Filsafat Hidup: Anda Pasti Bisa Bila Anda Pikir Bisa

Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"You can if you think you can" atau “Anda pasti bisa bila Anda pikir bisa” merupakan salah satu gagasan yang sangat populer dari Norman Vincent Peale. Kalimat sederhana ini mengandung kekuatan yang luar biasa karena menyentuh inti perkembangan manusia, yakni keyakinan terhadap diri sendiri. Selama bertahun-tahun, tema ini menjadi salah satu materi yang sering saya sampaikan dalam berbagai kegiatan kepemimpinan bagi kaum muda di Civita.
Saya masih mengingat bagaimana banyak peserta datang dengan keraguan, ketakutan, dan rasa tidak percaya diri yang cukup besar. Mereka merasa tidak memiliki kemampuan yang istimewa, kurang berani tampil, dan cenderung meragukan masa depannya sendiri. Namun, setelah melalui proses pembelajaran, refleksi, dan pendampingan, banyak dari mereka mulai mengalami perubahan cara pandang terhadap dirinya.
Kesaksian yang mereka sampaikan beberapa waktu kemudian sungguh menggembirakan. Ada yang akhirnya berani menjadi pemimpin organisasi, ada yang mampu menyelesaikan studi dengan baik, ada pula yang berhasil mengembangkan usaha atau terlibat aktif dalam kegiatan sosial.
Perubahan itu tidak terjadi karena mereka tiba-tiba memperoleh kemampuan baru secara instan, melainkan karena mereka mulai percaya bahwa dirinya memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Dari tidak yakin menjadi yakin, dan dari yakin menjadi mampu melakukan hal-hal baik yang berkualitas. Pengalaman tersebut semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa cara seseorang memandang dirinya sendiri sering kali menjadi faktor yang menentukan keberhasilannya.
Dalam konteks pengembangan diri, personal branding bukanlah sekadar soal pencitraan atau membangun popularitas. Personal branding yang sehat berangkat dari pemahaman yang benar tentang siapa diri kita, apa kekuatan yang kita miliki, dan bagaimana kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Banyak orang salah memahami personal branding sebagai upaya untuk terlihat hebat di hadapan publik. Padahal yang jauh lebih penting adalah membangun kualitas diri yang sesungguhnya. Reputasi yang baik bukan dibangun oleh kata-kata, melainkan oleh karakter, kompetensi, dan konsistensi tindakan.
Belum lama ini, dalam sebuah kegiatan di Ketapang, saya berkesempatan memberikan materi mengenai rebranding personal dan lembaga. Dalam kesempatan tersebut saya mengajak para peserta untuk melihat hidup dari perspektif yang lebih luas. Saya mengatakan bahwa kata kunci kehidupan adalah kesempatan.
Hidup pada dasarnya merupakan rangkaian kesempatan yang diberikan kepada manusia. Kesempatan untuk belajar, bertumbuh, memperbaiki diri, dan terutama kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama. Tidak semua orang mendapatkan peluang yang sama, tetapi setiap orang selalu memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang bermakna dengan sumber daya yang dimilikinya.
Sering kali kita terlalu fokus pada keterbatasan sehingga lupa melihat peluang yang ada di depan mata. Kita mengeluhkan apa yang tidak kita miliki, tetapi mengabaikan potensi yang sudah tersedia. Padahal sejarah menunjukkan bahwa banyak orang besar lahir bukan dari situasi yang sempurna, melainkan dari kemampuan mereka memanfaatkan kesempatan yang ada. Mereka tidak menunggu keadaan ideal untuk bertindak. Mereka mulai dari apa yang dimiliki, dari tempat mereka berada, dan dengan kemampuan yang tersedia saat itu.
Di sinilah pentingnya pola pikir positif. Berpikir positif bukan berarti menutup mata terhadap kesulitan atau berpura-pura bahwa semua masalah tidak ada. Berpikir positif berarti memiliki keberanian untuk melihat kemungkinan di tengah keterbatasan.
Orang yang berpikir positif tidak menyangkal adanya tantangan, tetapi percaya bahwa tantangan dapat dihadapi dan diatasi. Pola pikir seperti ini melahirkan optimisme, kreativitas, dan daya juang yang tinggi. Sebaliknya, pola pikir negatif sering kali membuat seseorang menyerah bahkan sebelum mencoba.
Dalam berbagai kesempatan, saya sering menggunakan falsafah pohon pisang sebagai ilustrasi kehidupan. Pohon pisang memiliki karakteristik yang menarik. Ia selalu berusaha mencari arah datangnya sinar matahari.
Meskipun tumbuh di lingkungan yang tidak ideal, batang dan daunnya akan bergerak menuju sumber cahaya yang memungkinkan dirinya berkembang secara optimal. Bagi saya, pohon pisang mengajarkan tentang pentingnya orientasi hidup. Manusia yang memiliki harapan akan selalu mencari jalan menuju pertumbuhan. Ia tidak membiarkan dirinya terjebak dalam kegelapan pesimisme. Sebaliknya, ia terus bergerak menuju cahaya peluang, pembelajaran, dan pengembangan diri.
Selain falsafah pisang, saya juga sering menggunakan ilustrasi pendidikan ala karet. Pohon karet dikenal sebagai tanaman yang memiliki daya tahan tinggi dan mampu menghasilkan nilai ekonomi melalui proses yang panjang.
Getah yang berkualitas tidak muncul secara instan, tetapi melalui pertumbuhan yang konsisten dan ketahanan menghadapi berbagai kondisi. Demikian pula pendidikanyang baik seharusnya menghasilkan manusia yang tangguh. Pendidikan bukan hanya soal memperoleh nilai akademik yang tinggi, melainkan juga membangun karakter yang kuat, daya juang yang kokoh, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Kita hidup pada era yang penuh dinamika. Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan dan transformasi digital, telah mengubah banyak aspek kehidupan. Dalam situasi seperti ini, kemampuan teknis memang penting, tetapi karakter tetap menjadi faktor pembeda yang utama.
Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat dan lebih efisien, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan integritas, kepedulian, empati, tanggung jawab, dan semangat melayani. Oleh karena itu, personal branding yang relevan pada masa kini perlu dibangun di atas fondasi karakter yang kuat dan komitmen untuk memberikan manfaat bagi sesama.
Pada akhirnya, tujuan pengembangan diri bukanlah agar kita menjadi terkenal, melainkan agar kita menjadi berguna. Kehadiran kita hendaknya membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Dalam tradisi Kristiani, manusia dipanggil menjadi garam dan terang dunia. Garam memberi rasa dan menjaga kualitas, sedangkan terang membantu orang lain menemukan arah. Setiap orang memiliki kesempatan untuk memainkan peran tersebut sesuai dengan kapasitas dan panggilannya masing-masing.
Karena itu, jangan biarkan keraguan menguasai hidup. Jangan terlalu cepat mengatakan bahwa diri kita tidak mampu. Percayalah pada potensi yang telah dianugerahkan Tuhan, kembangkan kemampuan yang dimiliki, dan gunakan setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan. Hidup memang tidak selalu mudah dijalani. Akan ada kegagalan, kritik, dan berbagai hambatan yang menghadang.
Namun, selama kita tetap memelihara keyakinan, berpikir positif, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat, maka peluang untuk bertumbuh akan selalu terbuka. Sebab sering kali batas terbesar bukanlah keadaan di luar diri kita, melainkan cara kita memandang diri sendiri. Dan sebagaimana diingatkan Norman Vincent Peale, Anda pasti bisa bila Anda pikir bisa.
