Konten dari Pengguna

Kenapa Pendidikan Menjadi Fondasi Ekonomi Berkualitas pada Indonesia Emas 2045?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Erina Manda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan sering disebut sebagai jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Namun, di balik slogan itu, ada fakta yang tak bisa kita abaikan: tanpa pendidikan berkualitas, mimpi Indonesia menjadi negara maju di 2045 hanya akan menjadi ilusi. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM), produktivitas ekonomi, dan daya saing bangsa.

Indonesia saat ini tengah berada di ambang bonus demografi, di mana mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Kesempatan ini hanya akan menjadi berkah jika tenaga kerja yang tersedia memiliki keterampilan dan pengetahuan memadai. Jika tidak, bonus demografi bisa berubah menjadi beban, dengan meningkatnya pengangguran, ketimpangan, dan rendahnya produktivitas.

Potret Pendidikan di Indonesia: Kemajuan dan Tantangan

Secara umum, tingkat melek huruf di Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan. Data terbaru menunjukkan tingkat literasi nasional mencapai 96,7% pada 2024–2025. Di daerah perkotaan, angka ini hampir menyentuh 99%. Namun, realitas berbeda terlihat di beberapa daerah tertinggal seperti Papua Tengah dan Pegunungan, di mana tingkat melek huruf masih di bawah 72%. Perbedaan ini menunjukkan adanya ketimpangan akses pendidikan yang lebar antarwilayah.

Partisipasi pendidikan tinggi (APK) di kalangan usia 19–23 tahun juga masih relatif rendah, hanya 32%. Padahal, untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, targetnya adalah minimal 60%. Rendahnya angka ini menjadi tantangan besar, terutama di daerah dengan fasilitas pendidikan terbatas atau biaya kuliah yang tinggi.

Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi: Bukti Empiris

Pendidikan tidak hanya membentuk individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga berkontribusi langsung pada pertumbuhan ekonomi. Studi Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 1996–2009 menemukan bahwa setiap kenaikan 1% dalam pendidikan per pekerja mampu meningkatkan output ekonomi sebesar 1,56%.

Studi serupa di 34 provinsi Indonesia bahkan menunjukkan dampak yang lebih besar: setiap peningkatan rata-rata lama sekolah sebesar 1% dapat mendorong output daerah hingga 2,01%. Artinya, investasi pada pendidikan bukan sekadar pengeluaran, melainkan modal pembangunan ekonomi yang nyata.

Negara-negara maju seperti Korea Selatan dan Singapura telah membuktikan bahwa reformasi pendidikan yang serius mampu mengubah perekonomian dalam satu generasi. Kuncinya adalah membekali tenaga kerja dengan keterampilan yang relevan dengan pasar global dan mengadopsi teknologi terbaru.

Ketimpangan Pendidikan: Hambatan Pertumbuhan Inklusif

Meskipun anggaran pendidikan Indonesia terus meningkat, tantangan terbesar tetap terletak pada pemerataan kualitas. Di satu sisi, sekolah di kota besar memiliki akses ke guru berkualitas, teknologi pembelajaran, dan fasilitas lengkap. Di sisi lain, banyak sekolah di daerah terpencil masih kekurangan tenaga pengajar, buku, listrik, dan internet.

Ketimpangan ini berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah. Penelitian menunjukkan bahwa provinsi dengan rata-rata lama sekolah dan kualitas pendidikan rendah cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat. Akibatnya, kesenjangan antara daerah maju dan tertinggal semakin melebar.

Pemerintah telah menggulirkan berbagai program, seperti Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar, untuk mendorong inovasi pembelajaran dan pemerataan mutu pendidikan. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan besar di lapangan, terutama terkait infrastruktur dan adaptasi guru di daerah.

Pendidikan Sebagai Strategi Pembangunan Ekonomi

Dalam ekonomi pembangunan, pendidikan termasuk salah satu faktor produksi non-fisik yang paling strategis. Pendidikan yang baik meningkatkan keterampilan tenaga kerja, memperluas kapasitas inovasi, dan memperkuat daya saing nasional.

Laporan OECD menekankan bahwa untuk memanfaatkan bonus demografi, Indonesia harus memastikan akses pendidikan berkualitas hingga ke pelosok, sambil memperkuat keterampilan teknis dan digital. Tanpa hal ini, tenaga kerja Indonesia akan kalah bersaing di pasar global.

Selain itu, pendidikan berperan penting dalam mengurangi kemiskinan dan ketimpangan. Dengan keterampilan yang memadai, masyarakat dari lapisan ekonomi bawah memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan layak, meningkatkan pendapatan, dan memperbaiki taraf hidup.

Investasi Pendidikan: Tantangan dan Harapan

Pemerintah Indonesia telah menetapkan anggaran pendidikan sebesar minimal 20% dari APBN, dan ke depan direncanakan meningkat menjadi 4–5% dari PDB. Anggaran ini diharapkan dapat memperluas akses sekolah, meningkatkan kualitas guru, dan membangun infrastruktur pendidikan.

Namun, tantangan pembiayaan tetap ada. Pemangkasan anggaran pada beberapa tahun terakhir sempat menghambat program-program tertentu. Di sisi lain, penyaluran anggaran perlu diawasi ketat agar tepat sasaran dan tidak terserap habis hanya untuk biaya birokrasi.

Menatap Indonesia Emas 2045

Gambar Ilustrasi Indonesai Emas 2045

Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia, dengan pendapatan per kapita tinggi dan kualitas hidup setara negara maju. Mencapai visi ini membutuhkan SDM yang tidak hanya terdidik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan berdaya saing global.

Pendidikan adalah pondasi untuk mencapai semua itu. Setiap rupiah yang diinvestasikan untuk pendidikan hari ini akan menghasilkan dividen ekonomi di masa depan. Semakin cepat dan merata peningkatan kualitas pendidikan, semakin besar peluang Indonesia memanfaatkan bonus demografi dan melompat menjadi kekuatan ekonomi baru dunia.

Ajakan untuk Semua Pihak

Pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Dunia usaha, masyarakat sipil, dan individu memiliki peran masing-masing. Perusahaan bisa berinvestasi dalam pelatihan dan magang, organisasi masyarakat bisa menyediakan beasiswa, dan setiap orang tua bisa memastikan anaknya mendapat dukungan belajar yang memadai.

Sebagai warga negara, kita juga bisa berkontribusi dengan mendorong kebijakan publik yang berpihak pada pendidikan berkualitas, serta mengawasi pelaksanaannya. Pendidikan bukan hanya tentang membangun sekolah, tetapi juga membangun masa depan bangsa.

Penutup:

Pendidikan adalah tiket menuju kemajuan. Tanpa pendidikan berkualitas, visi Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi cita-cita di atas kertas. Namun, dengan komitmen bersama, investasi yang tepat, dan pemerataan akses, kita bisa menjadikan pendidikan sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya alam yang kita miliki, tetapi oleh seberapa terdidiknya generasi penerus kita.