ACPHEED: Membangun Keunggulan Regional ASEAN dalam Menangani Pandemi

Dosen di Prodi Hubungan Internasional Universitas Bosowa, Makassar
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Beche Bt Mamma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika covid-19 menjadi virus global di awal tahun 2020, Asean melakukan berbagai upaya termasuk penguatan diplomasi kesehatan regional yang melahirkan berbagai bentuk kerja sama dan kebijakan institusi yang sifatnya jangka panjang dan pendek. Penguatan diplomasi kesehatan menjadi sesuatu yang penting dalam rangka memastikan negara-negara di Asia Tenggara memiliki mekanisme dan prosedur pencegahan yang tepat agar covid-19 ini tidak menghancurkan tatanan social, politik dan ekonomi negara-negara Asean.
Kondisi ini akan menciptakan sinergitas bersama dalam menghadapi darurat kesehatan yang mengancam ketahanan hidup masyarakat dan negara. Oleh karena itu, tulisan ini akan menjelaskan apa yang di maksud dengan diplomasi kesehatan, bagaimana implemntasi kebijakan ACPHEED sebagai sebuah bentuk diplomasi kesehatan Asean terhadap negara-negara anggotanya di dalam mengatasi pandemic yang menjadi masalah kesehatan Bersama ASEAN.
Apa itu diplomasi kesehatan regional?
Diplomasi Kesehatan adalah bidang diplomasi yang menyatukan prioritas kesehatan dan urusan luar negeri. Diplomasi bentuk ini menyatukan berbagai peserta di bidang yang mempengaruhi kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Ini hanya dapat dilakukan melalui solusi kesehatan kebijakan bersama dan peningkatan kesehatan global (Kemlu, 2022).
Metode interaksi yang dipilih antara pemangku kepentingan yang terlibat dalam kesehatan masyarakat dan politik untuk tujuan representasi, kerja sama, menyelesaikan perselisihan, meningkatkan sistem kesehatan, dan mengamankan hak atas kesehatan bagi populasi yang rentan (Lee & Smith, 2011).
Diplomasi kesehatan merupakan forum penting untuk negosiasi tentang isu-isu kebijakan global yang membentuk dan mempengaruhi lingkungan global untuk kesehatan. Ini menyatukan berbagai aktor di bidang yang mempengaruhi kesehatan masyarakat.
Kebijakan Asean terkait diplomasi kesehatan
Dalam merespons persoalan kesehatan global dan regional bersama, melalui pertemuan pemimpin ASEAN yang ke-37 yang di pimpin oleh Vietnam mengumumkan pembentukan ASEAN Centre for Public Health Emergencies and Emerging Diseases (ACPHEED).
Pembentukan ACPHEED ini merupakan hasil dari Proposal yang dihasilkan dari Studi Kelayakan Pembentukan ASEAN Centre for Public Health Emergencies and Emerging Diseases yang didukung oleh Pemerintah Jepang melalui Japan-ASEAN Integration Fund (JAIF). Oleh karena itu sebagai bentuk dukungan lanjutan Jepang maka bantuan sebesar 50 juta dolar Amerika kepada negara-negara yang menjadi pusat keunggulan kesehatan regional ASEAN.
Peran penting dari ACPHEED ini adalah sebagai pusat regional dan keunggulan untuk memperkuat kapasitas regional ASEAN. Ada 3 pilar penting dari ACPHEED yaitu kesiapan untuk, mencegah, mendeteksi and meresponi keadaan darurat kesehatan masyarakat and penyakit yang mungkin muncul di masa depan.
Poin penting dari pembentukan organisasi ini adalah sebagai pusat kerja sama ASEAN dalam menghadapi kondisi muncul nya pandemic. Dalam implementasi nya ACPHEED di bangun di 3 negara anggota ASEAN yaitu di Indonesia, Thailand dan Vietnam. Ketiga negara ini merupakan negara anggota ASEAN yang bersedia berkomitmen untuk menjadi pusat keunggulan regional terkait potensi penyakit outbreak di masa akan datang.
APCPHEED ini akan menjadi upaya diplomasi ASEAN di dalam mengintegrasikan standar dan protocol kesehatan di semua negara-negara ASEAN. Kondisi ini akan membantu negara-negara ASEAN untuk bekerjasama mendeteksi penyakit yang muncul dan mencegah penyebaran ke wilayah yang lain nya. Selain itu, keberadaan APCHEED ini akan membantu untuk mengsinergikan metode dan prosedur terbaik dalam mengawasi potensi terburuk dari negara yang berhasil menurunkan jumlah pesakit kepada negara anggota yang masih belum mampu menurunkan kasus outbreak.
