Sampah di Laut, Sampah di Bumi

Wadah partisipasif yang memfasilitasi peran serta multi-pihak dalam menjawab tantangan persoalan sampah di Indonesia.
Tulisan dari Bergerak Indonesia Bebas Sampah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Indonesia merupakan negara penghasil sampah laut kedua di dunia setelah China, disusul Filipana, Vietnam, dan Sri Lanka” atau “Sampah plastik yang dibuang ke laut Indonesia mencapai 1,2 juta ton tiap tahunnya “.
Kalian pernah membaca atau mendengar kutipan berita seperti di atas?
Ya. Lautan di bumi kita ini sudah tercemar oleh sampah, dan sekitar 75% dari sampah tersebut adalah plastik. Bahkan penelitian terbaru menyatakan sampah plastik yang terbawa ke lautan mencapai 8 juta metrik ton per tahun.
Itu artinya setara dengan jika kita mengangkut 2.740 ekor gajah jantan ke laut per harinya!
Sampah seperti serat pakaian, kemasan makanan, rokok, pembalut atau popok, atau jaring plastik bersifat ringan sehingga dapat dengan mudahnya mengapung dan terbawa aliran air, baik dari sungai maupun pesisir laut.
Selain itu, plastik bersifat non-biodegradable sehingga bahan beracun penyusunnya dapat tersuspensi hingga dasar laut.

Pencemaran laut ini pastinya berdampak langsung pada organisme laut.
Mamalia laut, burung laut, ikan, kerang, penyu, bahkan plankton dapat tersangkut atau tak sengaja menelan sampah plastik yang terapung sehingga mengganggu pergerakan dan pencernaan, menghambat pertumbuhan, bahkan menyebabkan kematian.

Banyak peneliti yang menemukan plastik pada perut burung laut Albatross, perilaku mencari makan di permukaan laut menyebabkan sampah plastik ikut terkonsumsi atau penyu yang menelan atau terjerat plastik karena mengira plastik yang terapung adalah makanannya (seperti ubur-ubur).

Lalu, apa hubungannya dengan manusia?
Penurunan populasi organisme laut dapat memutus rantai makanan sehingga suplai makanan manusia yang berasal dari laut pun akan berkurang. Tidak sampai di situ, sampah laut ini juga berdampak pada berbagai aktivitas manusia.

Seperti sampah plastik dapat melilit baling-baling kapal laut yang sedang beroperasi atau menghambat proses pengambilan air laut oleh water sea-intake boat; sampah jaring plastik dapat mengganggu penglihatan dan pergerakan penyelam; sampah plastik dapat memasuki areal pertambakan saat air laut pasang dan menumpuk saat air laut surut sehingga menyulitkan pengangkapan ikan.
Nah, hal-hal tersebut secara otomatis menyebabkan ketidakstabilan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut.

Jadi, bertepatan dengan Hari Dharma Samudera yang diperingati setiap tanggal 15 Januari, kita dapat memberikan bukti bakti kita terhadap lautan Indonesia.
Hari Dharma Samudera ditetapkan sebagai peringatan akan pertempuran laut di Laut Aru pada 15 Januari 1962 dalam misi pembebeasan Irian Barat. Peristiwa yang melibatkan tiga kapal torpedo TNI Angkatan Laut ini telah menggugurkan Komodor Yos Sudarso.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Sebagai negara maritim dan berorientasi sebagai poros maritim dunia, penanganan pencemaran laut ini dapat berupa kampanye berkelanjutan, pembersihan secara berkala, pengerukan dasar laut, pembangunan TPS di daerah pesisir, yang melibatkankan komunitas, lembaga masyarakat, pihak swasta, dan pemerintah.
Menurut seorang peneliti lingkungan, Jenna Jambeck, penanganan pencemaran sebaiknya lebih berfokus dalam membersihkan sampah di daratan pemukiman dan sungai daripada mengambil plastik yang sudah mengambang di lautan.
Namun, tanpa perubahan perilaku, laut akan tetap menjadi tempat sampah raksasa. Jadi tunggu apalagi?
Mari bergerak!
* * *
CATATAN KAKI:
1. Katadata.co
2. Ocean.si
3. Kompas.com
