," kata Angela, seorang siswa kelahiran AS yang tinggal di Meksiko.
Dia melintasi perbatasan setiap hari untuk bersekolah di Lincoln Park, membawa bayinya melalui jembatan penyeberangan yang memisahkan Brownsville dari Matamoros.
Hari-harinya dimulai pukul 5 pagi ketika dia mengantre di selatan perbatasan.
Pada hari-hari tertentu, dia bolos kelas karena bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menghidupi keluarga kecilnya.
Namun Alexis menyela Angela dan memberi tahu apa saja yang telah dia ketahui dari sesi informasi perguruan tinggi baru-baru ini.
"Mereka memiliki tempat penitipan anak di sana dan kalau anakmu pendiam, dia bisa ikut ke kelas," kata Alexis.
"Kamu mungkin juga bisa mendapatkan asrama untuk keluargamu, semacam apartemen kecil," lanjur dia.
Mata Angela seketika membelalak. "Sekarang aku harus kuliah! Aku harus kuliah!"
Mereka semua pun tertawa.
Sebesar apa pun tantangan yang mereka hadapi, Lincoln Park berupaya "memunculkan keinginan untuk kuliah" pada para siswa, kata Cardenas.
"Jadilah sukses dan ajarkan bayi mereka bahwa mereka juga punya kesempatan".
Para siswa telah meminta saran kepadanya soal hubungan, pengasuhan anak atau bantuan tempat tinggal, popok serta makanan bayi.
Dia pernah dihubungi oleh siswa-siswa yang diusir dari rumah mereka, atau ketika ada orang lain yang menyarankan putus sekolah untuk bekerja penuh dan menafkahi anak mereka.
"Kadang-kadang mereka tidak tahu cara membesarkan bayi," kata Cardenas.
"Kami menggenggam masa depan mereka di tangan kami sebagai pendidik. Kami harus melakukannya dengan cara yang benar."

'Apapun yang Anda tanam, Anda akan tuai hasilnya'

Dalam benaknya, Cardenas telah memikirkan kebutuhan dan dukungan untuk sekolah-sekolah seperti Lincoln Park di tengah perubahan lanskap sosial politik di AS pasca-putusan aborsi Mahkamah Agung.
Keputusan tersebut diprediksi berdampak pada para rejama, menurut Child Trends, sebuah kelompok penelitian di AS yang fokus pada kesejahteraan anak-anak.
Remaja lebih cenderung mencari aborsi, mempelajari soal kehamilan belakangan, dan berjuang mendapatkan bantuan.
"Saya telah memikirkan implikasi pembalikan Roe vs Wade," kata Cardenas, mencatat bahwa perempuan Hispanik adalah salah satu kelompok yang paling banyak mencari soal aborsi di AS.
"Saya berharap kita bisa mempromosikan pendidikan seks di sekolah menengah dan menengah atas, dan kita, para pendidik, membuat rencana tindakan apabila ada lebih banyak remaja yang memiliki bayi sebagai implikasinya," kata dia.
"Tidak banyak sekolah yang menawarkan layanan seperti ini," tambah dia.
"Kalau Anda bertanya kepada saya, apakah itu diperlukan? Iya. Bahkan jika kita bisa berkontribusi mengubah kehidupan 10 gadis, iya. Ini adalah remaja-remaja yang tidak akan berhasil melalui sekolah biasa."
Kotak kaca bening di aula sekolah memajang foto-foto siswa yang telah lulus.
Setiap pekan, seorang profesional akan hadir di sekolah untuk membahas soal karir di hadapan para siswa.
"Apa yang Anda jalani, bersekolah sambil menjadi ibu dan mengurus anak adalah hal yang sulit," kata seorang presenter perempuan muda kepada mereka.
"Tapi ketahuilah, bahwa apa pun yang Anda tanam sekarang, Anda akan menuai hasilnya."