Implementasi ACPHEED di Indonesia, Thailand, dan Vietnam
Pada dasarnya ACPHEED diimplementasikan melalui proses pengintegrasian protocol dan kebijakan kesehatan di negara-negara anggota ASEAN. Di Indonesia, melalui Menteri Luar Negeri Indonesia, Ibu Retno menyampaikan bahwa keberadaan ACPHEED ini akan sangat membantu Kawasan. Ini terutama negara anggota ASEAN untuk menghadapi tantangan kesehatan global dan regional di masa akan datang.
Oleh karena itu implementasi harus dapat di di laksanakan dengan mempertimbangkan ketersediaan dana operasionalisasi yang mencukupi dan komitmen kuat dari anggota ASEAN dalam penguatan Bersama ketahanan kesehatan Kawasan ASEAN (Kemlu, 2022).
Selain itu melalui, pernyataan Menteri Kesehatan Indonesia, Bapak Budi Sadikin menyatakan bahwa Indonesia mendukung penuh dari keberadaan ACPHEED. Ini karena 3 pilar ACPHEED yaitu pengawasan, deteksi dan respons dapat menjadi mekanisme Bersama yang di gunakan oleh Thailand dan Vietnam dalam menangani potensi outbreak yang muncul di masa akan datang.
Di Thailand, ACPHEED berpusat di Bangkok Thailand. Thailand terpilih sebagai pusat keunggulan karena dianggap mampu menunjukkan keberhasilan di dalam penanganan pandemi jika di bandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Selain itu, untuk menjalankan peran sebagai pusat keunggulan kesehatan Kawasan ASEAN. Tim kesehatan akan di pilih dari 10 negara anggota ASEAN untuk terlibat di dalam implemetasi ACPHEED di Thailand.
Keberadaan ACPHEED di Thailand di harapkan dapat memperkuat kerja sama Kawasan ASEAN melalui 3 pusat keunggulan kesehatan yang didirikan di Thailand. Untuk operasionalisasi kegiatan selain dana bantuan dari Jepang yang berjumlah 50 juta dolar Amerika, ada juga bantuan dari pemerintah Australia yang berjanji membantu untuk operasionalisasi pusat-pusat keungulan kesehatan yang berada di 3 negara ASEAN. Ketiga negara tersebut mengajukan diri untuk membantu pusat Keunggulan kesehatan di negara masing-masing.
Sementara itu di Vietnam, kesiapan Vietnam sebagai salah satu negara yang menyatakan kesiapan menjadi pusat keunggulan Kesehatan Kawasan ASEAN dipublikasikan pada saat Vietnam menjadi tuan rumah agenda pertemuan ke-37 pertemuan pemimpin ASEAN. Seperti Thailand dan Indonesia, Vietnam di anggap memiliki kesiapan untuk menjadi pusat keunggulan kesehatan Kawasan ASEAN sebagai upaya ASEAN mensinergikan protocol kesehatan Kawasan ASEAN dan dapat mencegah pandemic dari mengancam ketahanan sosial, ekonomi ASEAN. Dari aspek ketahanan social dapat mempengaruhi bagaimana upaya masyarakat ASEAN beradaptasi terhadap disrupsi di saat pandemi maupun setelah pandemi.
Sebagai contoh, pendistribusian merata vaksin kepada negara-negara anggota ASEAN yang berdampak paling tinggi. Vaksin yang merata akan berpengaruh kepada ketahanan kesehatan masyarakat kawasan secara keseluruhan.
Pendistribusian secara merata Vaksin akan meningkatkan ketahanan sosial masyarakat yang meningkatkan kemampuan menjalankan praktik-praktik kehidupan, berinteraksi social antara sesama maupun lintas batas wilayah dengan tetap berpedoman kepada protocol kesehatan bersama regional.
Ini diperkuat dengan kerja sama antara negara ASEAN yang memudahkan proses adaptasi dengan kondisi pandemic. Sementara pada aspek ekonomi, diplomasi kesehatan regional akan mampu mensenergikan aktivitas perdagangan dan jasa untuk menjamin ketersediaan sandang dan pangan kepada masyarakat ASEAN di saat pandemic melanda.
